Kisah Heroik Bocah Kediri, Bertaruh Nyawa Jadi Kurir Proklamasi Kemerdekaan 1945

Senin, 09 Agustus 2021 - 05:00 WIB
loading...
A A A
Baca juga: 5 Anggota DPRD Pesta Maksiat dengan 7 Wanita Seksi, Mereka Berasal Dari Hanura, PAN, PPP, dan Golkar

Sesama penumpang kereta banyak yang merasa kagum. Bersimpatik. Namun tidak sedikit yang mencibir, memandang sebelah mata, dan bahkan mengolok-olok. Namun kedua remaja itu tidak berusaha meladeni. Tiba di Kota Purwokerto, Jawa Tengah, kereta api kembali berhenti. Di hari itu petugas kereta api harus kembali menyiapkan bahan bakar yang habis.

Roda-roda diperiksa. Sekrup-sekrup dikontrol. Gandengan antar gerbong dan tungku pembakar tidak luput dari pemeriksaan. Bahkan masinis, kondektur dan stoker atau petugas yang bertanggung jawab atas tungku pembakaran, juga diganti. Sesuatu yang umum di jaman itu. Dalam setiap trayek jarak jauh, secara estafet petugas kereta api dilakukan penggantian.

Seperti di Yogyakarta. Di Purwokerto, Gatot dan Umar juga kembali menginap semalam. Keesokan harinya kereta kembali melanjutkan perjalanan. Belum lama berjalan, dari kejauhan terdengar rentetan tembakan. Para penumpang sontak panik. Gelisah. Bertanya-tanya. Mereka khawatir tembakan akan mendekat. "Katanya sudah merdeka. Lha kok perang lagi".

Terbawa suasana, Gatot dan Umar juga turut gelisah. Untungnya, suara-suara tembakan itu tidak lama kemudian mereda dan hilang. Saat itu tidak banyak yang tahu. Sejak 8 September 1945. Melalui Jakarta, Semarang, dan Surabaya tentara sekutu yang dipelopori Inggris telah masuk tanah air. Kedatangan mereka untuk melucuti tentara Jepang dipimpin Letnan Jendral Sir Philip Christison.

Belanda dengan pasukan NICA membonceng. Paska kekalahan Jepang, Belanda ingin memulihkan kembali kekuasaanya di Indonesia. Pertempuran pun meletus di mana-mana. Setelah sempat kembali menginap semalam di Cirebon, perjalanan Gatot dan Umar yang berlangsung empat hari, sampai juga di Jakarta. Keduanya turun di stasiun Jatinegara.

Baca juga: Kisah Sawito, Lelaki Blitar yang Ditangkap Kaki Tangan Soeharto Atas Tuduhan Makar

Melalui petunjuk nomor kontak dari Tajib Ermadi, Gatot dan Umar naik trem dengan tujuan Pegangsaan Timur. Syarif dan Syafei, dua pemuda penjemputnya, menyarankan Gatot dan Umar mencopot lencana merah putih yang dikenakan. Bagi para pejuang republik, Jakarta dalam situasi berbahaya. Belanda ada di mana-mana, berpatroli sekaligus melakukan aksi polisional .

Panasnya suhu politik Jakarta berlangsung sejak Proklamasi Kemerdekaan berkumandang. Sebulan paska proklamasi , sebanyak 200 ribu warga berbondong-bondong memadati lapangan Ikada (Sekarang lapangan Monumen Nasional). Dengan membawa berbagai senjata tajam, kepungan tank dan panser pasukan Jepang diterobos. Rakyat minta perang. Menunggu perintah Presiden Soekarno menghancurkan Jepang.

Bung Karno naik mimbar dan untungnya berhasil menenangkan massa yang sudah siap berani mati . "Belasan ribu orang tersebut bisa ditenangkan. Mereka kembali ke rumah masing-masing," kata Mangil Martowidjojo, Pengawal Bung Karno dalam "Pengalaman dan Kesaksian Sejak Proklamasi Sampai Orde Baru". Sementara oleh dua orang penjemputnya, Gatot dan Umar diantar ke Jalan Bonang.

Di sebuah rumah bagus milik BR. Motik, yakni kakak Johan salah seorang pengurus Gerakan Angkatan Muda Indonesia (GAMI). Gatot dan Umar menginap sambil menunggu perintah selanjutnya. Esok harinya, oleh aktivis GAMI, keduanya dibawa ke Sawah Besar. Di sebuah rumah yang sudah disiapkan, Gatot dan Umar dipertemukan dengan kurir kemerdekaan dari daerah lain.

Suroso Prawirodirdjo dari Madiun. Pemuda Suroso merupakan pegawai jawatan kereta api yang juga aktif di organisasi Angkatan Muda Kereta Api. Dari Madiun Suroso ditemani Bonggar, pegawai jawatan kereta api kelahiran Sumatera Utara. Gatot dan Umar yang berusia paling belia juga diperkenalkan dengan pemuda Indratno, kurir kemerdekaan asal Yogyakarta, Supardi dari Banyumas, Cik Somad asal Palembang, Syamsudin dari Bengkulu, Anwar serta Azwar dan Rivai (Keduanya kakak adik) dari Minangkabau, dan Hamid dari Tapanuli.

Baca juga: Kisah Lamajang Tigang Juru, Kerajaan di Selatan Mahameru yang Menggetarkan Majapahit

Di Jakarta yang situasinya mencekam , mereka menginap selama dua minggu. Briefing dan arahan mereka terima. Hingga tiba saatnya melanjutkan jalan. Dari Sawah Besar mereka bersama-sama menuju Pasar Ikan untuk menaiki kapal. Tim kurir kemerdekaan dibagi. Umar dan Cik Somad ke Lampung. Syamsudin dan Supardi ke Bengkulu. Azwar, Rifai dan Anwar ke Sumatra Barat. Suroso dan Bonggar ke Sumatra Utara serta Gatot dan Hamid ke Tapanuli.

Perjalanan sempat terjeda lima hari, karena mesin kapal mendadak rusak dan harus dibenahi. Masih di perairan Tangerang, kapal kayu itu kembali mogok. Dibantu nelayan yang melintas, rombongan dievakuasi ke darat. Mereka memutuskan mendatangi markas Akademi Militer Tangerang. Gatot Cs sempat bertemu tokoh militer Daan Mogot dan Kemal Idris.

Setelah istirahat semalaman, rombongan diantar menuju Serang. Di atas geladak kapal BKR (Badan Keamanan Rakyat) Laut, yakni cikal bakal TRI dan TNI, rombongan menyeberang ke Sumatera . Untuk menghindari patroli Belanda di selat Sunda, penyeberangan melalui Anyer dilakukan pagi-pagi buta. Empat jam terapung di atas air. Penumpang yang belum terbiasa mulai terserang mabuk laut. Menguras isi perut untuk diberikan kepada ikan-ikan. Suroso, salah satunya.

Rombongan akhirnya sampai di Ketapang yang dilanjut dengan menempuh jalan darat. Semuanya berjalan kaki hingga tiba di Kalianda, Lampung. Sebuah truk jemputan menunggu. Satu-persatu naik, dan langsung diangkut menuju Tanjungkarang. Tiba di kediaman Residen Lampung Mr Harahap, semua diminta turun. Rombongan melihat Hayat Harahap, tokoh GAMI yang mereka temui di Jakarta, sudah ada di lokasi.

Semua merasa lega karena ternyata tidak tersesat. Rasa penat dilepas. Dua malam mereka menginap sekaligus bisa beristirahat. Tepat hari ketiga, semua berkemas, karena perjalanan kembali dilanjutkan. Dengan bekal beras dan uang ala kadar, tugas sebagai kurir kemerdekaan , dimulai.

Baca juga: Bandar Laut Besar Itu Bernama Pasuruan
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Sasar Siswa SMA, Kemendagri...
Sasar Siswa SMA, Kemendagri Gelar Dialog Pemahaman Nilai Sejarah
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Permukiman Prasejarah...
Permukiman Prasejarah Ditemukan di Gurun Yordania
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Peristiwa Bersejarah...
Peristiwa Bersejarah 21 Mei 1998, BJ Habibie Ucapkan Sumpah Jabatan Presiden di Istana Merdeka
Rekomendasi
Gelar Pertemuan di Ponpes...
Gelar Pertemuan di Ponpes Al Falah Ploso Kediri, Ini Tiga Seruan Masyayikh NU
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Berita Terkini
Jakarta Rawan Sinkhole,...
Jakarta Rawan Sinkhole, Wagub DKI Rano: Ada Daerah Berpotensi Ambles
Pramono Dampingi Megawati...
Pramono Dampingi Megawati Hadiri Bung Karno Festival di Taman Proklamasi
Kukuhkan Kepengurusan...
Kukuhkan Kepengurusan Nasional, GPIM Komitmen Sukseskan Program Prabowo
DPRD Kota Bandung Resmi...
DPRD Kota Bandung Resmi Sahkan Perda Pengendalian Perilaku Seksual Berisiko
HUT ke-499 Jakarta,...
HUT ke-499 Jakarta, Pramono Bakal Resmikan Ruang Publik di Rasuna Said dan Stasiun KRL JIS
Ombudsman Mengaku Dihalang-halangi...
Ombudsman Mengaku Dihalang-halangi saat Sidak Lapas Kelas IIA Cibinong
Infografis
3 Brigjen Dapat Promosi...
3 Brigjen Dapat Promosi Jabatan Jadi Irjen Pol pada Akhir Februari 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved