Lewat Webinar, Siloam Hospitals Palangkaraya Berbagi Ilmu Cara Penanganan Anak Terpapar COVID-19
Sabtu, 31 Juli 2021 - 09:17 WIB
loading...
A
A
A
Namun, menurut dokter, rasa khawatir para orangtua merupakan hal normal. Apalagi, pada anak usia balita, mereka masih belum bisa mengkomunikasikan apa saja yang mereka rasakan. "Karenanya, segera mengenali gejala yang timbul sejak awal seperti yang saya sampaikan tadi, merupakan hal tepat sebelum memberikan pertolongan lanjutan" imbuhnya. Baca juga: Arsya Hermansyah Sempat Terpapar Covid-19, Ashanty: Walau Sudah Negatif, Tetap Isoman 14 Hari
Menurutnya, resiko tinggi anak terpapar COVID-19 terutama tertular dari orangtuanya yang pulang bekerja, tertular dari klaster keluarga, terbatasnya akses deteksi dini, dan anak bermain tanpa protol kesehatan. "Untuk itu bagi orangtua sebaiknya hindarilah membawa anak keluar rumah, kecuali darurat," tutur dokter Agustina.
Orang tua, lanjutnya, dapat menerapkan isolasi mandiri pada anak, dengan syarat yang perlu diperhatikan seperti, tidak bergejala/asimtomatik, gejala ringan (batuk, pilek, demam, diare, muntah, ruam-ruam), anak masih aktif, bisa makan dan minum, menerapkan etika batuk, memantau gejala/keluhan, pemeriksaan suhu tubuh 2 kali sehari saat pagi dan malam, dan lingkungan rumah/kamar memiliki ventilasi yang baik.
"Namun perlu diperhatikan dalam penerapan isoman bahwa orang tua dapat tetap mengasuh anak yang positif, disarankan yang beresiko rendah, jika ada orang tua atau anggota keluarga yang positif, maka dapat diisolasi bersama disarankan berikan jarak tidur 2 meter dengan kasur terpisah. Tetap berikan dukungan psikologis pada anak," beber Agustina.
Lalu, selama kegiatan isolasi mandiri, protokol kesehatan tetap dilakukan, yaitu menggunakan masker, jaga jarak, cuci tangan, menerapkan etika batuk, periksa suhu tubuh pada pagi dan malam hari, periksa saturasi oksigen dan frekuensi nadi, pantau laju napas, tetap berikan ASI pada bayi, dan berikan makanan bergizi pada anak.
Menurutnya, resiko tinggi anak terpapar COVID-19 terutama tertular dari orangtuanya yang pulang bekerja, tertular dari klaster keluarga, terbatasnya akses deteksi dini, dan anak bermain tanpa protol kesehatan. "Untuk itu bagi orangtua sebaiknya hindarilah membawa anak keluar rumah, kecuali darurat," tutur dokter Agustina.
Orang tua, lanjutnya, dapat menerapkan isolasi mandiri pada anak, dengan syarat yang perlu diperhatikan seperti, tidak bergejala/asimtomatik, gejala ringan (batuk, pilek, demam, diare, muntah, ruam-ruam), anak masih aktif, bisa makan dan minum, menerapkan etika batuk, memantau gejala/keluhan, pemeriksaan suhu tubuh 2 kali sehari saat pagi dan malam, dan lingkungan rumah/kamar memiliki ventilasi yang baik.
"Namun perlu diperhatikan dalam penerapan isoman bahwa orang tua dapat tetap mengasuh anak yang positif, disarankan yang beresiko rendah, jika ada orang tua atau anggota keluarga yang positif, maka dapat diisolasi bersama disarankan berikan jarak tidur 2 meter dengan kasur terpisah. Tetap berikan dukungan psikologis pada anak," beber Agustina.
Lalu, selama kegiatan isolasi mandiri, protokol kesehatan tetap dilakukan, yaitu menggunakan masker, jaga jarak, cuci tangan, menerapkan etika batuk, periksa suhu tubuh pada pagi dan malam hari, periksa saturasi oksigen dan frekuensi nadi, pantau laju napas, tetap berikan ASI pada bayi, dan berikan makanan bergizi pada anak.
Lihat Juga :