210 Warga Bandung Barat Terserang DBD, 1 Meninggal Dunia
Selasa, 02 November 2021 - 20:09 WIB
loading...
Nyamuk demam berdarah. Foto: Istimewa/Pixabay
A
A
A
BANDUNG BARAT - Sebanyak 210 warga Kabupaten Bandung Barat (KBB) diserang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), sepanjang Januari-September 2021. Dari jumlah itu, satu orang dilaporkan meninggal dunia.
Kepala Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan, KBB, Jajang Mulyana mengatakan, angka tersebut terbilang tinggi, dikarenakan memang KBB termasuk daerah endemik DBD.
"KBB adalah daerah endemis DBD sehingga memang setiap tahunnya selalu muncul kasus. Dari kasus yang muncul kebanyakan terjadi di Puskesmas Tagog Apu dan Padalarang," tuturnya, Selasa (2/11/2021).
Baca juga: Angka Perceraian ASN Bandung Barat Tinggi, Salah Satu Penyebabnya Perselingkuhan
Pihaknya berupaya agar kasus yang muncul tidak semakin menyebar dan menimbulkan korban lagi. Termasuk juga melakukan fogging ke sejumlah lingkungan masyarakat. Hanya saja karena kuota terbatas, maka daerah yang difogging adalah yang jadi prioritas.
"Kuota fogging kita di tahun ini hanya untuk 13 lokus saja, makanya yang muncul kasus, jadi prioritas untuk didatangi, supaya tidak menyebar ke daerah lain. Seperti di Desa Tanimulya, Desa Campaka Mekar, Desa Batulayang, Desa Kertamukti, dan Desa Ciburuy," sebutnya.
Menurutnya, hingga saat ini anggaran untuk fogging tersebut sudah terserap seluruhnya. Terakhir fogging dilakukan selama Agustus-Oktober di enam lokus.
Kepala Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan, KBB, Jajang Mulyana mengatakan, angka tersebut terbilang tinggi, dikarenakan memang KBB termasuk daerah endemik DBD.
"KBB adalah daerah endemis DBD sehingga memang setiap tahunnya selalu muncul kasus. Dari kasus yang muncul kebanyakan terjadi di Puskesmas Tagog Apu dan Padalarang," tuturnya, Selasa (2/11/2021).
Baca juga: Angka Perceraian ASN Bandung Barat Tinggi, Salah Satu Penyebabnya Perselingkuhan
Pihaknya berupaya agar kasus yang muncul tidak semakin menyebar dan menimbulkan korban lagi. Termasuk juga melakukan fogging ke sejumlah lingkungan masyarakat. Hanya saja karena kuota terbatas, maka daerah yang difogging adalah yang jadi prioritas.
"Kuota fogging kita di tahun ini hanya untuk 13 lokus saja, makanya yang muncul kasus, jadi prioritas untuk didatangi, supaya tidak menyebar ke daerah lain. Seperti di Desa Tanimulya, Desa Campaka Mekar, Desa Batulayang, Desa Kertamukti, dan Desa Ciburuy," sebutnya.
Menurutnya, hingga saat ini anggaran untuk fogging tersebut sudah terserap seluruhnya. Terakhir fogging dilakukan selama Agustus-Oktober di enam lokus.
Lihat Juga :