Ziarah Puja Bhakti Raja Hayam Wuruk demi Langgengkan Kekuasaan dan Hormati Leluhur

Kamis, 04 November 2021 - 06:49 WIB
loading...
Ziarah Puja Bhakti Raja...
Raja Hayam Wuruk dan sisa peninggalan kerajaan Majapahit. Foto: Ilustrasi
A A A
Raja Hayam Wuruk gemar berziarah ke tempat suci untuk melakukan puja bhakti. Hal ini dilakukan Raja Majapahit yang terkenal ini untuk menghormati leluhurnya.

Kerajaan Majapahit mencapai kejayaannya di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk (1350-1389), meski telah membawa kejayaan bagi Majapahit, namun sang raja tidak lupa diri.

Perjalanan ke tempat-tempat suci untuk berziarah yakni di Candi Sumberjati atau Candi Simping dan Candi Panataran atau Candi Palah di Blitar.

Baca juga: Hayam Wuruk Bangun Kolam Citra Wulan sebagai Penebus Kematian Putri Sunda

Candi Sumberjati yang terletak di daerah Blitar selatan adalah sebuah candi pendharmaan Kertarajasa, pendiri dan raja pertama Majapahit. Dia adalah leluhur raja Hayam Wuruk, sehingga sudah kewajibannya untuk mengunjungi bahkan memelihara tempat pendharmaan leluhur tersebut.

Perjalanan sang raja itu tercatat dalam buku "Menuju Puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit," karya Slamet Muljana.

Perjalanan Hayam Wuruk juga ditandai oleh kegiatan dan kunjungannya ke tempat suci guna menghormati leluhur dinasti Majapahit. Tempat-tempat yang mendapat perhatian khusus adalah Singhasari, Kagenengan, Kidal, dan Jajaghu (candi Jago).

Di Singhasari, Hayam Wuruk melakukan puja bhakti di sebuah dharma atau candi pendharmaan milik buyutnya, Kertanegara, raja terakhir Singhasari. Kertanegara didharmakan di Singhasari dengan arca berwujud Siwa-Buddha.

Setelah melakukan puja, raja beristirahat selama beberapa waktu sambil menikmati keindahan alam di Kedhung Biru dan Bureng.

Dari Singhasari, raja beriringan ke arah selatan menuju Kagenengan. Di Kagenengan, raja melakukan puja pada candi pendharmaan Sri Ranggah Rajasa, Ken Angrok, raja pertama Tumapel dan pendiri wangsa Rajasa.

Baca juga: Siasat Gajah Mada Habisi Patih Kebo Wawira di Sumur dengan Ditimbun Batu Kapur

Perjalanan sang raja itu juga tercatat dalam teks Desawarnana (Nagarakretagama) karya Mpu Prapanca, yang turut dalam perjalanan tersebut. Diceritakan dalam teks Desawarnana, TH Pigeaud dalam Java in the 14th Century: A Study in Cultural History Vol. IV mencatat bahwa Hayam Wuruk melakukan enam kali perjalanan mengunjungi Pajang (1353), Lasem (1354), Lodaya (1357), Lumajang (1359), Tirib Sompur (1360), Palah Blitar (1361), dan Simping (1363).

Hayam Wuruk juga berkunjung ke pendharmaan candi Kidal, 11 km tenggara kota Malang, yang dibangun untuk Anusanatha (Anusapati), pengganti Ken Angrok yang wafat tahun 1170 saka atau 1248 M. Selepas memberi sembahan, Hayam Wuruk melanjutkan perjalanan dan tiba di desa Tumpang yang terletak 6 km sebelah timur Kidal.

Terdapat sebuah bangunan pedharmaan (dharma Jajaghu) untuk Wisnuwardhana, raja ketiga Tumapel. Wisnuwardhana didharmakan sebagai Siwa di Waleri dan sebagai Buddha di candi Jago. Di candi Jago, hingga kini terdapat “sebuah arca Buddha dalam bentuk Amoghapasa, yang dianggap sebagai wujud Wisnuwardhana,” tulis Bernet Kempers, ahli purbakala, dalam Ancient Indonesian Art.

Dalam buku "Menuju Puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit", karya Slamet Muljana, juga mencatat, selain melakukan perjalanan ke tempat-tempat suci para leluhur, Raja Hayam Wuruk juga kerap kali melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan keliling wilayah kekuasaan Majapahit.

Sang raja kerap keliling daerah setelah musim penghujan mengadakan perjalanan ke daerah dekat - dekat Majapahit, seperti Jalagiri, Blitar, Polaman, Daha, dan sebagainya. Daerah bernama Desa Perdikan Jalagiri yang terletak tidak jauh sebelah timur Majapahit, serta Wewe Pikatan di Tjandi Lima.

Biasanya Hayam Wuruk berkunjung ke lokasi tersebut dengan berjalan kaki dan biasanya diiringi segenap pembesar - pembesar pemerintah pusat Majapahit.

Tercatat pada tahun 1355 Masehi, Hayam Wuruk juga melakukan perjalanan lumayan jauh ke Pajang, kemudian ke Lasem, yang berada di Rembang, Jawa Tengah pada 1354 Masehi, perjalanan ke pantai selatan (1357 M), dia juga pernah melalui hutan terus ke Lodaja, Teto, Sideman, pada 1359 Masehi. Hayam Wuruk juga tercatat pernah mengunjungi Lumajang sekitar bulan Agustus - September 1359 Masehi atau 1281 Saka, pada peninggalan agama Hindu.

Perhatian Hayam Wuruk terhadap desa - desa dan bangunan ternyata juga disambut oleh para penghuni desa dan warga yang didatangi. Perjalanan berkeliling itu dimaksud untuk menyaksikan sendiri keadaan kehidupan rakyat kecil di desa - desa di wilayah Majapahit.

Baca juga: Tuah Sumpah Palapa Gajah Mada yang Membungkam Kecongkakan Para Pembesar Kerajaan Majapahit

Kunjungan ini juga sekaligus untuk menyaksikan pelaksanaan amanat beliau sendiri kepada petugas pemerintah pusat di daerah. Mengingat Hayam Wuruk adalah pribadi yang tak puas dengan hanya menerima laporan saja. Hayam Wuruk ingin menyaksikan sendiri keadaan rakyat di desa - desa yang sulit dikunjungi orang sekalipun.

Oleh sebab itu Hayam Wuruk kerap kali menelusuri wilayah - wilayah di sulit diakses, bahkan hingga tepi laut. Konon perjalanan Hayam Wuruk dan pejabat Majapahit ini kerap memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Betapa pun tempat yang sulit dijangkau dan tersembunyi, Hayam Wuruk menyempatkan diri untuk mengunjungi rakyatnya di pelosok wilayah. Kunjungan inilah yang juga membuat masyarakat nyaman dan aman. Bahkan para pendeta, para resi, dan para petapa yang kerap tinggal di pantai, gunung, hutan belantara, dan tempat - tempat sunyi untuk bertapa brata, bersemedi merasa aman. (sumber: wikipedia dan buku)
(nic)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Markas Judi Online Hayam...
Markas Judi Online Hayam Wuruk Mirip di Kamboja dan Myanmar
Bareskrim Ungkap Peran...
Bareskrim Ungkap Peran 4 WNI dalam Sindikat Judi Online Internasional di Hayam Wuruk
Perputaran Uang Judi...
Perputaran Uang Judi Online Hayam Wuruk Capai Belasan Triliun
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
Polisi Sita Ratusan...
Polisi Sita Ratusan Perangkat Elektronik di Markas Judi Online Hayam Wuruk, Ini Daftarnya
Bareskrim: Alamat Server...
Bareskrim: Alamat Server Judi Online Hayam Wuruk di Brasil, China, hingga Vietnam
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Rekomendasi
Suporter Ikonik DR Kongo...
Suporter Ikonik DR Kongo Gagal Masuk AS Gara-gara Visa Ditolak
Mengapa Salat Harus...
Mengapa Salat Harus Menghadap Kiblat? Ini 7 Hikmah dan Makna Mendalamnya
Roy Suryo Siapkan Rekaman...
Roy Suryo Siapkan Rekaman Video Penangkapannya sebagai Bukti Praperadilan
Berita Terkini
Manfaat MBG Dirasakan...
Manfaat MBG Dirasakan Petani dan Pedagang di Pedesaan dan Daerah 3T
Jro Bima, Memperluas...
Jro Bima, Memperluas Pengabdian untuk Bali lewat Jalur Politik
Polisi Amankan Sopir...
Polisi Amankan Sopir Truk Kecelakaan Maut di Bekasi
Kronologi Kecelakaan...
Kronologi Kecelakaan Maut Truk Rem Blong di Bekasi Timur, 1 Orang Tewas dan 5 Luka
Kecelakaan Maut Truk...
Kecelakaan Maut Truk Tabrak Sejumlah Motor di Bekasi, Polisi Periksa Saksi dan CCTV
Truk Tabrak Motor di...
Truk Tabrak Motor di Bekasi Timur: 1 Orang Tewas, 5 Luka-luka
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved