Kunjungi Lapter Ekstrim Distrik Doufo, Bupati Puncak Pastikan Tingkatkan Lapter 2022
Jum'at, 03 September 2021 - 13:44 WIB
loading...
Kondisi Landasan Pacu Lapter Doufo yang masih belum diaspal, saat dikunjungi Bupati Puncak Willem Wandik pada (27/8/2021)
A
A
A
ILAGA - Menerbangkan pesawat di lapangan perintis di pedalaman Papua,tidak seperti di daerah lain, karena memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Kondisi topograsi dan cuaca yang sering berubah terutama angin yang kencang. Salah satunya ada di Lapangan terbang Distrik Doufo.
Bupati Puncak Willem Wandik menyatakan lapangan terbang ini bisa dikatakan sebagai salah satu lapangan terbang perintis di Papua bahkan Indonesia. Bahkan lapangan terbang ini masuk dalam lapter terekstrim di Indonesia.
Dikatakan lapter perintis cukup ekstrim, karena panjang lapter ini saja sekitar 800 meter, dan Run Way lapangan terbang ini belum beraspal. Run way hanya terdiri dari tanah merah dan rumput,bahkan ada harus melewati bukit di tengah landasan untuk menuju ke tempat parkir pesawat. Di samping lapter ini dikelilingi sungai Mamberamo. Sehingga membutuhkan kemampuan ekstra dari para pilot saat mendaratkan pesawatnya.
Mengingat jika sedikit salah perhitungan, pesawat bakal tergelincir dan masuk dalam jurang. Seperti yang disampaikan Captain Jesse baker, pilot asal Selandia baru, yang membawa pesawat Cesna Grand Caravan milik Pemkab Puncak, saat mengantar Bupati ke Distrik Doufo.
“Kita harus hati-hati di lapangan terbang ini,karena lapangan terbang masih belum bagus,apalagi di kelilingi oleh sungai Memberamo. Kami berharap sekali ada pembangunan lapangan terbang ini,biar lebih bagus untuk didarati pesawat,” katanya.
Bupati Puncak Willem Wandik menyatakan lapangan terbang ini bisa dikatakan sebagai salah satu lapangan terbang perintis di Papua bahkan Indonesia. Bahkan lapangan terbang ini masuk dalam lapter terekstrim di Indonesia.
Dikatakan lapter perintis cukup ekstrim, karena panjang lapter ini saja sekitar 800 meter, dan Run Way lapangan terbang ini belum beraspal. Run way hanya terdiri dari tanah merah dan rumput,bahkan ada harus melewati bukit di tengah landasan untuk menuju ke tempat parkir pesawat. Di samping lapter ini dikelilingi sungai Mamberamo. Sehingga membutuhkan kemampuan ekstra dari para pilot saat mendaratkan pesawatnya.
Mengingat jika sedikit salah perhitungan, pesawat bakal tergelincir dan masuk dalam jurang. Seperti yang disampaikan Captain Jesse baker, pilot asal Selandia baru, yang membawa pesawat Cesna Grand Caravan milik Pemkab Puncak, saat mengantar Bupati ke Distrik Doufo.
“Kita harus hati-hati di lapangan terbang ini,karena lapangan terbang masih belum bagus,apalagi di kelilingi oleh sungai Memberamo. Kami berharap sekali ada pembangunan lapangan terbang ini,biar lebih bagus untuk didarati pesawat,” katanya.
Lihat Juga :