Kemasyhuran Hayam Wuruk dan Kisah Mbah Ajek Sang Pengumpul Upeti Zaman Majapahit

Jum'at, 10 September 2021 - 05:00 WIB
loading...
Kemasyhuran Hayam Wuruk...
Juru kunci Situs Lasem, Situs Lasem di Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Gresik disebut-sebut merupakan kantor pengelolaan pajak di era Majapahit.Foto/SINDONews/Ashadi Iksan
A A A
GRESIK - Meski sudah 13 abad lamanya, kemasyhuran Majapahit dan Raja Hayam Wuruk masih bisa dirasakan hingga sekarang. Peninggalan dan sisa kebesaran kerajaan dengan patihnya Gajah Mada dilihat di mana-mana. Salah satunya situs kuno di Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Gresik, Jawa Timur.

Situs tersebut, disebut-sebut jaman dahulu sebagai kantor pengelolaan pajak di era Kerajaan Majapahit . Meliputi Kadipaten Sidayu dan pantai utara. Peninggalan kerajaan terbesar di jamannya itu semakin meyakinkan, karena di sana terdapat makam Mbak Ajek. Dia merupakan pejabat Majapahit yang ditugaskan langsung memungut pajak.

Kemasyhuran Hayam Wuruk dan Kisah Mbah Ajek Sang Pengumpul Upeti Zaman Majapahit


Juru kunci Situs Lasem, Muhammad Mukhid mengatakan, situs kuno era Majapahit dengan rajanya Hayam Wuruk hingga kini masih menjadi daya tarik pengunjung. Banyak nilai-nilai sejarah yang bisa dipetik. Misalnya, dalam situs tersebut terdapat relief pada dinding struktur berupa guratan gambar menyerupai tokoh pewayangan Jawa. Relief ini bercerita tentang kehidupan pada masa itu.

"Tokoh utama dalam situs ini memberikan pelajaran bahwa seseorang harus memiliki sikap Ajeg (kontinyu atau istiqomah) dalam menjalankan sesuatu," katanya.

Baca juga: Makam Gus Dur dan 9 Fakta Uniknya Jadi Destinasi Peziarah

Mbah Ajek sendiri, menurut Mukhid merupakan petugas yang memungut pajak di area Kadipaten Sedayu, termasuk Gresik dan Lamongan bagian utara. Semua wilayah tidak lepas dari kekuasaannya. Kendati demikian, Mbah Ajek oleh masyarakat Desa Lasem dianggap pejabat paling berjasa. Sebab di eranya, masyarakat yang tinggal di sekitarnya tidak terbebani membayar pajak.

"Beliau berjasa besar bagi masyarakat daerah sini. Bahkan Mbah Ajek malah membebaskan pajak kepada warga yang tinggal di Desa Lasem. Hal itu yang membuat beliau sangat disegani hingga sekarang," terangnya.

Sementara itu Kepala Desa Lasem Khoiri menambahkan, keberadaan situs ini sudah diakui Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Mojokerto. Merupakan bagian situs yang harus dilestarikan keasliannya. Untuk itu pemerintahnya punya kewajiban melindungi situs kuno agar tidak ada pengrusakan ataupun lainnya.

"Sebenarnya pernah ditemukan prasasti bertuliskan aksara Jawa Kuno. Namun sayang, pada waktu penemuan sekitar tahun 70-an prasasti tersebut dibawa ke Jakarta, untuk keperluan penelitian, dan pembacaan oleh ahli Sejarah ," tukasnya.

Baca juga: Cerita Pagi Kelihaian Gajah Mada Taklukan 2 Kerajaan Besar, Samudera Pasai dan Sunda

Khoiri menjelaskan, di situs ini bangunan aslinya masih tampak. Batu kuno masih tertata rapi. Selain kompleks kantor pajak, di sini juga ada bekas musala serta sumur yang masih dipertahankan keasliannya.

Agar tetap dilestarikan, pemerintah desa membangun fasilitas di area tersebut. Ada pula area kolam renang wisata serta akses jalan yang bersih dan bagus. Upaya ini, kata dia agar para masyarakat serta anak muda tahu dan tak lupa sejarah bahwa di Desa Lasem pernah menjadi tempat yang istimewa di jaman dahulu.

"Tapi tepat di bangunan aslinya tetap kita pertahankan, tak pernah kami rubah. Hanya dibagian luar kami bangun akses jalan agar jika ada tamu bisa nyaman," ujarnya.

FOTO: Juru kunci Situs Lasem, Muhammad Mukhid menunjuk gambar bersejarah yang bercerita konsistensi Mbak Ajek. Foto/SINDOnews/ashadi ik
(msd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kisah Pilu Mpu Prapanca,...
Kisah Pilu Mpu Prapanca, Difitnah Kaum Bangsawan dan Diusir dari Istana Majapahit
Kisah Moksa Mahapatih...
Kisah Moksa Mahapatih Gajah Mada di Air Terjun Madakaripura
Harmonisasi Majapahit...
Harmonisasi Majapahit dan Campa Mulai dari Pernikahan Politik hingga Pemberian Suaka ke Raja
Kisah Raja Tribhuwana...
Kisah Raja Tribhuwana Tunggadewi Mempercayakan Perempuan Memimpin di Majapahit
Tiga Saran Gayatri Wujudkan...
Tiga Saran Gayatri Wujudkan Sumpah Palapa Gajah Mada
Sosok Mpu Nambi, Mahapatih...
Sosok Mpu Nambi, Mahapatih Pertama Kerajaan Majapahit yang Jago Siasat Perang
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka: Dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Urgensi Indonesia Maritime...
Urgensi Indonesia Maritime Policy
Rekomendasi
Mutasi Polri Terbaru!...
Mutasi Polri Terbaru! 1.121 Personel Digeser, Ada Kapolda hingga Wakapolda
Tria Ungkap Tekanan...
Tria Ungkap Tekanan Manggung Tanpa Personel The Changcuters di Wisuda Anak
Klasemen Akhir Grup...
Klasemen Akhir Grup F: Swedia Temani Belanda dan Jepang Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Pramono Tegaskan Tak...
Pramono Tegaskan Tak Ada Aturan Baru Ganjil Genap
Besok Puncak HUT ke-499...
Besok Puncak HUT ke-499 Jakarta di Bundaran HI, Ini Info Rekayasa Lalu Lintas dan Titik Parkirnya
KPK Ungkap Biro Jasa...
KPK Ungkap Biro Jasa Harus Setor Rp100 Ribu hingga Rp2,5 Juta untuk Pengurusan Izin Tinggal WNA di Bali
Viral Kabar Ganjil Genap...
Viral Kabar Ganjil Genap di 28 Gerbang Tol Jakarta, Polda Metro Jaya Angkat Bicara
Blok M Jadi Lokasi Awal...
Blok M Jadi Lokasi Awal Penerapan Kawasan Rendah Emisi Jakarta
Anggota DPD RI Desak...
Anggota DPD RI Desak Pemkab Bima Atasi Krisis Air Bersih di Desa Bajo
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved