Sultan Menyapa: Dengan Modal Sosial, Bangun Tatanan Baru
Selasa, 02 Juni 2020 - 15:15 WIB
loading...
Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X kembali menyapa rakyatnya. FOTO/HUMAS PEMDA DIY
A
A
A
YOGYAKARTA - Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X kembali menyapa rakyatnya. Untuk kali ketujuh ini, Sri Sultan menyampaikan pesan berjudul "Dengan Modal Sosial, Bangun Tatanan Baru".
Dalam pesannya, raja yang bernama kecil Herjuno Darpito menyampaikan bahwa saat ini masyarakat di tengah pandemi COVID-19 dilanda kecemasan yang tidas menentu. Ngarso Dalem, sapaan untuk Sultan, membuat sebuah istilah Suwung untuk memakainya.
"SUWUNG, seakan kita masuk ke dalam labirin kesunyian. Isinya hanya kesenyapan tanpa batas. Dalam suwung, kita tak tahu harus berbuat apa. Inilah gambaran umumnya masyarakat yang dilanda kecemasan tak menentu," kata Sri Sultan HB X memulai sapaannya, Selasa (2/6/2020).(Baca juga: Sultan Menyapa: Membuka Misteri Illahi, Menggapai Keberkahan )
Namun demikian, Tuhan juga bisa dimaknai sebagai Suwung, Kemahasadaran dan Kemahakuasaan yang memangku dan meliputi seluruh keberadaan-Nya. "Dalam paham Jawa disebut Suwung Hamêngku Ânâ. Ketika difikir, Dia seakan tiada. Ketika masuk di alam suwung, terasakan Dia ada," tuturnya.
Sultan juga mengajak sebagai manusia bisa paham tentang hakikat ketuhanan. Dengan bisa memakai hakikat ketuhanan, maka kecemasan itu pun mereda, karena keyakinan akan adanya Tuhan yang maha segalanya. "Kesadaran dan pemahaman hakikat ketuhanan ini juga menunjukkan hubungan vertikal antara manusia das Tuhan mencapai puncak spiritual, luluh dalam manêmbah-nya insan ke haribaan Sang Khalik, yang sebelum ini terlupakan. Karena kita lebih mengedepankan agama masing-masing daripada berkhidmat ke hadirat-Nya," kata Ngarso Dalem penuh folosofi.
Selain hubungan untuk mencari hakikat Ketuhanan juga diperlukan hubungan horizontal atau sesama manusia. Dalam hal ini perlu meningkatkan kolaborasi, solidaritas dan partisipasi antarwarga untuk bertahan hidup.(Baca juga: Sultan Menyapa: Terima Kasih Para Patriot Kemanusiaan )
"Keberadaan COVID-19 ini tak tertolakkan. Kehadirannya pun selalu menyertai kita, di mana pun kita berada. Sedangkan kapan waktu selesainya pun belum bisa diprediksikan. Meski sosoknya tak tampak dan tak terasa, dan kita pun memusuhinya, mau tidak mau kita harus berdamai dan menuruti hidup harmoni dengannya," katanya.
Dalam pesannya, raja yang bernama kecil Herjuno Darpito menyampaikan bahwa saat ini masyarakat di tengah pandemi COVID-19 dilanda kecemasan yang tidas menentu. Ngarso Dalem, sapaan untuk Sultan, membuat sebuah istilah Suwung untuk memakainya.
"SUWUNG, seakan kita masuk ke dalam labirin kesunyian. Isinya hanya kesenyapan tanpa batas. Dalam suwung, kita tak tahu harus berbuat apa. Inilah gambaran umumnya masyarakat yang dilanda kecemasan tak menentu," kata Sri Sultan HB X memulai sapaannya, Selasa (2/6/2020).(Baca juga: Sultan Menyapa: Membuka Misteri Illahi, Menggapai Keberkahan )
Namun demikian, Tuhan juga bisa dimaknai sebagai Suwung, Kemahasadaran dan Kemahakuasaan yang memangku dan meliputi seluruh keberadaan-Nya. "Dalam paham Jawa disebut Suwung Hamêngku Ânâ. Ketika difikir, Dia seakan tiada. Ketika masuk di alam suwung, terasakan Dia ada," tuturnya.
Sultan juga mengajak sebagai manusia bisa paham tentang hakikat ketuhanan. Dengan bisa memakai hakikat ketuhanan, maka kecemasan itu pun mereda, karena keyakinan akan adanya Tuhan yang maha segalanya. "Kesadaran dan pemahaman hakikat ketuhanan ini juga menunjukkan hubungan vertikal antara manusia das Tuhan mencapai puncak spiritual, luluh dalam manêmbah-nya insan ke haribaan Sang Khalik, yang sebelum ini terlupakan. Karena kita lebih mengedepankan agama masing-masing daripada berkhidmat ke hadirat-Nya," kata Ngarso Dalem penuh folosofi.
Selain hubungan untuk mencari hakikat Ketuhanan juga diperlukan hubungan horizontal atau sesama manusia. Dalam hal ini perlu meningkatkan kolaborasi, solidaritas dan partisipasi antarwarga untuk bertahan hidup.(Baca juga: Sultan Menyapa: Terima Kasih Para Patriot Kemanusiaan )
"Keberadaan COVID-19 ini tak tertolakkan. Kehadirannya pun selalu menyertai kita, di mana pun kita berada. Sedangkan kapan waktu selesainya pun belum bisa diprediksikan. Meski sosoknya tak tampak dan tak terasa, dan kita pun memusuhinya, mau tidak mau kita harus berdamai dan menuruti hidup harmoni dengannya," katanya.
Lihat Juga :