Perjuangan Mahmudah, Nenek 3 Cucu Sopir Truk Tangki Pengantar Ribuan Liter BBM
Minggu, 31 Oktober 2021 - 17:33 WIB
loading...
A
A
A
“Biasanya kita jalan mulai pagi pukul 05.00 WIB ambil dari depo, lalu kirim ke SPBU tujuan sampai pukul 08.00 WIB. Kita enggak bisa milih-milih lokasi tujuan, jadi sudah diatur ya kita tinggal jalankan saja. Kalau (pengantaran) kota-kota kita terima, tapi kalau keluar kota ya kita jalankan. Kadang sampai depo lagi itu bisa jam 11 malam atau jam 2 dinihari keesokan harinya, kalau pas luar kota jauh,” beber dia.
Baca juga: Diajak Kencan Bule Prancis, Erni Curi Kartu ATM dan Kuras Saldo Rp46,5 Juta
Keselamatan berkendara selalu menempati urutan pertama ketika Mahmudah hendak melakukan pengantaran BBM. Selain mengenakan sabuk keselamatan, dia juga berpantang menggunakan ponsel ketika berkendara.
“Semua kendaraan sebelum jalan sudah dipastikan kelayakannya. Misalnya ban tidak boleh ada yang gundul, kembangannya harus terlihat. Kondisi mesin juga harus bagus. Termasuk kenek harus ada, tidak diizinkan mengirim BBM tanpa didampingi kenek,” ungkap dia.
Perempuan kelahiran Purworejo 8 September 1972 itu menyampaikan mulai akrab dengan kemudi kendaraan roda empat sejak usia SD. Dia masih ingat ketika orangtuanya membeli truk untuk mengantar dagangan kelapa ke Semarang.
“Dulu bapak sering mengantar ibu ke Semarang. Alhamdulillah saat itu saya masih SD, bapak sudah bisa membeli gerobak (truk). Di situ saya mengamati bapak ketika nyetir, dan saya tertarik. Kemudian saya bisa maju-mundur dan bawa sendiri. Pernah jadi sopir truk pasir,” lugasnya.
Kemudian pada 1995 dia menjadi sopir bus Jurusan Purworejo-Magelang PP. Berlanjut pada 2007, perempuan yang gemar olahraga bulutangkis dan tenis meja itu berpindah mengawaki bus besar pariwisata. Dari semula trayek lokal, kini merambah lintas pulau termasuk Bali.
“Kira-kira sampai 2011, di situ saya rencana sudah mau berhenti. Mau di rumah saja, apalagi SIM juga sudah mati, tidak saya perpanjang. Ternyata ada teman yang bilang kalau adiknya kerja di situ (sebagai sopir tangki Pertamina). Saya lalu diajak menjadi awak mobil tangki (AMT), dan bertahan sampai sekarang,” ungkapnya.
Baca juga: Diajak Kencan Bule Prancis, Erni Curi Kartu ATM dan Kuras Saldo Rp46,5 Juta
Keselamatan berkendara selalu menempati urutan pertama ketika Mahmudah hendak melakukan pengantaran BBM. Selain mengenakan sabuk keselamatan, dia juga berpantang menggunakan ponsel ketika berkendara.
“Semua kendaraan sebelum jalan sudah dipastikan kelayakannya. Misalnya ban tidak boleh ada yang gundul, kembangannya harus terlihat. Kondisi mesin juga harus bagus. Termasuk kenek harus ada, tidak diizinkan mengirim BBM tanpa didampingi kenek,” ungkap dia.
Perempuan kelahiran Purworejo 8 September 1972 itu menyampaikan mulai akrab dengan kemudi kendaraan roda empat sejak usia SD. Dia masih ingat ketika orangtuanya membeli truk untuk mengantar dagangan kelapa ke Semarang.
“Dulu bapak sering mengantar ibu ke Semarang. Alhamdulillah saat itu saya masih SD, bapak sudah bisa membeli gerobak (truk). Di situ saya mengamati bapak ketika nyetir, dan saya tertarik. Kemudian saya bisa maju-mundur dan bawa sendiri. Pernah jadi sopir truk pasir,” lugasnya.
Kemudian pada 1995 dia menjadi sopir bus Jurusan Purworejo-Magelang PP. Berlanjut pada 2007, perempuan yang gemar olahraga bulutangkis dan tenis meja itu berpindah mengawaki bus besar pariwisata. Dari semula trayek lokal, kini merambah lintas pulau termasuk Bali.
“Kira-kira sampai 2011, di situ saya rencana sudah mau berhenti. Mau di rumah saja, apalagi SIM juga sudah mati, tidak saya perpanjang. Ternyata ada teman yang bilang kalau adiknya kerja di situ (sebagai sopir tangki Pertamina). Saya lalu diajak menjadi awak mobil tangki (AMT), dan bertahan sampai sekarang,” ungkapnya.
Lihat Juga :