DNA Mirip Manusia, Orangutan dan Kera Besar Rawan Terinfeksi Virus Corona
Rabu, 22 April 2020 - 07:48 WIB
loading...
A
A
A
Ancaman tersebut sangat membuat para ahli khawatir. Pasalnya, ketiga spesies orangutan yang diklasifikasikan sebagai spesies terancam punah ini akan terancam menuju kepunahan, terutama satu species yang baru diidentifikasi di tahun 2017, yakni orangutan Tapanuli yang diprediksi jumlahnya kurang dari 800 individu. Di tengah ancaman aktivitas manusia seperti penebangan liar hingga proyek pembangunan PLTA, kini Orangutan Tapanuli dihadapkan pada ancaman penularan COVID-19.
“Orangutan adalah hewan yang sebagian hidupnya dihabiskan diatas pepohonan, risiko penularan pada mereka kemungkinannya kecil bila dibandingkan dengan kera besar lainnya, akan tetapi hal itu masih dipertimbangkan karena beberapa dari mereka turun ke permukaan dan bisa menjadi sangat dekat dengan para peneliti. Tentu saja, di tempat perlindungan kemungkinan penularan akan lebih tinggi dibandingkan di alam liar,” tambah Serge.
“Dan khususnya orangutan Tapanuli menjadi perhatian lebih bagi kami, mengingat cara hidup orangutan yang relatif soliter, kemungkinan penyebaran virusnya menjadi akan terbatas tergantung pada berapa lama mereka membawa dan menyebarkannya.”
Bukan sedikit kasus Orangutan yang turun ke permukaan dan bertemu ataupun masuk ke pemukiman warga. Seperti contoh kasus beberapa tahun lalu ketika orangutan masuk ke pemukiman warga di Kalimantan Timur, karena habitatnya yang mulai rusak oleh aktivitas penambangan batu bara. Selanjutnya orangutan Tapanuli yang terjebak di kebun warga dengan badannya yang kurus dan penuh luka. Habitatnya sudah rata dengan tanah yang membuat orangutan berpindah ke daerah perkebunan.
Melihat hal ini, orangutan dan kera besar lainnya perlu menjadi salah satu perhatian di kala pandemic ini sebagai salah satu yang berpotensi tertular dan ancaman menuju kepunahan semakin dekat.
“Orangutan adalah hewan yang sebagian hidupnya dihabiskan diatas pepohonan, risiko penularan pada mereka kemungkinannya kecil bila dibandingkan dengan kera besar lainnya, akan tetapi hal itu masih dipertimbangkan karena beberapa dari mereka turun ke permukaan dan bisa menjadi sangat dekat dengan para peneliti. Tentu saja, di tempat perlindungan kemungkinan penularan akan lebih tinggi dibandingkan di alam liar,” tambah Serge.
“Dan khususnya orangutan Tapanuli menjadi perhatian lebih bagi kami, mengingat cara hidup orangutan yang relatif soliter, kemungkinan penyebaran virusnya menjadi akan terbatas tergantung pada berapa lama mereka membawa dan menyebarkannya.”
Bukan sedikit kasus Orangutan yang turun ke permukaan dan bertemu ataupun masuk ke pemukiman warga. Seperti contoh kasus beberapa tahun lalu ketika orangutan masuk ke pemukiman warga di Kalimantan Timur, karena habitatnya yang mulai rusak oleh aktivitas penambangan batu bara. Selanjutnya orangutan Tapanuli yang terjebak di kebun warga dengan badannya yang kurus dan penuh luka. Habitatnya sudah rata dengan tanah yang membuat orangutan berpindah ke daerah perkebunan.
Melihat hal ini, orangutan dan kera besar lainnya perlu menjadi salah satu perhatian di kala pandemic ini sebagai salah satu yang berpotensi tertular dan ancaman menuju kepunahan semakin dekat.
(shf)
Lihat Juga :