Sultan Menyapa: Dengan Modal Sosial, Bangun Tatanan Baru
Selasa, 02 Juni 2020 - 15:15 WIB
loading...
A
A
A
Kebiasaan memakai masker, cuci tangan dan menjauhkannya dari wajah, jaga jarak aman, diam di rumah dan berkegiatan di luar ketika perlu, serta menjauhi kerumunan, sangat penting dilakukan. "Untuk itu jika terbangun semangat kemenyatuan antara pemimpin dengan rakyat di semua level, hingga RT/Dusun. Ibarat dalam medan perang, kita masih memiliki peluang untuk menang. Artinya, dalam menggalang kesiapsiagaan melawan COVID-19 pun, basis pertahanan yang diperkuat adalah di tingkat RT/Dusun," katanya.
Jika ketahanan masyarakat dibangun dengan kekompakan dan disiplin diri dalam mematuhi protokol kesehatan, maka masyarakat akan segera menggapai hari esok yang cerah. Ini merupakan modal sosial warga masyarakat dan para birokrat yang dimiliki bersama. "Konsekuensinya, aparat pemerintahan pun harus ikut berubah, dengan mematuhi protokol yang ditetapkan, disertai peningkatan layanan bagi masyarakat," kata Sultan.
Dalam bahasa milenial, inilah basis platform sebuah aplikasi sosial menuju tatanan kehidupan baru di DIY. Dengan kesadaran diri seperti itu, niscaya setiap warga secara organis akan menata dirinya-sendiri.
Secara struktural setiap aparat paham akan kewajibannya, tanpa diiming-imingi hadiah, atau diancam hukuman apabila melanggar. Semuanya mengalir secara alami, layaknya mbanyu mili, yang menjadi ruh dari kesadaran bersama untuk mengasah ketajaman akal-budi sebagai pengikat kohesi sosial dan keterpanggilan membantu sesama.
"Bersatunya rakyat dengan pemimpin di segala lini hingga RT/Dusun adalah modal Jogja Gumrégah untuk mengisi tatanan Normal Baru. Dan tiada lupa, marilah kita kobarkan Api Semangat Pancasila 1 Juni 1945. Selamat Berjuang untuk Guyub dan Bangkit Bersama," katanya.
Jika ketahanan masyarakat dibangun dengan kekompakan dan disiplin diri dalam mematuhi protokol kesehatan, maka masyarakat akan segera menggapai hari esok yang cerah. Ini merupakan modal sosial warga masyarakat dan para birokrat yang dimiliki bersama. "Konsekuensinya, aparat pemerintahan pun harus ikut berubah, dengan mematuhi protokol yang ditetapkan, disertai peningkatan layanan bagi masyarakat," kata Sultan.
Dalam bahasa milenial, inilah basis platform sebuah aplikasi sosial menuju tatanan kehidupan baru di DIY. Dengan kesadaran diri seperti itu, niscaya setiap warga secara organis akan menata dirinya-sendiri.
Secara struktural setiap aparat paham akan kewajibannya, tanpa diiming-imingi hadiah, atau diancam hukuman apabila melanggar. Semuanya mengalir secara alami, layaknya mbanyu mili, yang menjadi ruh dari kesadaran bersama untuk mengasah ketajaman akal-budi sebagai pengikat kohesi sosial dan keterpanggilan membantu sesama.
"Bersatunya rakyat dengan pemimpin di segala lini hingga RT/Dusun adalah modal Jogja Gumrégah untuk mengisi tatanan Normal Baru. Dan tiada lupa, marilah kita kobarkan Api Semangat Pancasila 1 Juni 1945. Selamat Berjuang untuk Guyub dan Bangkit Bersama," katanya.
(abd)
Lihat Juga :