Asal usul Ikan Tuing-tuing di Mandar dan Pancing Emas di Tenggorokan Putri Raja
Senin, 05 Juli 2021 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
Sebagai tanda terima kasih, Raja Kerajaan Naungsasi meminta Putra Raja untuk memilih hadiah. Ia berjanji akan memberi apapun yang dimintanya. Putra Raja hanya tersenyum. Ia lalu memandangi langit-langit kerajaan yang berisi sejumlah sangkar burung. Di dalamnya tampak sejumlah burung yang selama ini menjadi kesayangan sang raja.
Baca juga: Kisah Pangeran Soka, Syekh Magelung dan Sunan Gunung Jati
Perhatian Putra Raja sempat membuat perasaan Raja Kerajaan Naungsasi berdebar-debar. Ia tak bisa menyembunyikan rasa khawatir jika Putra Raja meminta burung-burung kesayangannya itu. Ia pun berusaha mengalihkan perhatian sang Putra Raja. “Anak muda! Apakah kamu menginginkan emas dan berlian?”
Namun mata Putra Raja tak pernah lepas dari burung-burung tersebut. “Saya tidak ingin hadiah yang lain, kecuali burung-burung ini,” kata Putra Raja. Asa Raja Kerajaan Naungsasi agar Putra Raja memilih hadiah yang lain pun pupus. Akhirnya, Raja Naungsasi mengabulkan permintaan putra raja. Akan tetapi, burung-burung itu tidak diserahkan secara langsung. “Saya akan mengirimkan burung-burung ini kepadamu setahun sekali dalam musim timur. Yakinlah, saya tidak akan ingkar janji,” kata Raja.
Putra Raja sangat senang dan bergegas kembali ke daratan. Putra Raja kemudian menemui sang adik dan kembali menyusuri Pantai Mandar menuju Kerajaan Arung Paria. Sesampainya di istana Kerajaan Arung Paria, Putra Raja lalu menunjukkan Pancing Emas kepada raja dan para penggawa dan hulubalang. Seisi kerajaan pun gembira.
Putra Raja kemudian menceritakan pengalamannya di Kerajaan Naungsasi kepada Raja Arung Paria. Ia juga mengisahkan bahwa Raja Naungsasi akan mengirim burung-burung miliknya setiap tahun sekali pada musim timur melalui Laut Mandar.
![Asal usul Ikan Tuing-tuing di Mandar dan Pancing Emas di Tenggorokan Putri Raja]()
Baca juga: Kisah Empu Sidi Mantra, Naga Besukih dan Selat Bali
Dan janji tersebut akhirnya ditepati oleh Raja Naungsasi. Setiap memasuki musim timur, langit Laut Mandar dipenuhi burung-burung yang terbang berkelompok. Namun burung itu bentuknya unik lantaran bersisik seperti ikan. Putra Raja kemudian memberi nama burung tersebut sebagai tuing-tuing atau dalam bahasa Indonesia dikenal bernama ikan terbang.
Sejak itu, ikan tuing-tuing menjadi sajian dalam pesta-pesta kerajaan. Ikan itu sampai sekarang masih menjadi sajian yang terkenal di daerah Mandar. Bahkan menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Sulbar.
Bahkan kini, jika Anda berkunjung ke Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), tepatnya di Kecamatan Somba, di tepi jalan berjejer warung-warung makan dengan menu favorite ikan tuing-tuing yang dipadu dengan makanan khas Mandar yang disebut dengan Jepa, terbuat dari singkong yang dihaluskan.
Sumber: Kemendikbud RI/cerita rakyat mandar
Baca juga: Kisah Pangeran Soka, Syekh Magelung dan Sunan Gunung Jati
Perhatian Putra Raja sempat membuat perasaan Raja Kerajaan Naungsasi berdebar-debar. Ia tak bisa menyembunyikan rasa khawatir jika Putra Raja meminta burung-burung kesayangannya itu. Ia pun berusaha mengalihkan perhatian sang Putra Raja. “Anak muda! Apakah kamu menginginkan emas dan berlian?”
Namun mata Putra Raja tak pernah lepas dari burung-burung tersebut. “Saya tidak ingin hadiah yang lain, kecuali burung-burung ini,” kata Putra Raja. Asa Raja Kerajaan Naungsasi agar Putra Raja memilih hadiah yang lain pun pupus. Akhirnya, Raja Naungsasi mengabulkan permintaan putra raja. Akan tetapi, burung-burung itu tidak diserahkan secara langsung. “Saya akan mengirimkan burung-burung ini kepadamu setahun sekali dalam musim timur. Yakinlah, saya tidak akan ingkar janji,” kata Raja.
Putra Raja sangat senang dan bergegas kembali ke daratan. Putra Raja kemudian menemui sang adik dan kembali menyusuri Pantai Mandar menuju Kerajaan Arung Paria. Sesampainya di istana Kerajaan Arung Paria, Putra Raja lalu menunjukkan Pancing Emas kepada raja dan para penggawa dan hulubalang. Seisi kerajaan pun gembira.
Putra Raja kemudian menceritakan pengalamannya di Kerajaan Naungsasi kepada Raja Arung Paria. Ia juga mengisahkan bahwa Raja Naungsasi akan mengirim burung-burung miliknya setiap tahun sekali pada musim timur melalui Laut Mandar.

Baca juga: Kisah Empu Sidi Mantra, Naga Besukih dan Selat Bali
Dan janji tersebut akhirnya ditepati oleh Raja Naungsasi. Setiap memasuki musim timur, langit Laut Mandar dipenuhi burung-burung yang terbang berkelompok. Namun burung itu bentuknya unik lantaran bersisik seperti ikan. Putra Raja kemudian memberi nama burung tersebut sebagai tuing-tuing atau dalam bahasa Indonesia dikenal bernama ikan terbang.
Sejak itu, ikan tuing-tuing menjadi sajian dalam pesta-pesta kerajaan. Ikan itu sampai sekarang masih menjadi sajian yang terkenal di daerah Mandar. Bahkan menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Sulbar.
Bahkan kini, jika Anda berkunjung ke Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), tepatnya di Kecamatan Somba, di tepi jalan berjejer warung-warung makan dengan menu favorite ikan tuing-tuing yang dipadu dengan makanan khas Mandar yang disebut dengan Jepa, terbuat dari singkong yang dihaluskan.
Sumber: Kemendikbud RI/cerita rakyat mandar
(nic)
Lihat Juga :