Kiai Bukhori Tolak Pakai Piring Keramik, Simbol Perlawanan saat Dibuang Belanda ke Banda Neira

Minggu, 24 Oktober 2021 - 17:13 WIB
loading...
A A A
Ada cerita bagaimana Kiai Bukhori tetap aktif melakukan syiar Islam. Sebagai ulama, rajin mengunjungi masjid-masjid, dan tidak sedikit warga setempat yang menjadi santrinya. Di tempat tinggalnya, Kiai Bukhori juga tetap mengamalkan Tarekat Akmaliyah, meski dilakukan sembunyi-sembunyi.

Ada yang menyebut Tarekat Akmaliyah sebagai Tarekat Syatariah. Tarekat yang diikuti para bekas laskar Pangeran Diponegoro. "Karena tetap diawasi Belanda, ngaji tarekat ini dilakukan secara tertutup, sembunyi -sembunyi," terang Gus Bobby. Persinggungan Kiai Bukhori dengan Bung Hatta di Banda Neira tidak lama. Karena begitu Bung Hatta dan Sjahrir menjejakkan kaki di Banda Neira (1936), dua tahun berikutnya Kiai Bukhori bertolak kembali ke Jawa. Terkait persinggungan itu Gus Bobby juga mendapat cerita.

Saat itu para tahanan politik, termasuk Kiai Bukhori tengah berkumpul di tempat Cipto Mangunkusumo. Ada Hatta, Sutan Sjahrir, Iwa Kusumasumantri dan Cipto sendiri. Melihat kayu bekas serta buku-buku yang berserak, Kiai Bukhori yang memiliki tradisi literasi yang kuat, berinisiatif membuat rak buku. "Yang cerita sejarawan setempat. Mungkin karena Kiai Bukhori sudah sepuh, rak buku buatannya kurang presisi," kata Gus Bobby.

Sepeninggal Kiai Bukhori (Pulang ke Jawa), Jauharuddin Johar atau John Johar, murid Kiai Bukhori dipercaya melanjutkan syiar agama di Banda Neira. Bung Hatta yang meninggalkan Banda Neira tahun 1942, disebut banyak menggali pengetahuan Islam dari John Johar. Soal Islam Bung Hatta banyak berdiskusi dengan John Johar. "Karenanya kalau mengacu konsep sanad, Bung Hatta banyak belajar agama Islam dari Kiai Bukhori," terang Gus Bobby.

Dari Banda Neira, Kiai Bukhori membawa oleh-oleh tiga pasang pohon Pala dan dua kerang laut berukuran besar. Sepasang pala ditanam di Istana Gebang Kota Blitar, rumah masa kecil Bung Karno. Sepasang lagi ia tanam di Ponpes Jatinom yang kemudian bernama Maftahul Uluum dan sepasang lainnya diminta kerabat untuk ditanam di tempatnya. Menurut Gus Bobby, pohon pala peninggalan buyutnya itu hingga kini masih ada.

Baca juga: Kisah Kolonel Masturi Tumpas Gerombolan Pasukan PKI di Pengalengan

"Sampai sekarang pohon Pala itu masih ada. Dan sepulang dari ekspedisi Banda Neira saya juga membawa bibit pala juga," kata Gus Bobby.

Kembali dari pengasingan (tahun 1938), Kiai Bukhori kembali aktif ngaji di Ponpes Jatinom Blitar. Terutama kitab kuning. Pesantren Jatinom sejak awal berdiri tidak mengajarkan santri ilmu kanuragan. Kiai Bukhori lebih mengedepankan tradisi literasi.

Menurut Gus Bobby, tradisi mengaji Alquran beserta tafsir, hadist, Nahwu Sharaf, Ilmu Fiqih dan sejumlah kitab klasik terus berjalan hingga kini. "Di pesantren Jatinom tidak mengajarkan kanuragan. Tetapi lebih ke literasi," terang Gus Bobby.

Dari pernikahannya dengan Khadijah, Kiai Bukhori dikaruniai 9 anak, yang dua di antaranya putra. Saat pemilu pertama di Indonesia tahun 1955. Kiai Shofwan, salah satu putra Kiai Bukhori merupakan pendiri sekaligus Ketua Partai NU Blitar. Kiai Bukhori tutup usia pada tahun 1945 dan dimakamkan di lingkungan Ponpes Jatinom, Kanigoro, Kabupaten Blitar.

Sampai akhir hayat, sikapnya terhadap kolonialisme tidak berubah, tetap menolak menggunakan piring keramik dan menganggap keberadaan Belanda di Indonesia adalah ilegal.
(nic)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
KH Hasanuddin Kriyani...
KH Hasanuddin Kriyani Resmi Menjadi Sesepuh Pondok Buntet Pesantren
Pengacara Santriwati...
Pengacara Santriwati Korban Pencabulan di Pati Tolak Disogok Rp400 Juta untuk Cabut Laporan
Modus Kiai Ponpes Pati...
Modus Kiai Ponpes Pati Cabuli Santriwati Terungkap: Dalih Hilangkan Penyakit hingga Kekerasan
2 Petugas Lapas Blitar...
2 Petugas Lapas Blitar Diperiksa terkait Dugaan Jual Beli Sel Khusus Rp100 Juta
Sosok Mayor Madmuin...
Sosok Mayor Madmuin Hasibuan, Pimpin TKR Laoet Bertempur Melawan Tentara Sekutu
Kisah Letkol Imam Syafiie...
Kisah Letkol Imam Syafiie Tolak Tawaran Bung Karno Jadi Komandan Cakrabirawa
Sidang Lengkap IV Dewan...
Sidang Lengkap IV Dewan Hisbah 2026, Ketum Persis: Fatwa Harus Jadi Solusi Umat
Gus Zainul Arifin, Kiai...
Gus Zainul Arifin, Kiai Muda yang Hadirkan Dakwah Modern Tanpa Tinggalkan Tradisi
Halaqoh Kiai Muda NU...
Halaqoh Kiai Muda NU Soroti Kepemimpinan di PBNU
Rekomendasi
Kejagung Terbitkan Sprindik...
Kejagung Terbitkan Sprindik Baru, Imigrasi Pastikan Pencekalan Febrie Adriansyah Tetap Berlaku
Militer Iran Gempur...
Militer Iran Gempur Sistem Rudal HIMARS AS di Kuwait
Iran Berterima Kasih...
Iran Berterima Kasih pada Warga Yordania karena Bantu Menargetkan Pasukan AS
Berita Terkini
Program Berkelanjutan...
Program Berkelanjutan Kesehatan Jangkau Lebih dari 16.500 Orang
Perkuat Kolaborasi Inovasi...
Perkuat Kolaborasi Inovasi Perikanan, Bupati Bogor Tinjau Fasilitas Raiser Ikan Hias BRIN
Sudah 2 Tahun SDN Kebayoran...
Sudah 2 Tahun SDN Kebayoran Lama 09 Roboh, Pramono: Saya Baru Tahu Pas Viral
Integrasi Satuan Pendidikan,...
Integrasi Satuan Pendidikan, UIN Jakarta: Tak Bergantung pada Satu Putusan PTUN
2 Gudang Besar Narkoba...
2 Gudang Besar Narkoba di Bogor Dibongkar, Polisi Sita Jutaan Butir Obat Keras Ilegal
Pipa Gas Meledak di...
Pipa Gas Meledak di Medan, 1 Tewas dan 2 Orang Lainnya Masih Tertimbun
Infografis
5 Manfaat Makan Kurma...
5 Manfaat Makan Kurma Saat Sahur dan Buka Puasa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved