Pangeran Raja Atas Angin, Sebar Islam di Bawah Bayang-bayang Ancaman Belanda
Minggu, 11 April 2021 - 05:02 WIB
loading...
A
A
A
Beliau pergi dari keraton menuju arah selatan melewati daerah pedalaman Pandeglang, Labah, Bogor, Cianjur, Surade, Sukabumi, hingga Cisewu Garut. Singkat cerita, tibalah Syekh Maulana Muhammad Syafei pada sebuah tempat yang dipandang cocok untuk dijadikan pusat penyebaran Islam sekaligus tempat persembunyian dari penjajah Belanda, yakni Cijenuk.
Lokasi ini berada di wilayah selatan dari Kota Bandung. Lokasinya yang berbukit dan jauh dari pusat pemerintahan kolonial seperti Bandung, Cianjur, Sumedang, dan Bogor dipandang sangat tepat, terutama untuk menghindari ancaman kolonial Belanda yang hendak membunuh para bangsawan Banten dan seluruh keturunannya sekitar abad ke-18.
Semula, Desa Cijenuk bernama Kampung Panaruban. Kata Panaruban berasal dari bahasa Arab, yakni Takorub yang berarti mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Cijenuk sendiri memiliki makna tempat berkumpul dan dalam perkembangan selanjutnya dusun atau kampung tersebut berubah menjadi Cijenuk.
Hingga saat ini, memang belum ditemukan catatan tertulis atau pun hasil penelitian yang secara rinci memuat tentang riwayat Islamisasi di daerah tersebut. Pembahasan tentang penyebaran Islam di daerah ini masih berkisar dari mulut ke mulut atau tradisi lisan berupa potongan-potongan kisah yang disampaikan oleh para orang tua atau leluhur maupun tokoh agama atau ulama setempat.
Namun, dari keterangan yang diperoleh, Syekh Maulana Muhamad Syafei memilih menggunakan metode dzikir dalam menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di tempat itu. Lama kelamaan, Cijenuk banyak didatangi para santri yang ingin belajar ajaran Islam. Baca juga: Jejak Pejuang Kemerdekaan di Penjara Tanpa Nama
Dalam syiar Islam itu, Syekh Maulana Muhammad Syafei dibantu oleh Eyang Jaga Wadana, Eyang Jaga Raksa, dan Eyang Jaga Wulan. Mereka berjuang tanpa kenal lelah untuk menegakkan dan mengembangkan syiar Islam seperti yang tekah diamanatkan leluhurnya.
Lokasi ini berada di wilayah selatan dari Kota Bandung. Lokasinya yang berbukit dan jauh dari pusat pemerintahan kolonial seperti Bandung, Cianjur, Sumedang, dan Bogor dipandang sangat tepat, terutama untuk menghindari ancaman kolonial Belanda yang hendak membunuh para bangsawan Banten dan seluruh keturunannya sekitar abad ke-18.
Semula, Desa Cijenuk bernama Kampung Panaruban. Kata Panaruban berasal dari bahasa Arab, yakni Takorub yang berarti mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Cijenuk sendiri memiliki makna tempat berkumpul dan dalam perkembangan selanjutnya dusun atau kampung tersebut berubah menjadi Cijenuk.
Hingga saat ini, memang belum ditemukan catatan tertulis atau pun hasil penelitian yang secara rinci memuat tentang riwayat Islamisasi di daerah tersebut. Pembahasan tentang penyebaran Islam di daerah ini masih berkisar dari mulut ke mulut atau tradisi lisan berupa potongan-potongan kisah yang disampaikan oleh para orang tua atau leluhur maupun tokoh agama atau ulama setempat.
Namun, dari keterangan yang diperoleh, Syekh Maulana Muhamad Syafei memilih menggunakan metode dzikir dalam menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di tempat itu. Lama kelamaan, Cijenuk banyak didatangi para santri yang ingin belajar ajaran Islam. Baca juga: Jejak Pejuang Kemerdekaan di Penjara Tanpa Nama
Dalam syiar Islam itu, Syekh Maulana Muhammad Syafei dibantu oleh Eyang Jaga Wadana, Eyang Jaga Raksa, dan Eyang Jaga Wulan. Mereka berjuang tanpa kenal lelah untuk menegakkan dan mengembangkan syiar Islam seperti yang tekah diamanatkan leluhurnya.
Lihat Juga :