Kisah Anggota Jatanras Polda Metro Jaya Bisa Selamat dari Berondongan 11 Peluru Perampok
Minggu, 04 Juli 2021 - 21:06 WIB
loading...
A
A
A
Jacklyn menuturkan, dalam pengungkapkan kasus itu, sejumlah pelaku ditangkap. Namun ada satu yang lolos. Di kalangan reserse, sosok buron itu diistilahkan sebagai kapten, alias otak kejahatan.
Dalang perampok itu dikabarkan kabur ke Lampung. Tim Jatanras Polda Metro Jaya pun mengejar. Di tempat itu, mereka dapat informasi pelaku ternyata berada di Bandung. Jacklyn dan tim Jatanras Polda Metro pun bergerak memburu.
“Sampailah di Bandung, waktu itu jam 11 siang tanggal 7 November 2007, terjadilah baku tembak, di Rancaekek,” ujarnya.
Pria yang identik dengan rambut gondrong dan udeng (ikat kepala) itu menceritakan, di dekat pasar, tim Jatanras mencurigai mobil pelaku. Disusunlah skenario penyergapan. Polisi mengetahui pelaku di dalam mobil bersenjata api dan granat. Oleh para komandan, Jacklyn diingatkan untuk berhati-hati. Namun dalam pikirannya saat itu hanya satu, bagaimana caranya agar pelaku tertangkap.
Jacklyn menceritakan, dalam mobil terdapat empat orang pelaku. Tim Jatanras pun menyerbu. Jacklyn kebagian membuka pintu mobil dan merangsek ke dalem. Dia lantas mencekik sopir mobil. Namun di situ lah momen menegangkan terjadi. Saat dia masuk, tubuhnya disambut dengan berondongan tembakan. Di sisi lain dia juga melontarkan tembakan yang menewaskan pelaku. Jacklyn berlumuran darah. Sebelas peluru bersarang di tubuhnya.
“Yang di jantung 2 (dekat jantung), sini 1 (perut kiri), sini 2 (perut tengah),” kata Jacklyn sambil menunjukkan bagian perut. Total di area itu terdapat tujuh peluru. Satu peluru lagi di lengan kanan, dan tiga di lengan kiri, sehingga semuanya 11.
Saat ditanya Bamsoet apakah ketika itu dirinya sadar, Jacklyn mengiyakan. “Cuman kita istighfar aja. Cuman di situ ada suatu hal yang di luar nalar kita. Saat itu komandan juga nangis (dan bilang) ‘Jack jangan sampai (meninggal), harus kuat Jack’,” ucapnya.
Dalang perampok itu dikabarkan kabur ke Lampung. Tim Jatanras Polda Metro Jaya pun mengejar. Di tempat itu, mereka dapat informasi pelaku ternyata berada di Bandung. Jacklyn dan tim Jatanras Polda Metro pun bergerak memburu.
“Sampailah di Bandung, waktu itu jam 11 siang tanggal 7 November 2007, terjadilah baku tembak, di Rancaekek,” ujarnya.
Pria yang identik dengan rambut gondrong dan udeng (ikat kepala) itu menceritakan, di dekat pasar, tim Jatanras mencurigai mobil pelaku. Disusunlah skenario penyergapan. Polisi mengetahui pelaku di dalam mobil bersenjata api dan granat. Oleh para komandan, Jacklyn diingatkan untuk berhati-hati. Namun dalam pikirannya saat itu hanya satu, bagaimana caranya agar pelaku tertangkap.
Jacklyn menceritakan, dalam mobil terdapat empat orang pelaku. Tim Jatanras pun menyerbu. Jacklyn kebagian membuka pintu mobil dan merangsek ke dalem. Dia lantas mencekik sopir mobil. Namun di situ lah momen menegangkan terjadi. Saat dia masuk, tubuhnya disambut dengan berondongan tembakan. Di sisi lain dia juga melontarkan tembakan yang menewaskan pelaku. Jacklyn berlumuran darah. Sebelas peluru bersarang di tubuhnya.
“Yang di jantung 2 (dekat jantung), sini 1 (perut kiri), sini 2 (perut tengah),” kata Jacklyn sambil menunjukkan bagian perut. Total di area itu terdapat tujuh peluru. Satu peluru lagi di lengan kanan, dan tiga di lengan kiri, sehingga semuanya 11.
Saat ditanya Bamsoet apakah ketika itu dirinya sadar, Jacklyn mengiyakan. “Cuman kita istighfar aja. Cuman di situ ada suatu hal yang di luar nalar kita. Saat itu komandan juga nangis (dan bilang) ‘Jack jangan sampai (meninggal), harus kuat Jack’,” ucapnya.
Lihat Juga :