Drainase Tak Memadai dan Alih Fungsi Lahan jadi Pemicu Lembang Kerap Banjir
Sabtu, 22 Mei 2021 - 18:13 WIB
loading...
A
A
A
Tidak hanya itu, lanjut Yono, pada saluran air sepanjang 500 meter tersebut juga terjadi sedimentasi cukup parah sehingga harus dikeruk dengan alat berat. Saat itu sisa material tanah bercampur lumpur dan sampah yang berhasil dibersihkan cukup banyak.
Baca juga: Bangkalan Gempar! Anggota DPRD Fraksi Gerindra Diduga Terlibat Penembakan Warga Hingga Tewas
Sementara itu berdasarkan analisis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat, banjir di kawasan Lembang terjadi karena banyaknya alih fungsi lahan. Pasalnya, dari total 41.315, 32 hektare luas Kawasan Bandung Utara termasuk Lembang, lebih dari 10.427, 9 hektare sudah menjadi kawasan terbangun.
Mengkaji dari aspek lingkungan, banjir di Lembang juga merupakan dampak dari perubahan tata guna lahan. Semakin banyak kawasan terbangun di KBU maka peran lahan untuk menyerap air kian minimal. Sebab saat hujan, air tidak sempat terserap tanah dan tumbuhan tapi langsung limpas karena terhalang lapisan terbangun.
"Ini menjadi potensi ancaman ekologi di KBU sendiri dan cekungan Bandung. Karena laju volume air larian akan semakin besar. Hal itu diperparah dengan jaringan drainase yang buruk," tutur Direktur Eksekutif Walhi Jabar, Meiki W Paendong.
Baca juga: Bangkalan Gempar! Anggota DPRD Fraksi Gerindra Diduga Terlibat Penembakan Warga Hingga Tewas
Sementara itu berdasarkan analisis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat, banjir di kawasan Lembang terjadi karena banyaknya alih fungsi lahan. Pasalnya, dari total 41.315, 32 hektare luas Kawasan Bandung Utara termasuk Lembang, lebih dari 10.427, 9 hektare sudah menjadi kawasan terbangun.
Mengkaji dari aspek lingkungan, banjir di Lembang juga merupakan dampak dari perubahan tata guna lahan. Semakin banyak kawasan terbangun di KBU maka peran lahan untuk menyerap air kian minimal. Sebab saat hujan, air tidak sempat terserap tanah dan tumbuhan tapi langsung limpas karena terhalang lapisan terbangun.
"Ini menjadi potensi ancaman ekologi di KBU sendiri dan cekungan Bandung. Karena laju volume air larian akan semakin besar. Hal itu diperparah dengan jaringan drainase yang buruk," tutur Direktur Eksekutif Walhi Jabar, Meiki W Paendong.
(msd)
Lihat Juga :