Sirnanya Kekebalan Raja Jayanegara dan Akhir Kisah Perselingkuhan
Sabtu, 09 Oktober 2021 - 05:01 WIB
loading...
A
A
A
Karena keselamatan raja terancam, pimpinan pasukan Bhayangkara patih Gajah Mada bersama 15 pengawal berinisiatif membawa Raja Jayanegara secara diam-diam pada malam hari ke Desa Badander. Seluruh kerajaan tidak tahu kecuali 15 pasukan Bhayangkara yang mengikuti raja. Baca juga: Kisah Kesaktian Kiai Nawawi, Suwuk Kebal hingga Kerikil Granat
Protokol pengawalan dan pengamanan raja begitu ketat. Ketika seorang pelayan raja minta pulang ke Majapahit, Gajah Mada tidak mengizinkan. Dikhawatirkan mereka akan membocorkan lokasi persembunyian raja hingga pasukan RA Kuti bisa menyerangnya.Pengalasan yang nekad pulang langsung dibunuh Gajah Mada. Setelah lima hari mengungsi, Gajah Mada minta izin raja untuk mengecek situasi Kerajaan.
Saat bertemu pejabat tinggi kerajaan, mereka bertanya soal keberadaan raja. Oleh Gajah Mada dijawab bahwa raja sudah tewas diserang pasukan RA Kuti. Maka, pecah lah tangis mereka. "Diam lah, tidakkah tuan-tuan menghendaki RA Kuti sebagai raja? " tanya Gajah Mada seperti dikutip dalam buku 'Biografi Politik Gajah Mada’ karangan Agus Aris Munandar.
Tapi, mereka menjawab Kuti bukan lah raja yang mereka sembah. Mendapat jawaban itu, Gajah Mada mengaku bahwa raja masih hidup di Desa Badander dan dia meminta bantuan pejabat tinggi kerajaan untuk mengalahkan RA Kuti.
Singkat cerita, dari berbagai pemberontakan, Jayanegara selalu lolos dari maut. Ironisnya, nyawanya melayang justru ketika situasi kerajaan sudah aman. Pada tahun 1328, dia tewas ditikam oleh Ra Tanca, tabib sekaligus pengawal kepercayaannya sendiri.
Banyak spekulasi di balik aksi Ra Tanca. Diduga ada peran Gajah Mada di balik penikaman itu. Dari banyak sumber dikatakan bahwa Gajah Mada menyimpan dendam terhadap Jayanegara lantaran sang raja telah menggoda istrinya. Baca juga: Kebal, Sopir Taksi Online Ini Hanya Luka Ringan Usai Diberondong Tembakan Kawanan Begal
Dalam buku Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya (1979) karya Slamet Muljana dikatakan bahwa Gajah Mada pada dasarnya tidak suka terhadap Jayanegara. Selain karena tabiat buruk, Gajah Mada tidak menyukai Jayanegara karena kurang piawai dalam mengelola pemerintahan.
Protokol pengawalan dan pengamanan raja begitu ketat. Ketika seorang pelayan raja minta pulang ke Majapahit, Gajah Mada tidak mengizinkan. Dikhawatirkan mereka akan membocorkan lokasi persembunyian raja hingga pasukan RA Kuti bisa menyerangnya.Pengalasan yang nekad pulang langsung dibunuh Gajah Mada. Setelah lima hari mengungsi, Gajah Mada minta izin raja untuk mengecek situasi Kerajaan.
Saat bertemu pejabat tinggi kerajaan, mereka bertanya soal keberadaan raja. Oleh Gajah Mada dijawab bahwa raja sudah tewas diserang pasukan RA Kuti. Maka, pecah lah tangis mereka. "Diam lah, tidakkah tuan-tuan menghendaki RA Kuti sebagai raja? " tanya Gajah Mada seperti dikutip dalam buku 'Biografi Politik Gajah Mada’ karangan Agus Aris Munandar.
Tapi, mereka menjawab Kuti bukan lah raja yang mereka sembah. Mendapat jawaban itu, Gajah Mada mengaku bahwa raja masih hidup di Desa Badander dan dia meminta bantuan pejabat tinggi kerajaan untuk mengalahkan RA Kuti.
Singkat cerita, dari berbagai pemberontakan, Jayanegara selalu lolos dari maut. Ironisnya, nyawanya melayang justru ketika situasi kerajaan sudah aman. Pada tahun 1328, dia tewas ditikam oleh Ra Tanca, tabib sekaligus pengawal kepercayaannya sendiri.
Banyak spekulasi di balik aksi Ra Tanca. Diduga ada peran Gajah Mada di balik penikaman itu. Dari banyak sumber dikatakan bahwa Gajah Mada menyimpan dendam terhadap Jayanegara lantaran sang raja telah menggoda istrinya. Baca juga: Kebal, Sopir Taksi Online Ini Hanya Luka Ringan Usai Diberondong Tembakan Kawanan Begal
Dalam buku Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya (1979) karya Slamet Muljana dikatakan bahwa Gajah Mada pada dasarnya tidak suka terhadap Jayanegara. Selain karena tabiat buruk, Gajah Mada tidak menyukai Jayanegara karena kurang piawai dalam mengelola pemerintahan.
Lihat Juga :