Rehabilitasi Hutan Mangrove Penyelamat Masyarakat Tanjung Pandan Belitung saat PPKM
Minggu, 15 Agustus 2021 - 22:12 WIB
loading...
A
A
A
Luasan areal penanaman bibit mangrove yang akan dilakukan kelompok bersama 40 warga desa sekitar 20 hektare. Sejauh ini, telah dilakukan penanaman pada areal seluas 10 hektare, "10 hektare sudah kita tanami," tutur Jufri.
Akses ke lokasi penanaman, kata dia, memiliki tantangan tersendiri karena berada di bibir pantai dan berlumpur. Juga, penanaman pada musim kemarau potensi layu dan mati cukup besar, belum lagi adanya hantaman ombak laut. Tapi, dia menargetkan bibit mangrove yang ditanam bisa tumbuh 70-80%. "Mangrove yang mati nanti kita sulam kembali," ujarnya.
Selain menanam mangrove, selama PPKM Kelompok Seberang Bersatu juga merehabilitasi lahan kritis dengan penanaman tanaman buah-buahan. Jufri berharap selepas pandemi, buah-buahan itu bisa menjadi agrowisata baru. "Sekarang kita kembali menjalankan perencanaan yang belum terealisasi," ungkapnya.
Selain budidaya tanaman buah, kelompoknya juga membangun Silvofishery dengan membudidayakan ikan, kepiting, dan kerapu di areal seluas 4 hektare. Jufri menyebut upaya ini didirikan untuk mengatasi sepinya pengunjung ditengah pandemi.
Jufri mengatakan kerja sama dengan BRGM ini dapat berlanjut untuk merehabilitasi lahan bekas tambang. Dia berharap sinergi itu bisa dikembangkan untuk mengembangkan mangrove jenis avicennia marina dan avicennia alba yang sangat baik untuk lahan berpasir.
Dia juga ingin, ekosistem mangrove kembali berfungsi dengan penanaman santigi (phempis acidula) dan terantum (lumnitzera racemosa). Dengan penanaman dua tumbuhan ini, dia berharap warga bisa menghasilkan peternakan lebah madu mangrove. "Wisata untuk masa depan budidaya lebah madu," katanya.
Tak hanya itu, untuk mengenalkan mangrove ke masyarakat, dia juga ingin menjadikan santigi sebagai buah tangan, tetapi tidak sebagai bonsai. Santigi yang dibeli wisatawan akan dicatat dan perkembangannya dilaporkan ke wisatawan. "Kami harapkan pengunjung bisa mengadopsi pohon itu," ujarnya.
Akses ke lokasi penanaman, kata dia, memiliki tantangan tersendiri karena berada di bibir pantai dan berlumpur. Juga, penanaman pada musim kemarau potensi layu dan mati cukup besar, belum lagi adanya hantaman ombak laut. Tapi, dia menargetkan bibit mangrove yang ditanam bisa tumbuh 70-80%. "Mangrove yang mati nanti kita sulam kembali," ujarnya.
Selain menanam mangrove, selama PPKM Kelompok Seberang Bersatu juga merehabilitasi lahan kritis dengan penanaman tanaman buah-buahan. Jufri berharap selepas pandemi, buah-buahan itu bisa menjadi agrowisata baru. "Sekarang kita kembali menjalankan perencanaan yang belum terealisasi," ungkapnya.
Selain budidaya tanaman buah, kelompoknya juga membangun Silvofishery dengan membudidayakan ikan, kepiting, dan kerapu di areal seluas 4 hektare. Jufri menyebut upaya ini didirikan untuk mengatasi sepinya pengunjung ditengah pandemi.
Jufri mengatakan kerja sama dengan BRGM ini dapat berlanjut untuk merehabilitasi lahan bekas tambang. Dia berharap sinergi itu bisa dikembangkan untuk mengembangkan mangrove jenis avicennia marina dan avicennia alba yang sangat baik untuk lahan berpasir.
Dia juga ingin, ekosistem mangrove kembali berfungsi dengan penanaman santigi (phempis acidula) dan terantum (lumnitzera racemosa). Dengan penanaman dua tumbuhan ini, dia berharap warga bisa menghasilkan peternakan lebah madu mangrove. "Wisata untuk masa depan budidaya lebah madu," katanya.
Tak hanya itu, untuk mengenalkan mangrove ke masyarakat, dia juga ingin menjadikan santigi sebagai buah tangan, tetapi tidak sebagai bonsai. Santigi yang dibeli wisatawan akan dicatat dan perkembangannya dilaporkan ke wisatawan. "Kami harapkan pengunjung bisa mengadopsi pohon itu," ujarnya.
(shf)
Lihat Juga :