Agro Jawa Barat Ekspansi Tanam Jagung di Banten
Jum'at, 16 April 2021 - 15:02 WIB
loading...
A
A
A
Di sisi lain, kebutuhan ayam untuk di DKI Jakarta dan Jabar, pemerintah selalu impor 15 ribu ton. Sementara, salah satu bahan dasar pakan ayam itu aalah jagung. Melihat hal itu, potensi ekonomi daerah sudah terlihat jelas dalam rangka mensejahterakan petani.
"Indonesia impor 15 ribu ton hanya 2 provinsi, DKI Jakarta dan Jabar. Sembada daging Jatim, Bali. Tapi Jabar dan DKI Jakarta importir terbesar, makanya perlu vertifikais ke ayam, makanya pakannya jagung 100 ribu ton pertahun. Pabriknya 8 ada di Serang," jelasnya. Baca juga: Kabar Gembira bagi Petani, Permintaan Jagung Rendah Aflatoxin Tinggi
Ia menjelaskan, PT. Agro Jabar bukan hanya memabntu dalam benih saja. Tapi akan mensuplai dari pupuk dan kebutuhan petani, dengan menggunakan sistem dana prestasi. Dari lahan satu hekatre, pihaknya siap membiayai modal Rp6 juta. Menurutnya, petani juga tidak perlu khawatir untuk menjual hasil panennya. Pihaknya akan menampung dan membeli dengan harga kesepakan di awal.
"Jagung per-hekatere hanya butuh Rp6 juta. Kalau 10 bulan Rp1 miliar. Tapi 6 bulan petani lapar, makanya ada dana prestasi namanya HOK Rp1 juta perbulan. Kalau petani menjaga tanaman 1 hektar 6 ton. Kalau dikali Rp4 ribu (per-kg) jadi Rp24 juta perpanen. Rp6 juta bibit, pupuk plus HOK Rp10 juta. Rp4,5 juta perbulan kalau dikali petani akan dapat," paparnya.
"Indonesia impor 15 ribu ton hanya 2 provinsi, DKI Jakarta dan Jabar. Sembada daging Jatim, Bali. Tapi Jabar dan DKI Jakarta importir terbesar, makanya perlu vertifikais ke ayam, makanya pakannya jagung 100 ribu ton pertahun. Pabriknya 8 ada di Serang," jelasnya. Baca juga: Kabar Gembira bagi Petani, Permintaan Jagung Rendah Aflatoxin Tinggi
Ia menjelaskan, PT. Agro Jabar bukan hanya memabntu dalam benih saja. Tapi akan mensuplai dari pupuk dan kebutuhan petani, dengan menggunakan sistem dana prestasi. Dari lahan satu hekatre, pihaknya siap membiayai modal Rp6 juta. Menurutnya, petani juga tidak perlu khawatir untuk menjual hasil panennya. Pihaknya akan menampung dan membeli dengan harga kesepakan di awal.
"Jagung per-hekatere hanya butuh Rp6 juta. Kalau 10 bulan Rp1 miliar. Tapi 6 bulan petani lapar, makanya ada dana prestasi namanya HOK Rp1 juta perbulan. Kalau petani menjaga tanaman 1 hektar 6 ton. Kalau dikali Rp4 ribu (per-kg) jadi Rp24 juta perpanen. Rp6 juta bibit, pupuk plus HOK Rp10 juta. Rp4,5 juta perbulan kalau dikali petani akan dapat," paparnya.
(don)
Lihat Juga :