Budaya Ukir hingga Tarian Suku Kamoro Hadir di Senayan Park Jakarta
Sabtu, 06 November 2021 - 14:24 WIB
loading...
A
A
A
“Workshop digelar sebanyak tiga sesi setiap hari, selama 50 menit, mulai pukul 13.00 WIB. Peserta dapat mendaftar melalui akun Instagram Maramowe Foundation dan membayar biaya sebesar Rp. 100.000. Sesi workshop akan mengajak peserta untuk berpetualang menjadi seniman ukir Kamoro, termasuk bermain musik tradisional dan merias wajah,” kata Luluk.
Yayasan Maramowe selama ini dikenal memiliki komitmen dalam upaya membantu seniman Kamoro untuk melestarikan sebagian aspek dari budaya warisan leluhur. Ketika larangan penyelenggaraan ritual adat diberlakukan oleh pemerintahan Belanda dan pengaruh agama pada awal hingga akhir abad ke-19, karya ukir Kamoro menjadi kehilangan makna, masa kelam bagi para seniman. Berkat pendampingan berkesinambungan yang dilakukan Yayasan Maramowe dengan dukungan PT Freeport Indonesia selama lebih dari dua dasawarsa, semangat mengukir bangkit Kembali dan proses regenerasi juga berlanjut dengan baik.
Meski bergerak dalam bidang usaha yang berbeda, Yayasan Maramowe dan Yougwa Danau Sentani memiliki visi dan misi yang sama untuk mengenalkan dan mempromosikan Papua. Membuka peluang untuk bekerja bersama demi membantu para seniman Kamoro dalam mendekatkan produk kerajinan mereka kepada pasar di Jakarta. Pameran dan penjualan karya ukir dan anyam ini menjadi langkah awal yang baik, selanjutnya ukiran dan anyaman pengerajin dari Suku Kamoro akan dijual permanen di restoran Yougwa Danau Sentani. Seluruh hasil penjualan akan diserahkan kepada pengerajin yang tinggal di Kabupaten Mimika melalui Yayasan Maramowe sebagai pembina mereka.
“Semakin banyak karya ukir dan anyam terjual, maka para pengerajin akan terus berkarya. Dengan demikian tercapai upaya untuk membantu para seniman melestarikan budaya warisan leluhur mereka,” tukas Luluk. Baca juga: Karya Trimatra Seniman Muda Salihara
Yayasan Maramowe selama ini dikenal memiliki komitmen dalam upaya membantu seniman Kamoro untuk melestarikan sebagian aspek dari budaya warisan leluhur. Ketika larangan penyelenggaraan ritual adat diberlakukan oleh pemerintahan Belanda dan pengaruh agama pada awal hingga akhir abad ke-19, karya ukir Kamoro menjadi kehilangan makna, masa kelam bagi para seniman. Berkat pendampingan berkesinambungan yang dilakukan Yayasan Maramowe dengan dukungan PT Freeport Indonesia selama lebih dari dua dasawarsa, semangat mengukir bangkit Kembali dan proses regenerasi juga berlanjut dengan baik.
Meski bergerak dalam bidang usaha yang berbeda, Yayasan Maramowe dan Yougwa Danau Sentani memiliki visi dan misi yang sama untuk mengenalkan dan mempromosikan Papua. Membuka peluang untuk bekerja bersama demi membantu para seniman Kamoro dalam mendekatkan produk kerajinan mereka kepada pasar di Jakarta. Pameran dan penjualan karya ukir dan anyam ini menjadi langkah awal yang baik, selanjutnya ukiran dan anyaman pengerajin dari Suku Kamoro akan dijual permanen di restoran Yougwa Danau Sentani. Seluruh hasil penjualan akan diserahkan kepada pengerajin yang tinggal di Kabupaten Mimika melalui Yayasan Maramowe sebagai pembina mereka.
“Semakin banyak karya ukir dan anyam terjual, maka para pengerajin akan terus berkarya. Dengan demikian tercapai upaya untuk membantu para seniman melestarikan budaya warisan leluhur mereka,” tukas Luluk. Baca juga: Karya Trimatra Seniman Muda Salihara
(mhd)
Lihat Juga :