Peduli Anak dan Lingkungan, Cucu Menko Luhut Tanam 1.000 Pohon Bakau di Pulau Ngenang Batam
Sabtu, 26 Juni 2021 - 05:30 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Faye, acara penanaman pohon bakau yang mengusung tema “Hijau Bumiku, Aman Masa Depanku” ini merupakan kontribusi Rumah Faye dalam perayaan HUT ke-20 Yayasan Del yang didirikan Luhut Binsar Pandjaitan dan Devi Pandjaitan. Kegiatan ini juga melibatkan Pemerintah Daerah, Kader Posyandu, dan Komunitas Perlindungan Anak dan Perempuan (KPAP), Forum Anak, dan masyarakat sekitar Pulau Ngenang.
“Kami percaya Pulau Ngenang dapat menjadi tempat yang optimal bagi anak-anak untuk bertumbuh dan berkembang secara optimal. Ide tanam bakau ini juga berangkat dari kekhawatiran anak-anak melihat daerah pantai yang sering erosi dan abrasi. Jadi, kami memasilitasi semangat anak-anak untuk melakukan aksi nyata yang manfaatnya jangka panjang," tutur Faye.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa Rumah Faye yang didirikan pada 2013 memiliki visi membebaskan anak Indonesia dari perdagangan manusia, kekerasan, dan eksploitasi. Untuk mewujudkan visi tersebut, Rumah Faye melakukan usaha pencegahan, pembebasan, dan pemulihan bagi korban.
Sejak tahun 2016 hingga saat ini, Rumah Faye yang berkantor di Jakarta dan Batam telah memberikan pendampingan terhadap 136 anak perempuan dan perempuan yang menjadi korban perdagangan manusia, kekerasan seksual dan prostitusi. "Ke depan kami masih akan fokus ke korban perdagangan, kekerasan dan eksploitasi anak yang kasusnya meningkat sejak pandemi Covid-19 ini," ucapnya.
Pegiat Perlindungan dan Pemberdayaan Anak dan Perempuan, RD Chrisanctus Paschalis Saturnus mengapresiasi kontribusi Rumah Faye khususnya terhadap masalah perdagangan orang di Batam.
“Kami percaya Pulau Ngenang dapat menjadi tempat yang optimal bagi anak-anak untuk bertumbuh dan berkembang secara optimal. Ide tanam bakau ini juga berangkat dari kekhawatiran anak-anak melihat daerah pantai yang sering erosi dan abrasi. Jadi, kami memasilitasi semangat anak-anak untuk melakukan aksi nyata yang manfaatnya jangka panjang," tutur Faye.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa Rumah Faye yang didirikan pada 2013 memiliki visi membebaskan anak Indonesia dari perdagangan manusia, kekerasan, dan eksploitasi. Untuk mewujudkan visi tersebut, Rumah Faye melakukan usaha pencegahan, pembebasan, dan pemulihan bagi korban.
Sejak tahun 2016 hingga saat ini, Rumah Faye yang berkantor di Jakarta dan Batam telah memberikan pendampingan terhadap 136 anak perempuan dan perempuan yang menjadi korban perdagangan manusia, kekerasan seksual dan prostitusi. "Ke depan kami masih akan fokus ke korban perdagangan, kekerasan dan eksploitasi anak yang kasusnya meningkat sejak pandemi Covid-19 ini," ucapnya.
Pegiat Perlindungan dan Pemberdayaan Anak dan Perempuan, RD Chrisanctus Paschalis Saturnus mengapresiasi kontribusi Rumah Faye khususnya terhadap masalah perdagangan orang di Batam.
Lihat Juga :