Korban Bencana Alami Depresi, Pak Kades: 3 Orang Sudah Dijemput Dinas Sosial
Senin, 01 Maret 2021 - 06:42 WIB
loading...
Korban bencana pergerakan tanah di Kempung Cirangkong, Desa Pasanggrahan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengalami depresi. Foto SINDOnews
A
A
A
PURWAKARTA - Korban bencana pergerakan tanah di Kempung Cirangkong, Desa Pasanggrahan, Kabupaten Purwakarta , Jawa Barat, mengalami depresi. Mereka diduga masih belum menerima tempat tingalnya rusak akibat bencana alam tersebut.
"Sudah ada tiga warga yang depresi, karena tidak bisa ditangani di sini, maka beberapa hari lalu terpaksa dijemput dinas sosial untuk mendapatkan penanganan khusus,"kata Kepala Desa Pasanggrahan Yadi Supriyadi, Minggu (28/2/2021).
Gangguan mental ini dinilainya wajar karena bagi masyarakat di pedesaan seperti Pasangrahan rumah adalah segalanya. Sementara sekarang akibat bencana pergerakan tanah tempat tinggalnya hancur dan tidak bisa ditempati lagi. Baca juga: Tinjau Penyaluran BST, Dirut Pos Indonesia Sambangi Korban Bencana Longsor di Purwakarta
"Rumah ku istanah ku, itu istilahnya. Bagi masyarakat di sini rumah adalah nomor satu. Mereka memilih tidak punya apa-apa asalkan bisa memiliki tempat tinggal. Bahkan ada yang harus rela kerja keluar negeri agar bisa membuat rumah bagus. Nah sekarang dengan sekejap apa yang dimiliki itu musnah akibat bencana alam. Jadi wajar jika ada yang depresi,"kata Yadi.
Beberapa hari lalu juga, Yadi pernah menemukan warganya yang menjadi korban pergerakan tanah sedang memperbaiki rumahnya, dengan mencoba menyusun kembali bata tembok rumahnya yang sudah abruk. Padahal semua tahu jika pergerakan tanah masih terjadi."Saat saya temui si korban yang diduga depresi ini lagi nemplok, dia buat adukan pasir dan semen sendiri. Katanya mau dibangun lagi. Kemidian orang ini, saya ajak bicara pelan-pelan dan akhirnya sadar, lalu saya bujuk ke pengungsian," tuturnya. Baca juga:
Tanah Bergerak, Rumah Warga Ambruk di Purwakarta
"Sudah ada tiga warga yang depresi, karena tidak bisa ditangani di sini, maka beberapa hari lalu terpaksa dijemput dinas sosial untuk mendapatkan penanganan khusus,"kata Kepala Desa Pasanggrahan Yadi Supriyadi, Minggu (28/2/2021).
Gangguan mental ini dinilainya wajar karena bagi masyarakat di pedesaan seperti Pasangrahan rumah adalah segalanya. Sementara sekarang akibat bencana pergerakan tanah tempat tinggalnya hancur dan tidak bisa ditempati lagi. Baca juga: Tinjau Penyaluran BST, Dirut Pos Indonesia Sambangi Korban Bencana Longsor di Purwakarta
"Rumah ku istanah ku, itu istilahnya. Bagi masyarakat di sini rumah adalah nomor satu. Mereka memilih tidak punya apa-apa asalkan bisa memiliki tempat tinggal. Bahkan ada yang harus rela kerja keluar negeri agar bisa membuat rumah bagus. Nah sekarang dengan sekejap apa yang dimiliki itu musnah akibat bencana alam. Jadi wajar jika ada yang depresi,"kata Yadi.
Beberapa hari lalu juga, Yadi pernah menemukan warganya yang menjadi korban pergerakan tanah sedang memperbaiki rumahnya, dengan mencoba menyusun kembali bata tembok rumahnya yang sudah abruk. Padahal semua tahu jika pergerakan tanah masih terjadi."Saat saya temui si korban yang diduga depresi ini lagi nemplok, dia buat adukan pasir dan semen sendiri. Katanya mau dibangun lagi. Kemidian orang ini, saya ajak bicara pelan-pelan dan akhirnya sadar, lalu saya bujuk ke pengungsian," tuturnya. Baca juga:
Tanah Bergerak, Rumah Warga Ambruk di Purwakarta
Lihat Juga :