Memilukan, Korban Pinjol Terjebak SMS Lalu Diberondong Teror hingga Depresi
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 23:51 WIB
loading...
A
A
A
Dia pun mengaku heran karena tak pernah memberikan persetujuan, baik pinjaman awal maupun susulannya hingga dia mendapatkan tagihan terakhir sebesar Rp2,8 juta. "Kalau (utang) pokoknya yang saya kembalikan harusnya sudah terpenuhi. Tapi, justru ada lagi masuk uang dan pinjamannya naik terus sampai terakhir Rp2,8 juta," terangnya.
Baca juga: Dor!!! Rumah Wakil Ketua IJTI Pengda Papua Barat Ditembak OTK
"Uang yang masuk ke rekening juga tidak pernah saya gunakan sama sekali, dan tenornya pun hanya tujuh hari," sambung dia. Tak lama kemudian, kolektor mulai menerornya. Mulanya, kolektor mengirim pesan singkat dengan kalimat cacian ke WhatsApp (WA) pribadinya.
Tak sampai di situ, kolektor juga mengancam akan menyebarluaskan informasi bahwa dirinya memiliki utang kepada seluruh nomor kontak di ponselnya, hingga dia merasa minder dan takut bertemu orang-orang yang dikenalnya.
"Mereka langsung menghakimi saya, akhirnya saya down secara psikis dan mental. Ada rasa takut ketemu orang karena ada ancaman. Saya khawatir terhadap keluarga saya, sampai sekarang saya juga belum bisa bekerja dengan normal karena ada rasa khawatir ketemu orang yang ada di phone book telepon saya," tutur dia.
Baca juga: Sadis! Pria Pekanbaru Bunuh Istri Siri saat Masih Belum Pakai Baju Usai Bersetubuh
Teror demi teror yang diterimanya mengakibatkan kondisi kesehatan TM semakin menurun. Selain depresi menghadapi teror, dia pun kerap mengalami keram di bagian tangan dan kakinya hingga akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Kawaluyaan Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat.
"Saya kira mau stroke karena posisi tangan dan kaki keram semua. Saya dibawa ke IGD dilakukan berbagai macam cek, ternyata saya kekurangan kalium, efeknya seperti itu," sebut TM yang mengaku masih trauma dengan teror-teror tersebut.
Baca juga: Dor!!! Rumah Wakil Ketua IJTI Pengda Papua Barat Ditembak OTK
"Uang yang masuk ke rekening juga tidak pernah saya gunakan sama sekali, dan tenornya pun hanya tujuh hari," sambung dia. Tak lama kemudian, kolektor mulai menerornya. Mulanya, kolektor mengirim pesan singkat dengan kalimat cacian ke WhatsApp (WA) pribadinya.
Tak sampai di situ, kolektor juga mengancam akan menyebarluaskan informasi bahwa dirinya memiliki utang kepada seluruh nomor kontak di ponselnya, hingga dia merasa minder dan takut bertemu orang-orang yang dikenalnya.
"Mereka langsung menghakimi saya, akhirnya saya down secara psikis dan mental. Ada rasa takut ketemu orang karena ada ancaman. Saya khawatir terhadap keluarga saya, sampai sekarang saya juga belum bisa bekerja dengan normal karena ada rasa khawatir ketemu orang yang ada di phone book telepon saya," tutur dia.
Baca juga: Sadis! Pria Pekanbaru Bunuh Istri Siri saat Masih Belum Pakai Baju Usai Bersetubuh
Teror demi teror yang diterimanya mengakibatkan kondisi kesehatan TM semakin menurun. Selain depresi menghadapi teror, dia pun kerap mengalami keram di bagian tangan dan kakinya hingga akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Kawaluyaan Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat.
"Saya kira mau stroke karena posisi tangan dan kaki keram semua. Saya dibawa ke IGD dilakukan berbagai macam cek, ternyata saya kekurangan kalium, efeknya seperti itu," sebut TM yang mengaku masih trauma dengan teror-teror tersebut.
Lihat Juga :