Belajar dari Covid-19, UPF: Etika Pengelolaan Lingkungan Perlu Dihidupkan

Sabtu, 18 April 2020 - 22:59 WIB
loading...
Belajar dari Covid-19,...
Universal Peace Federation (UPF) selenggarakan seminar online, Sabtu (18/04/2020). Foto istimewa
A A A
JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang telah menimbulkan kepanikan massal, memaksa menusia untuk merenung kembali peran dan hubungannya dengan alam ciptaan. Muncul kesadaran kolektif akan pentingnya menegakkan etika pengelolaan lingkungan. Untuk itu dibutuhkan perubahan paradigma, dari anthropocentrism yang terbelenggu pada kepentingan manusia semata dan beralih kepada paradigma baru yang lebih seimbang dengan melihat nilai yang intrinsik yang dimiliki alam.

Kesadaran itu muncul dalam seminar online yang diselenggarakan Universal Peace Federation (UPF), Sabtu (18/04/2020). Dalam sambutannya, Prof. Dr. Payaman J. Simanjuntak, selaku yang mewakili UPF mengatakan, pihaknya mengapresiasi seminar yang digelar dalam suasana pandemi Covid-19.

"Dengan pembatasan kegiatan di seluruh dunia secara serempak, bumi kita ini dan alam lingkungan kita boleh beristirahat sebentar. Patut kita sadar, supaya nanti kita sangat hati-hati untuk mengelolanya, kita harus sama-sama menjaga kelestatiannya," beber Simanjuntak.

Seminar itu sendiri menghadirkan pembicara tunggal Dr. Barnabas Berty Ohoiwutun, MSC, dengan judul makalah Posisi dan Peran Manusia dalam Alam Menurut Deep Ecology Arne Naess. Dalam seminat yang dipandu moderator Dr. (Cand.) Petrus Lakonawa ini, Dr. Barnabas menjabarkan tiga ciri kahas Deep ecology Naess.

Pertama, nilai intrinsik, di mana setiap unsur dalam alam bernilai pada dirinya dan bukan karena bermanfaat bagi manusia (nilai instrumental). Kedua, kesetaraan ekosferik, di mana setiap elemen dalam alam memiliki hak yang setara untuk hidup dan berkembang. Ketida, realisasi diri, yakni setiap unsur memiliki tujuan untuk mewujudkan dirinya. "Jadi tidak saja manusia, hewan, tumbuhan bahkan batu, sungai pun memiliki tujuan yang hendak direalisasikan," bebernya.

Manusia, lanjutnya, memiliki posisi dan peran sebagai penanggungjawab atas alam. Hal ini dikarenakan manusia di dalam dirinya sendiri selain memiliki nilai-nilai luhur yang dianugerahkan oleh Tuhan pencipta semesta alam, juga merupakan alam atau bagian dari alam itu sendiri.

"Itu berarti merusak alam sama dengan merusak nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh Tuhan dalam hidupnya. Ia merusak alam dan pada saat yang sama, ia juga merusak dirinya sendiri" beber Dr. Barnabas yang juga pengajar Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng.

Menanggapi itu, Dr. Yustinus Suhardi Ruman sebagai seorang peserta seminar mengemukakan, persoalan yang dihadapi sekarang ini justru manusia tidak lagi menempatkan dirinya sebagai penanggunjgawab atas alam. Terminologi tanggungjawab bersifat positif dan aktif dalam pengertian manusia harus bisa memastikan secara aktif bahwa alam baik biotik mapun abiotik tetap terjadi kelestariannya.

"Dewasa ini terminologi tanggungjawab berubah menjadi penguasaan atas alam yang berdampak pada eksploitasi. Kelompok yang paling berperan terhadap penguasaan ini justru berasal dari negara dan bersekongkol dengan kelompok bisnis," beber Yustinus.

Dalam konteks itu, lanjutnya, moral kolektif yang bersumber dari kesadaran tentang deep ecology Naess tersebut perlu dihidupkan untuk menggerakan partisipasi masyarakat sebagai kelompok terdekat untuk melindungi alam kehidupan ini.
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kolaborasi Lingkungan...
Kolaborasi Lingkungan di Bandung, Menanam Harapan untuk Masa Depan Berkelanjutan
Kasus Timah Rp300 Triliun...
Kasus Timah Rp300 Triliun Harus Diselesaikan dengan UU Lingkungan
AQUA Paparkan Hasil...
AQUA Paparkan Hasil Kajian Sumber Daya Air DAS Kedunglarangan Pasuruan
Korupsi APD Covid-19,...
Korupsi APD Covid-19, Kejaksaan Tahan Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut
Tilep Duit Proyek Makam,...
Tilep Duit Proyek Makam, Kepala Dinas LH Karo Ditahan Kejaksaan
Aktivis Soroti Dugaan...
Aktivis Soroti Dugaan Kolusi Pembuatan Dokumen Lingkungan Hidup di Banten
Bupati Manggarai Pecat...
Bupati Manggarai Pecat 249 Tenaga Kesehatan Non-ASN, Ada Apa?
Tersangka Korupsi APD...
Tersangka Korupsi APD Covid-19, Kadinkes Sumut Ditangkap Kejaksaan
Sandiaga Uno Minta Warga...
Sandiaga Uno Minta Warga Cianjur Jaga Prokes usai Kasus Covid-19 Meningkat
Rekomendasi
Saksikan Malam Ini di...
Saksikan Malam Ini di INTERUPSI Siapa Suruh Datang Jakarta? Bersama Ariyo Ardi, Anisha Dasuki, Chico Hakim, dan Narasumber Lainnya, Live di iNews
Hukum Tajwid Surat At...
Hukum Tajwid Surat At Takatsur Lengkap Ayat 1 - 8, Surah yang Melarang Setiap Muslim untuk Hidup Bermewah-Mewahan
Sekilas Tarif Trump...
Sekilas Tarif Trump terhadap China, Uni Eropa, dan Ratusan Negara Lainnya
Berita Terkini
Arus Balik Lebaran Meningkat,...
Arus Balik Lebaran Meningkat, Korlantas Polri Siapkan One Way di KM 188 hingga KM 70
24 menit yang lalu
Cegah Kemacetan, Polisi...
Cegah Kemacetan, Polisi Terapkan Sistem One Way di Jalur Wisata Dieng
57 menit yang lalu
Arus Balik di Pantura...
Arus Balik di Pantura Indramayu Meningkat, Didominasi Pemotor
1 jam yang lalu
102.925 Pengunjung Serbu...
102.925 Pengunjung Serbu Ragunan di H+2 Lebaran, Jalanan Macet!
1 jam yang lalu
350.000 Kendaraan Padati...
350.000 Kendaraan Padati Jalur Puncak, Arus Balik Meningkat Akhir Pekan
2 jam yang lalu
Lonjakan Arus Mudik...
Lonjakan Arus Mudik di GT Kalikangkung Capai 5,8 Persen, Polisi: Tahun Ini Ada Anomali
2 jam yang lalu
Infografis
Usia Pensiun Prajurit...
Usia Pensiun Prajurit TNI dari Pangkat Terendah hingga Tertinggi
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved