Kisah Mistis Bung Tomo Hadapi Agresi Militer Belanda, Bertemu Wanita-wanita Cantik di Lereng Wilis
Senin, 20 September 2021 - 06:57 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Sendang Sinongko dan Pelarian Prajurit Kasultanan Mataram
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati! Dan kita yakin saudara-saudara. Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Pidato berapi-api yang dilontarkan Bung Tomo, membakar semangat seluruh rakyat. Semangat untuk melawan penjajahan inilah yang membuat seluruh elemen rakyat bersatu di Kota Surabaya, bertempur dengan gagah berani pada 10 November 1945 menghadapi pasukan Sekutu yang memiliki persenjataan lengkap.
Pasca pertempuran hebat itu, Bung Tomo yang dikisahkan oleh istrinya, Sulistina Soetomo, dalam buku berjudul "Bung Tomo Suamiku", sempat mundur jauh ke lereng Gunung Wilis bersama Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) yang dipimpinnya akibat adanya agresi militer Belanda.
Dalam perjalanan di Gunung Wilis, Bung Tomo yang menawarkan diri menjadi penunjuk jalan, justru terperosok masuk ke dalam jurang. Saat berada di dalam jurang tersebut, Bung Tomo sempat termenung. Namun akhirnya dia memilih untuk melanjutkan perjalanan.
Saat berhadapan dengan dinding gunung, dia mencoba menaikinya tetapi gagal. Upaya untuk menaiki dinding gunung tersebut, terus dilakukannya. Saat berupaya keras, Bung Tomo dikagetkan dengan suara "Jangan di situ!". Namun ketika dicari sumber suara itu, ternyata tidak ada satu orang pun di dekatnya.
Baca juga: Kisah Asmara Gajah Mada, Panglima Perang Majapahit yang Sumpahnya Menggemparkan Nusantara
Bung Tomo akhirnya mencoba kembaku untuk menaiki dinding gunung, namun suara misterius bernada larangan itu kembali muncul. Setelah mencoba untuk kali ketiga, akhirnya dia berhasil menaiki dinding gunung.
Tubuhnya menggigil kedinginan di tengan hamparan ilalang. Bajunya yang masih basah kuyub, setelah terjebur ke sungai, membuatnya semakin diterkam rasa lapar dan kelelahan. Hujan gerimis yang turun malam itu, membuatnya semakin menderita dan memaksanya untuk bermalam di belantara hutan yang gelap.
Di tengah kelelahan, dan rasa lapar yang menerjangnya. Bung Tomo memilih untuk salat. Usai salat dia dikagetkan dengan soro cahaya, yang dikiranya lampu dari pasukan Belanda. Diapun kembali berdoa, saat itulah sekelebatan didengarnya beberapa kuda berlari cepat membawa kereta kencana ke arah timur.
Dengan kondisi badan yang mulai demam karena semalaman di dera kelaparan, lelah, dan basah kuyub akibat hujan. Bung Tomo akhirnya memutuskan untuk turun gunung. Dalam perjalanannya akhirnya Bung Tomo mencapai Desa Ngliman, dan ditampung di rumah seorang guru untuk mendapatkan perawatan.
Baca juga: Kisah Heroik Bocah Kediri, Bertaruh Nyawa Jadi Kurir Proklamasi Kemerdekaan 1945
Di Desa Ngliman itu pula Bung Tomo akhirnya bertemu dengan kawan-kawannya yang terpisah diperjalanan. Saat berada di lereng Gunung Wilis, Bung Tomo memutuskan untuk menelusuri jejak gerilya Panglima Besar Jenderal Soerdiman. Dia mengajak rekannya, Hartadi.
Dalam perjalanannya, Bung Tomo sempat berhenti untuk melakukan salah magrib. Usai salat, baru disadarinya cincin pernikahannya tak ada di jari manisnya. Hartadi diajaknya kembali ke sendang tempat mereka wudhu, untuk mencari cincin yang hilang.
Saat dalam perjalanan ke sedang, Bung Tomo dikagetkan dengan munculnya banyak perempuan membawa kendi untuk tempa air. Perempuan-perempuan itu mengenakan kain sebagai kemben penutup tubuhnya. Bung Tomo, dan Hartadi sempat bertanya-tanya dalam hatinya, karena mereka berada dalam hutan belantara, namun muncul serombongan perempuan mencari air.
Usai tersadar, Bung Tomo langsung mengajak Hartadi bergegas mencari cincin pernikahannya di sekitar sedang yang sudah kembali sepi dan tidak ada lagi perempuan-perempuan mencari air. Beruntung cincin itu berhasil ditemukan di balik batu.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati! Dan kita yakin saudara-saudara. Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Pidato berapi-api yang dilontarkan Bung Tomo, membakar semangat seluruh rakyat. Semangat untuk melawan penjajahan inilah yang membuat seluruh elemen rakyat bersatu di Kota Surabaya, bertempur dengan gagah berani pada 10 November 1945 menghadapi pasukan Sekutu yang memiliki persenjataan lengkap.
Pasca pertempuran hebat itu, Bung Tomo yang dikisahkan oleh istrinya, Sulistina Soetomo, dalam buku berjudul "Bung Tomo Suamiku", sempat mundur jauh ke lereng Gunung Wilis bersama Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) yang dipimpinnya akibat adanya agresi militer Belanda.
Dalam perjalanan di Gunung Wilis, Bung Tomo yang menawarkan diri menjadi penunjuk jalan, justru terperosok masuk ke dalam jurang. Saat berada di dalam jurang tersebut, Bung Tomo sempat termenung. Namun akhirnya dia memilih untuk melanjutkan perjalanan.
Saat berhadapan dengan dinding gunung, dia mencoba menaikinya tetapi gagal. Upaya untuk menaiki dinding gunung tersebut, terus dilakukannya. Saat berupaya keras, Bung Tomo dikagetkan dengan suara "Jangan di situ!". Namun ketika dicari sumber suara itu, ternyata tidak ada satu orang pun di dekatnya.
Baca juga: Kisah Asmara Gajah Mada, Panglima Perang Majapahit yang Sumpahnya Menggemparkan Nusantara
Bung Tomo akhirnya mencoba kembaku untuk menaiki dinding gunung, namun suara misterius bernada larangan itu kembali muncul. Setelah mencoba untuk kali ketiga, akhirnya dia berhasil menaiki dinding gunung.
Tubuhnya menggigil kedinginan di tengan hamparan ilalang. Bajunya yang masih basah kuyub, setelah terjebur ke sungai, membuatnya semakin diterkam rasa lapar dan kelelahan. Hujan gerimis yang turun malam itu, membuatnya semakin menderita dan memaksanya untuk bermalam di belantara hutan yang gelap.
Di tengah kelelahan, dan rasa lapar yang menerjangnya. Bung Tomo memilih untuk salat. Usai salat dia dikagetkan dengan soro cahaya, yang dikiranya lampu dari pasukan Belanda. Diapun kembali berdoa, saat itulah sekelebatan didengarnya beberapa kuda berlari cepat membawa kereta kencana ke arah timur.
Dengan kondisi badan yang mulai demam karena semalaman di dera kelaparan, lelah, dan basah kuyub akibat hujan. Bung Tomo akhirnya memutuskan untuk turun gunung. Dalam perjalanannya akhirnya Bung Tomo mencapai Desa Ngliman, dan ditampung di rumah seorang guru untuk mendapatkan perawatan.
Baca juga: Kisah Heroik Bocah Kediri, Bertaruh Nyawa Jadi Kurir Proklamasi Kemerdekaan 1945
Di Desa Ngliman itu pula Bung Tomo akhirnya bertemu dengan kawan-kawannya yang terpisah diperjalanan. Saat berada di lereng Gunung Wilis, Bung Tomo memutuskan untuk menelusuri jejak gerilya Panglima Besar Jenderal Soerdiman. Dia mengajak rekannya, Hartadi.
Dalam perjalanannya, Bung Tomo sempat berhenti untuk melakukan salah magrib. Usai salat, baru disadarinya cincin pernikahannya tak ada di jari manisnya. Hartadi diajaknya kembali ke sendang tempat mereka wudhu, untuk mencari cincin yang hilang.
Saat dalam perjalanan ke sedang, Bung Tomo dikagetkan dengan munculnya banyak perempuan membawa kendi untuk tempa air. Perempuan-perempuan itu mengenakan kain sebagai kemben penutup tubuhnya. Bung Tomo, dan Hartadi sempat bertanya-tanya dalam hatinya, karena mereka berada dalam hutan belantara, namun muncul serombongan perempuan mencari air.
Usai tersadar, Bung Tomo langsung mengajak Hartadi bergegas mencari cincin pernikahannya di sekitar sedang yang sudah kembali sepi dan tidak ada lagi perempuan-perempuan mencari air. Beruntung cincin itu berhasil ditemukan di balik batu.
Lihat Juga :