Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Fondasi Nasionalisme Bung Karno Dibangun dalam Ritual Meditasi Buku

loading...
Fondasi Nasionalisme Bung Karno Dibangun dalam Ritual Meditasi Buku
Fondasi nasionalisme Presiden Pertama RI Soekarno dibangun dalam pergulatan panjang. Di tengah keterbatasan, pundi-pundi kecintaan pada Tanah Air terbangun ketika Bung Karno kesepian di masa mudanya. Foto SINDOnews
SURABAYA - Fondasi nasionalisme Presiden Pertama RI Soekarno dibangun dalam pergulatan panjang. Di tengah keterbatasan, pundi-pundi kecintaan pada Tanah Air terbangun ketika Bung Karno kesepian di masa mudanya dan menempa semua keraguan itu di dapur nasionalime yang ada di Surabaya.

Malam-malam yang dilalui Bung Karno ketika menempuh sekolah dan tinggal di rumah milik HOS Tjokroaminoto berlalu dengan rangkaian kecemasan dan kesepian yang berkumpul dalam satu lipatan waktu. Kegelisahan anak muda yang penuh dengan pertanyaan dan daya cipta yang terbangun di tengah keterbatasan. Baca juga: Soekarno, Golongan Kiri, dan Pengkhianatan Pancasila

Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia menuliskan, Bung Karno bercerita tentang masa kecilnya di Peneleh, Surabaya. Malam-malam yang kesepian terkadang membuatnya menangis dan ingin bersandar pada sosok ayah.

Tjokroaminoto yang menjadi bapak kos merupakan panutan. Dan Bung Karno ingin bersandar di bahunya, hanya untuk sekedar membunuh rasa kesepian. Namun, Tjokroaminoto adalah pemimpin besar yang memiliki karakter kuat.

“Pak Cokro mencintaiku dengan caranya sendiri. Hanya caranya itu tidak cukup bagi seorang anak yang kesepian. Ia jarang berbicara, kalau ia ada di rumah selalu ada tamu atau ia bersamadi dalam kesunyian,” kata Bung Karno dalam bukunya.Baca juga: Luncurkan Buku Bung Karno, Guntur Ingin Kenalkan Sosok Soekarno dengan Cara Sederhana

Tjokroaminoto selalu memiliki cara untuk mendidik anak muda. Bung Karno pun selalu ikut nimbrung ketika ada tokoh yang datang ke Peneleh. Di kaki Tjokroaminoto, ia selalu mendapatkan banyak cerita. “Aku duduk di dekat kakinya, dan diberikan kepadaku buku-bukunya. Diberikannya padaku miliknya yang berharga,” kata Bung Karno.



Selama di Peneleh, buku-buku menjadi teman setia Bung Karno. Dengan dikelilingi kesadarannya, ia memperoleh konpensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keterputuasaan di luar. Ia benar-benar menikmati kesenangan dan kegembiraan dalam buku.

Seluruh waktunya dipakai untuk membaca. Ketika teman sebayanya bermain, Bung Karno berselancar di perpustakaan perkumpulan Theosofi. Ia pun menyelami dunia kebathinan dan bertemu dengan orang-orang besar. Buah pikiran mereka menjadi buah pikiran Bung Karno dalam menata nasionalisme.

Bung Karno menegaskan kalau dirinya secara mental sering berbicara dengan Thomas Jefferson. Merasakan kedekatan dan bersahabat dengannya serta selalu berbicara tentang Declaration of Independence yang ditulis pada 1776. Baca juga: Napak Tilas Sejarah Bung Karno Merenungkan Pancasila di Pengasingan Ende
M Purwadi
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top