Guru Sukabumi Lumpuh Usai Vaksinasi, KIPI Jabar: Tak Terbukti Terkait Vaksin COVID-19
Senin, 03 Mei 2021 - 21:44 WIB
loading...
A
A
A
Kusnandi menegaskan, masih dari hasil audit Komnas KIPI saat ini belum ditemukan bukti yang kuat mengenai keluhan gejala klinis SA terkait vaksin berdasarkan dari hasil surveilen KIPI dan Kejadian Ikutan dengan Perhatian Khusus (KIPK).
Menurutnya, hingga 21 April 2021 sudah 20 juta dosis vaksin diberikan pada warga Indonesia dan tidak ditemukan keluhan gejala klinis serupa yang dilaporkan, termasuk dari uji klinis vaksin COVID-19 tahap 1-3.
"Kesimpulannya, belum cukup bukti untuk menyatakan antara hubungan mata buram dan kelemahan anggota gerak dengan vaksinasi COVID-19," jelas Kusnandi membacakan surat dari Komnas KIPI yang ditandatangani oleh Ketua Komnas KIPI, Prof dr Hindra Irawan Satari.
Kusnadi mengatakan, SA sudah terinfeksi virus penyebab GBS dua minggu sebelum vaksin tanpa gejala apapun. Sehingga tidak terdeteksi saat skrining sebelum penyuntikan vaksin. Buramnya penglihatan dan juga lemahnya anggota gerak, kata Kusnandi, secara kebetulan terjadi usai SA mendapatkan vaksin.
Menurut dia, mendapatkan imunisasi atau tidak, dampak terinfeksi virus penyebab GBS akan terjadi seperti yang dialami SA, yaitu buramnya penglihatan dan lemahnya anggota gerak.
"Kalau ada reaksi vaksin yang berat itu dari 1 juta orang yang divaksinasi hanya satu orang yang mengalami, tapi itu masih bisa disokong yang lainnya dan terlindungi. Namun, efek samping tersebut sangat kecil dibanding dengan manfaat yang akan dirasakan dengan diimunisasi, yaitu lebih banyak keuntungannya," katanya.
Sementara itu, spesialisasi syaraf, Dewi Hawani mengatakan, GBS disebabkan oleh virus atau bakteri pada proses imunologis yang terjadi 2-4 minggu sebelum terjadinya gejala. GBS merupakan penyakit autoimun.
Menurutnya, hingga 21 April 2021 sudah 20 juta dosis vaksin diberikan pada warga Indonesia dan tidak ditemukan keluhan gejala klinis serupa yang dilaporkan, termasuk dari uji klinis vaksin COVID-19 tahap 1-3.
"Kesimpulannya, belum cukup bukti untuk menyatakan antara hubungan mata buram dan kelemahan anggota gerak dengan vaksinasi COVID-19," jelas Kusnandi membacakan surat dari Komnas KIPI yang ditandatangani oleh Ketua Komnas KIPI, Prof dr Hindra Irawan Satari.
Kusnadi mengatakan, SA sudah terinfeksi virus penyebab GBS dua minggu sebelum vaksin tanpa gejala apapun. Sehingga tidak terdeteksi saat skrining sebelum penyuntikan vaksin. Buramnya penglihatan dan juga lemahnya anggota gerak, kata Kusnandi, secara kebetulan terjadi usai SA mendapatkan vaksin.
Menurut dia, mendapatkan imunisasi atau tidak, dampak terinfeksi virus penyebab GBS akan terjadi seperti yang dialami SA, yaitu buramnya penglihatan dan lemahnya anggota gerak.
"Kalau ada reaksi vaksin yang berat itu dari 1 juta orang yang divaksinasi hanya satu orang yang mengalami, tapi itu masih bisa disokong yang lainnya dan terlindungi. Namun, efek samping tersebut sangat kecil dibanding dengan manfaat yang akan dirasakan dengan diimunisasi, yaitu lebih banyak keuntungannya," katanya.
Sementara itu, spesialisasi syaraf, Dewi Hawani mengatakan, GBS disebabkan oleh virus atau bakteri pada proses imunologis yang terjadi 2-4 minggu sebelum terjadinya gejala. GBS merupakan penyakit autoimun.
Lihat Juga :