alexametrics

Sultan Menyapa: Dengan Modal Sosial, Bangun Tatanan Baru

loading...
Sultan Menyapa: Dengan Modal Sosial, Bangun Tatanan Baru
Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X kembali menyapa rakyatnya. FOTO/HUMAS PEMDA DIY
A+ A-
YOGYAKARTA - Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X kembali menyapa rakyatnya. Untuk kali ketujuh ini, Sri Sultan menyampaikan pesan berjudul "Dengan Modal Sosial, Bangun Tatanan Baru".

Dalam pesannya, raja yang bernama kecil Herjuno Darpito menyampaikan bahwa saat ini masyarakat di tengah pandemi COVID-19 dilanda kecemasan yang tidas menentu. Ngarso Dalem, sapaan untuk Sultan, membuat sebuah istilah Suwung untuk memakainya.

"SUWUNG, seakan kita masuk ke dalam labirin kesunyian. Isinya hanya kesenyapan tanpa batas. Dalam suwung, kita tak tahu harus berbuat apa. Inilah gambaran umumnya masyarakat yang dilanda kecemasan tak menentu," kata Sri Sultan HB X memulai sapaannya, Selasa (2/6/2020).(Baca juga: Sultan Menyapa: Membuka Misteri Illahi, Menggapai Keberkahan)



Namun demikian, Tuhan juga bisa dimaknai sebagai Suwung, Kemahasadaran dan Kemahakuasaan yang memangku dan meliputi seluruh keberadaan-Nya. "Dalam paham Jawa disebut Suwung Hamêngku Ânâ. Ketika difikir, Dia seakan tiada. Ketika masuk di alam suwung, terasakan Dia ada," tuturnya.

Sultan juga mengajak sebagai manusia bisa paham tentang hakikat ketuhanan. Dengan bisa memakai hakikat ketuhanan, maka kecemasan itu pun mereda, karena keyakinan akan adanya Tuhan yang maha segalanya. "Kesadaran dan pemahaman hakikat ketuhanan ini juga menunjukkan hubungan vertikal antara manusia das Tuhan mencapai puncak spiritual, luluh dalam manêmbah-nya insan ke haribaan Sang Khalik, yang sebelum ini terlupakan. Karena kita lebih mengedepankan agama masing-masing daripada berkhidmat ke hadirat-Nya," kata Ngarso Dalem penuh folosofi.

Selain hubungan untuk mencari hakikat Ketuhanan juga diperlukan hubungan horizontal atau sesama manusia. Dalam hal ini perlu meningkatkan kolaborasi, solidaritas dan partisipasi antarwarga untuk bertahan hidup.(Baca juga: Sultan Menyapa: Terima Kasih Para Patriot Kemanusiaan)

"Keberadaan COVID-19 ini tak tertolakkan. Kehadirannya pun selalu menyertai kita, di mana pun kita berada. Sedangkan kapan waktu selesainya pun belum bisa diprediksikan. Meski sosoknya tak tampak dan tak terasa, dan kita pun memusuhinya, mau tidak mau kita harus berdamai dan menuruti hidup harmoni dengannya," katanya.

Kebiasaan memakai masker, cuci tangan dan menjauhkannya dari wajah, jaga jarak aman, diam di rumah dan berkegiatan di luar ketika perlu, serta menjauhi kerumunan, sangat penting dilakukan. "Untuk itu jika terbangun semangat kemenyatuan antara pemimpin dengan rakyat di semua level, hingga RT/Dusun. Ibarat dalam medan perang, kita masih memiliki peluang untuk menang. Artinya, dalam menggalang kesiapsiagaan melawan COVID-19 pun, basis pertahanan yang diperkuat adalah di tingkat RT/Dusun," katanya.

Jika ketahanan masyarakat dibangun dengan kekompakan dan disiplin diri dalam mematuhi protokol kesehatan, maka masyarakat akan segera menggapai hari esok yang cerah. Ini merupakan modal sosial warga masyarakat dan para birokrat yang dimiliki bersama. "Konsekuensinya, aparat pemerintahan pun harus ikut berubah, dengan mematuhi protokol yang ditetapkan, disertai peningkatan layanan bagi masyarakat," kata Sultan.

Dalam bahasa milenial, inilah basis platform sebuah aplikasi sosial menuju tatanan kehidupan baru di DIY. Dengan kesadaran diri seperti itu, niscaya setiap warga secara organis akan menata dirinya-sendiri.

Secara struktural setiap aparat paham akan kewajibannya, tanpa diiming-imingi hadiah, atau diancam hukuman apabila melanggar. Semuanya mengalir secara alami, layaknya mbanyu mili, yang menjadi ruh dari kesadaran bersama untuk mengasah ketajaman akal-budi sebagai pengikat kohesi sosial dan keterpanggilan membantu sesama.

"Bersatunya rakyat dengan pemimpin di segala lini hingga RT/Dusun adalah modal Jogja Gumrégah untuk mengisi tatanan Normal Baru. Dan tiada lupa, marilah kita kobarkan Api Semangat Pancasila 1 Juni 1945. Selamat Berjuang untuk Guyub dan Bangkit Bersama," katanya.
(abd)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak