Kiai Bukhori Tolak Pakai Piring Keramik, Simbol Perlawanan saat Dibuang Belanda ke Banda Neira

Minggu, 24 Oktober 2021 - 17:13 WIB
loading...
A A A
Saat SI pecah, Kiai Bukhori memilih bergabung dengan SI Merah yang sikap perlawanannya terhadap kolonial Belanda lebih radikal. Sejumlah tokoh radikal yang kemudian dicap sebagai komunis berada di Sarekat Rakyat. Semaun, Alimin, Darsono, Tan Malaka dan Haji Misbach.

SI Merah berkantor pusat di Semarang. Sedangkan SI Putih yang kepemimpinannya dipegang Agus Salim, Abdul Moeis, Suryopranoto dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, berpusat di Yogyakarta.

Bagi Gus Bobby, komunis tahun 1926 berbeda dengan komunis tahun 1965. "Pandangan komunis 1926 berbeda dengan komunis 1965," papar Gus Bobby. Pemerintah Kolonial Belanda menangkap Kiai Bukhori pada tahun 1928.

Selain Kiai Bukhori, Belanda juga meringkus Kiai Abdullah Fakih dari Plosokerep, Blitar. Penangkapan Kiai Bukhori muncul dalam pemberitaan surat kabar saat itu. Ada sebanyak 7 koran yang menurunkan laporan, yakni salah satunya koran Belanda De Locomotife. Semua menyebut, penangkapan Kiai Bukhori, seorang adviser de sarekat rakyat kelahiran Kaligintung, Kulonprogo, Yogyakarta.

"Adviser de sarekat rakyat ini mungkin jabatan penasehat atau semacam Dewan Syuro Sarekat Rakyat," kata Gus Bobby. Kiai Bukhori memang berasal dari Kaligintung, Kulonprogo, Yogyakarta.

Baca juga: Dahsyatnya Rajah Aji Kalacakra saat Syekh Subakir Menumbal Tanah Jawa

Sebagaimana laskar Diponegoro yang lain. Paska kalah dalam Perang Jawa (1825-1830), Kiai Bukhori menyelamatkan diri ke Timur. Ia sempat singgah di Ponorogo, Nganjuk dan Pare Kediri, sebelum akhirnya memutuskan bermukim di Blitar.

Pada tahun 1886. Setelah menikahi Khadijah, putri KH Hasan Mustar atau KH Qomarudin yang juga veteran laskar Diponegoro, Kiai Bukhori mendirikan Pondok Pesantren di Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar.

Sejak tahun 1928, Kiai Bukhori dan Kiai Abdullah Fakih menjalani hukuman pengasingan ke Pulau Banda Neira. Saat itu, kata Gus Bobby usia kakek buyutnya sudah 75 tahun. Karena alasan umur, atas ijin Belanda tiga tahun kemudian (tahun 1931) Kiai Shofwan, putra Kiai Bukhori menyusul ke Banda Neira. "Kiai Shofwan saat itu masih berusia 24 tahun dan bujangan. Kiai Shofwan adalah ayah ibu saya," kata Gus Bobby menjelaskan.

Dengan diangkut kapal laut, Kiai Bukhori tiba di Banda Neira sebelum Kongres Sumpah Pemuda. Kehadiran Kiai Bukhori sebagai orang buangan di Banda Neira lebih awal dibanding Bung Hatta dan Sutan Sjahrir. Kolonial Belanda memindahkan Hatta dan Sjahrir ke Banda Neira pada tahun 1836. Sebelumnya keduanya menjalani pengasingan di Digul.

Bersama 12 orang dari Blitar, Gus Bobby belum lama ini melakukan ekspedisi sejarah ke Pulau Banda Neira. Dia mendatangi monumen yang mengabadikan 16 nama tahanan politik di Banda Neira. Pada dinding monumen yang menulis nama Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Iwa Kusumasumantri dan Cipto Mangunkusumo. Tertulis juga nama Kiai Bukhori dan Kiai Abdullah Fakih.

Selama di Banda Neira, Gus Bobby juga banyak mendapat cerita tutur tentang kisah buyutnya. Orang-orang tua di Banda Neira mengenangnya dengan sebutan ulama dari Jawa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
KH Hasanuddin Kriyani...
KH Hasanuddin Kriyani Resmi Menjadi Sesepuh Pondok Buntet Pesantren
Pengacara Santriwati...
Pengacara Santriwati Korban Pencabulan di Pati Tolak Disogok Rp400 Juta untuk Cabut Laporan
Modus Kiai Ponpes Pati...
Modus Kiai Ponpes Pati Cabuli Santriwati Terungkap: Dalih Hilangkan Penyakit hingga Kekerasan
2 Petugas Lapas Blitar...
2 Petugas Lapas Blitar Diperiksa terkait Dugaan Jual Beli Sel Khusus Rp100 Juta
Sosok Mayor Madmuin...
Sosok Mayor Madmuin Hasibuan, Pimpin TKR Laoet Bertempur Melawan Tentara Sekutu
Kisah Letkol Imam Syafiie...
Kisah Letkol Imam Syafiie Tolak Tawaran Bung Karno Jadi Komandan Cakrabirawa
Sidang Lengkap IV Dewan...
Sidang Lengkap IV Dewan Hisbah 2026, Ketum Persis: Fatwa Harus Jadi Solusi Umat
Gus Zainul Arifin, Kiai...
Gus Zainul Arifin, Kiai Muda yang Hadirkan Dakwah Modern Tanpa Tinggalkan Tradisi
Halaqoh Kiai Muda NU...
Halaqoh Kiai Muda NU Soroti Kepemimpinan di PBNU
Rekomendasi
Pertahanan Udara AS...
Pertahanan Udara AS Kewalahan Hadapi Rudal-rudal Iran yang Kian Canggih
Bukan Sakit Biasa, Mas...
Bukan Sakit Biasa, Mas Den Ungkap Kejanggalan sebelum Ayahnya Meninggal
Penampakan Bupati Lombok...
Penampakan Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Pakai Rompi Oranye KPK
Berita Terkini
Program Berkelanjutan...
Program Berkelanjutan Kesehatan Jangkau Lebih dari 16.500 Orang
Perkuat Kolaborasi Inovasi...
Perkuat Kolaborasi Inovasi Perikanan, Bupati Bogor Tinjau Fasilitas Raiser Ikan Hias BRIN
Sudah 2 Tahun SDN Kebayoran...
Sudah 2 Tahun SDN Kebayoran Lama 09 Roboh, Pramono: Saya Baru Tahu Pas Viral
Integrasi Satuan Pendidikan,...
Integrasi Satuan Pendidikan, UIN Jakarta: Tak Bergantung pada Satu Putusan PTUN
2 Gudang Besar Narkoba...
2 Gudang Besar Narkoba di Bogor Dibongkar, Polisi Sita Jutaan Butir Obat Keras Ilegal
Pipa Gas Meledak di...
Pipa Gas Meledak di Medan, 1 Tewas dan 2 Orang Lainnya Masih Tertimbun
Infografis
Saat Sekutu Berhenti...
Saat Sekutu Berhenti Menuruti Donald Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved