Atlet Veteran Peraih Puluhan Medali, Kini Menjadi Tukang Becak
Sabtu, 27 Maret 2021 - 15:37 WIB
loading...
A
A
A
Meski sudah bekerja sebagai tukang becak, namun setiap hari dirinya tetap menyalurkan hobi. "Hobi itu saya salurkan setiap pagi sebelum bekerja dengan berlari dari rumah menuju Salatiga (ke tempat kerja). Sesampainya di Salatiga saya langsung mengambil becak di rumah pemiliknya dan mangkal di Jensud (Jalan Sudirman)," tuturnya.
Selanjutnya, pada saat usianya menginjak 44 tahun, tepatnya pada 1980, Darminto memiliki pemikiran untuk menjajal kemampuannya berlari dengan mengikuti seleksi training center Pelatnas lari maraton di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. "Saat itu, saya tidak punya uang untuk berangkat ke sana (Wonogiri). Akhirnya saya nekat berangkat ke Wonogiri dengan menaiki sepeda ontel. Berangkat dari rumah jam 5 pagi sampai sana jam 2 siang,” ungkapnya.
Sesampainya di Wonogiri, Darmianto langsung menghubungi panitia dan mengutarakan niat kedatangannya. Setelah mendaftarkan diri, Darmianto langsung bergabung dengan pelari muda Pelatnas di garis star untuk mengikuti uji coba lari maraton menempuh jarak sekitar 40 kilometer.
Selang beberapa waktu kemudian, uji coba lari maraton tersebut dimulai. Meski tidak masuk tiga besar, namun Darmianto bisa berlari sampai garis finish. Setelah mengikuti uji coba lari maraton itu, nama Darmianto mulai dikenal sebagai pelari veteran.Lantas dirinya mengawali karirnya dengan mengikuti kejuraan regional di Salatiga dan menyabet juara pertama. "Mulai saat itu, saya terus giat berlatih sendiri dan mengikuti sejumlah kejuaran tingkat nasional. Hasilnya, saya mendapat sejumlah medali," katanya.
Menurut Darmianto, semenjak menjuarai berbagai kejuaran lari tingkat nasional, namanya naik daun. Bahkan dirinya menjadi pelari veteran yang diperhitungkan di tingkat nasional. Kemudian pada 1990, Darmianto mewakili Indonesia mengikuti kejuaran internasional lari atlet veteran di Malaysia. Dia berhasil menyabet medali emas. "Pada 1992 saya kembali mengikuti kejuaran lari serupa di Malaysia. Alhamdulillah saya kembali bisa meraih medali emas," terangnya.
Selanjutnya, pada saat usianya menginjak 44 tahun, tepatnya pada 1980, Darminto memiliki pemikiran untuk menjajal kemampuannya berlari dengan mengikuti seleksi training center Pelatnas lari maraton di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. "Saat itu, saya tidak punya uang untuk berangkat ke sana (Wonogiri). Akhirnya saya nekat berangkat ke Wonogiri dengan menaiki sepeda ontel. Berangkat dari rumah jam 5 pagi sampai sana jam 2 siang,” ungkapnya.
Sesampainya di Wonogiri, Darmianto langsung menghubungi panitia dan mengutarakan niat kedatangannya. Setelah mendaftarkan diri, Darmianto langsung bergabung dengan pelari muda Pelatnas di garis star untuk mengikuti uji coba lari maraton menempuh jarak sekitar 40 kilometer.
Selang beberapa waktu kemudian, uji coba lari maraton tersebut dimulai. Meski tidak masuk tiga besar, namun Darmianto bisa berlari sampai garis finish. Setelah mengikuti uji coba lari maraton itu, nama Darmianto mulai dikenal sebagai pelari veteran.Lantas dirinya mengawali karirnya dengan mengikuti kejuraan regional di Salatiga dan menyabet juara pertama. "Mulai saat itu, saya terus giat berlatih sendiri dan mengikuti sejumlah kejuaran tingkat nasional. Hasilnya, saya mendapat sejumlah medali," katanya.
Menurut Darmianto, semenjak menjuarai berbagai kejuaran lari tingkat nasional, namanya naik daun. Bahkan dirinya menjadi pelari veteran yang diperhitungkan di tingkat nasional. Kemudian pada 1990, Darmianto mewakili Indonesia mengikuti kejuaran internasional lari atlet veteran di Malaysia. Dia berhasil menyabet medali emas. "Pada 1992 saya kembali mengikuti kejuaran lari serupa di Malaysia. Alhamdulillah saya kembali bisa meraih medali emas," terangnya.
Lihat Juga :