Kisah Veteran Perang Peranakan Tionghoa yang Sambung Hidup dengan Melukis
Selasa, 09 November 2021 - 07:53 WIB
loading...
A
A
A
Masa-masa perjuangan itu banyak menjadi inspirasi untuk dituangkan di atas kanvas. Bukan hanya mahir menggunakan cat warna, dia juga piawi membuat lukisan monokrom dengan arang kayu. Selain bakat, dia juga mendalami ilmu lukis dari sang maestro Basuki Adullah.
Mengisi hari tuanya, Trisno masih produktif melukis di rumahnya Jalan Mulawarman Banyumanik Semarang, bersama istrinya. Karya lukisnya dijual dengan harga variatif, seperti lukisan potret ukuran 60x50 cm dipatok Rp1 juta-1,5 juta. "Saya dapat uang tunjangan veteran sebesar Rp2,6 juta per bulan," tuturnya.
Sudah ada 100 lebih lukisan realis yang ia hasilkan. Corak lukisannya punya ciri khas, karena menyimpan rekam jejak sejarah Bangsa Indonesia. Lukisannya telah merambah ke sejumlah negara seperti Rusia, Jerman, Australia, dan Jepang.
Mengisi hari tuanya, Trisno masih produktif melukis di rumahnya Jalan Mulawarman Banyumanik Semarang, bersama istrinya. Karya lukisnya dijual dengan harga variatif, seperti lukisan potret ukuran 60x50 cm dipatok Rp1 juta-1,5 juta. "Saya dapat uang tunjangan veteran sebesar Rp2,6 juta per bulan," tuturnya.
Sudah ada 100 lebih lukisan realis yang ia hasilkan. Corak lukisannya punya ciri khas, karena menyimpan rekam jejak sejarah Bangsa Indonesia. Lukisannya telah merambah ke sejumlah negara seperti Rusia, Jerman, Australia, dan Jepang.
(eyt)
Lihat Juga :