Ki Wijil, Pengusir Kerajaan Jin dan Mengenalkan Logam untuk Bertani
Sabtu, 05 Juni 2021 - 05:04 WIB
loading...
A
A
A
Ki Wijil semakin dihormati dan orang-orang yang menjadi muridnya tersebar ke berbagai daerah. Setiap orang yang berguru padanya harus memiliki sebuah janji untuk terus menjual murah hasil olahan besi pada petani miskin.
Nama Ki Wijil semakin tersohor, seluruh area baru yang dulu hutan belantara kini menjadi perkampungan besar yang ditinggali para pande besi. Ahli logam yang menyuplai semua hasil ke berbagai daerah di Indonesia. Menambah hasil panen para warga di berbagai daerah dengan alat yang dibutuhkan untuk bertani. Baca juga: Kisah Lamajang Tigang Juru, Kerajaan di Selatan Mahameru yang Menggetarkan Majapahit
![Ki Wijil, Pengusir Kerajaan Jin dan Mengenalkan Logam untuk Bertani]()
Mulai saat itu, selepas Subuh selalu ada bunyi nyaring yang bersahutan di tiap perkampungan. Benturan besi yang memiliki irama, menembus angin dan memecah dinginnya pagi. Orang-orang pun akhirnya menyebut kawasan dulu yang dikenal dengan hutan dan Ujunggaluh dengan sebutan tang-tang-tang. Kini kawasan itu dikenal dengan nama Ketintang, sebuah lokasi bisnis dan permukiman yang begitu vital di Surabaya Selatan.
Sampai saat ini, makam Ki Wijil masih bisa dijumpai warga di Jalan Ketintang Barat II, lokasinya satu area dengan Masjid Muttaqin. Sebuah kawasan yang dulunya Ki Wijil pernah membangun surau. Para warga sampai saat ini memahami betul bagaimana gotong royong dan kesejahteraan bersama lebih penting serta bisa terus ditanam di kehidupan masyarakat.
Setelah Mbah Wijil, perkembangan Kampung Ketintang bertambah dengan kedatangan Syeh Sayid Ali Abidin, yang datang untuk menyebarkan agama Islam. Bersama makam Mbah Wijil, makam Syeh Sayid Ali Abidin juga ada di Ketintang. Selain dikenal sebagai sentra pande besi, Kampung Ketintang juga dikenal sebagai penghasil padi yang tak pernah berhenti.
Tercatat, pabrik pengolahan padi dibangun di daerah Ketintang ketika zaman Belanda. Pabrik yang berdiri kokoh di kawasan Ketintang Madya tersebut pada temboknya tertulis dibangun tahun 1900. Dari kualitas dan penampilan rumah-rumah yang tersisa tersebut, tampak saat Ketintang menjadi lumbung padi, perekonomian penduduknya cukup baik serta cerita tentang Ki Wijil tak pernah ikut surut.
Nama Ki Wijil semakin tersohor, seluruh area baru yang dulu hutan belantara kini menjadi perkampungan besar yang ditinggali para pande besi. Ahli logam yang menyuplai semua hasil ke berbagai daerah di Indonesia. Menambah hasil panen para warga di berbagai daerah dengan alat yang dibutuhkan untuk bertani. Baca juga: Kisah Lamajang Tigang Juru, Kerajaan di Selatan Mahameru yang Menggetarkan Majapahit

Mulai saat itu, selepas Subuh selalu ada bunyi nyaring yang bersahutan di tiap perkampungan. Benturan besi yang memiliki irama, menembus angin dan memecah dinginnya pagi. Orang-orang pun akhirnya menyebut kawasan dulu yang dikenal dengan hutan dan Ujunggaluh dengan sebutan tang-tang-tang. Kini kawasan itu dikenal dengan nama Ketintang, sebuah lokasi bisnis dan permukiman yang begitu vital di Surabaya Selatan.
Sampai saat ini, makam Ki Wijil masih bisa dijumpai warga di Jalan Ketintang Barat II, lokasinya satu area dengan Masjid Muttaqin. Sebuah kawasan yang dulunya Ki Wijil pernah membangun surau. Para warga sampai saat ini memahami betul bagaimana gotong royong dan kesejahteraan bersama lebih penting serta bisa terus ditanam di kehidupan masyarakat.
Setelah Mbah Wijil, perkembangan Kampung Ketintang bertambah dengan kedatangan Syeh Sayid Ali Abidin, yang datang untuk menyebarkan agama Islam. Bersama makam Mbah Wijil, makam Syeh Sayid Ali Abidin juga ada di Ketintang. Selain dikenal sebagai sentra pande besi, Kampung Ketintang juga dikenal sebagai penghasil padi yang tak pernah berhenti.
Tercatat, pabrik pengolahan padi dibangun di daerah Ketintang ketika zaman Belanda. Pabrik yang berdiri kokoh di kawasan Ketintang Madya tersebut pada temboknya tertulis dibangun tahun 1900. Dari kualitas dan penampilan rumah-rumah yang tersisa tersebut, tampak saat Ketintang menjadi lumbung padi, perekonomian penduduknya cukup baik serta cerita tentang Ki Wijil tak pernah ikut surut.
(don)
Lihat Juga :