Keren, Pria Blitar Ini Mampu Ciptakan Sepeda Tenaga Matahari
Selasa, 08 Juni 2021 - 22:14 WIB
loading...
A
A
A
"Panel surya harganya Rp1,2 juta. Satu motor Rp1,3 juta. Diperlukan 12 biji baterei lithium, di mana satu bijinya Rp50 ribu, control baterei Rp100 ribu dan cash control Rp50 ribu," tutur Lilik. Begitu semua terkumpul, Lilik sudah tidak sabar. Semua bahan berbasis elektronik itu langsung dirakit. Semua ia kerjakan seorang diri.
Panel yang berfungsi sebagai tandon energi itu ditempatkan di atas sepeda. Aluminium segi empat itu, dalam posisi memayungi. Agar tegak lurus, Lilik menopang dengan besi yang disambungkan dengan las pada kerangka sepeda. Sementara motor berada di tengah as roda sepeda.
Sepintas menyerupai gardan. Sistem kerja motor, controller batery management system dan panel surya itu dihubungkan dengan saluran kabel. "Perakitan hingga proses trial dan error berlangsung sekitar sebulan," paparnya. Lilik mengaku tidak pernah mengenyam bangku universitas.
Sekolah formal tertingginya hanya SMA, yakni SMAN 01 Kota Blitar angkatan 1986. Selebihnya hanya ikut kursus. Kendati demikian, bagi bapak tiga anak ini, dunia elektronik bukan barang baru. Sedari kecil Lilik sudah bergaul akrab. Ia menyukainya. "Hobi dan sekaligus belajar otodidak," katanya.
Sejak SMP Lilik sudah berani mengotak atik radio. Terutama radio rusak milik keluarga, ia betulkan. Dia juga membongkar tape yang sudah tidak lagi bunyi. Membenahi kekurangan suara radio panggil (orari). Termasuk arloji juga ia pelajari. Bahkan sejak SMA, Lilik berani membuka jasa reparasi jam tangan.
Kerja sambilan itu mengakibatkan kedua matanya minus lebih dini. "Ilmu saya itu ilmu katon (terlihat) dan keling, cekel eling (memegang dan mengingat)," kata Lilik sembari tertawa. Selepas SMA Lilik sempat kursus markonis. Saat itu tahun 1990. Lilik menjadi pelaut.
Ia bekerja di kapal cargo yang ditempatkan di divisi markonis, yakni membaca sandi morse dan sejenisnya. Selama empat tahun ia keliling nusantara dan sejumlah negara di Asia. Hongkong, Taiwan dan Cina pernah ia singgahi. Saat itu Lilik digaji Rp20 ribu per jam atau sekitar 400 dollar per bulan.
Namun karena merasa kerja di atas air sulit berkembang dan bukan dunianya, Lilik memutuskan berhenti. "Hasil kerja buat beli tanah," terangnya. Lilik kembali ke Surabaya. Selama dua tahun ia belajar ilmu komputer di Institut Elektronika Indonesia. Mempelajari hardware dan software.
Panel yang berfungsi sebagai tandon energi itu ditempatkan di atas sepeda. Aluminium segi empat itu, dalam posisi memayungi. Agar tegak lurus, Lilik menopang dengan besi yang disambungkan dengan las pada kerangka sepeda. Sementara motor berada di tengah as roda sepeda.
Sepintas menyerupai gardan. Sistem kerja motor, controller batery management system dan panel surya itu dihubungkan dengan saluran kabel. "Perakitan hingga proses trial dan error berlangsung sekitar sebulan," paparnya. Lilik mengaku tidak pernah mengenyam bangku universitas.
Sekolah formal tertingginya hanya SMA, yakni SMAN 01 Kota Blitar angkatan 1986. Selebihnya hanya ikut kursus. Kendati demikian, bagi bapak tiga anak ini, dunia elektronik bukan barang baru. Sedari kecil Lilik sudah bergaul akrab. Ia menyukainya. "Hobi dan sekaligus belajar otodidak," katanya.
Sejak SMP Lilik sudah berani mengotak atik radio. Terutama radio rusak milik keluarga, ia betulkan. Dia juga membongkar tape yang sudah tidak lagi bunyi. Membenahi kekurangan suara radio panggil (orari). Termasuk arloji juga ia pelajari. Bahkan sejak SMA, Lilik berani membuka jasa reparasi jam tangan.
Kerja sambilan itu mengakibatkan kedua matanya minus lebih dini. "Ilmu saya itu ilmu katon (terlihat) dan keling, cekel eling (memegang dan mengingat)," kata Lilik sembari tertawa. Selepas SMA Lilik sempat kursus markonis. Saat itu tahun 1990. Lilik menjadi pelaut.
Ia bekerja di kapal cargo yang ditempatkan di divisi markonis, yakni membaca sandi morse dan sejenisnya. Selama empat tahun ia keliling nusantara dan sejumlah negara di Asia. Hongkong, Taiwan dan Cina pernah ia singgahi. Saat itu Lilik digaji Rp20 ribu per jam atau sekitar 400 dollar per bulan.
Namun karena merasa kerja di atas air sulit berkembang dan bukan dunianya, Lilik memutuskan berhenti. "Hasil kerja buat beli tanah," terangnya. Lilik kembali ke Surabaya. Selama dua tahun ia belajar ilmu komputer di Institut Elektronika Indonesia. Mempelajari hardware dan software.
Lihat Juga :