Cerita Perjuangan Wartimah Melawan Penyakit Langka Bernama Hipertensi Paru
Kamis, 25 Februari 2021 - 12:07 WIB
loading...
A
A
A
"Saya sering menangis, sedih, pilu dan rasa takut membayangi saya setiap hari, karena sudah dari tahun 2010, tapi tetap tidak ada kejelasan bagaimana sakit saya ini bisa sembuh dan apa yang harus dilakukan. Mau berobat ke kota besar, tetapi terkendala keterbatasan biaya," jelas Wartimah.
Wartimah yang juga merupakan orang tua tunggal tersebut akhirnya memutuskan untuk memeriksakan penyakitnya tersebut ke RS Sardjito Yogyakarta pada tahun 2015 lalu. "Dari situ, baru tahu kalau saya ternyata terkena hipertensi paru-paru usai sebelumnya sempat mengalami salah diagnosa," tutur Wartimah.
Kondisi penyakit langka Hipertensi paru yang diderita oleh Wartimah menyebabkan dirinya sering mengalami sesak nafas, bahkan untuk berjalan dengan jarak lima puluh meter saja dirinya harus beristirahat sampai delapan kali karena sering mengalami sesak nafas.
"Saya dijadwalkan untuk operasi penutupan jantung bocor tanpa bedah dada namun ternyata saat tindakan, hasilnya gagal karena tekanan paru saya tinggi sehingga saya harus bolak balik Sardjito seminggu sekali selama dua tahun dan mengkonsumsi obat paru yang mahal," terang Wartimah.
Profesinya yang hanya sebagai ibu rumah tangga paska ditinggal sang suami membuat dirinya tidak patah semangat dalam menjalani hidup, meski menelan biaya hingga ratusan juta rupiah selama pengobatan dirinya mengaku bersyukur dan mengaku senang kini dapat terbebas dari penyakit hipertensi paru walau masih harus mengkonsumsi obat. Baca: Berkat Informasi di Medsos, 2 Perampas Motor Dibekuk Anggota Polres Kotamobagu.
Wartimah yang juga merupakan orang tua tunggal tersebut akhirnya memutuskan untuk memeriksakan penyakitnya tersebut ke RS Sardjito Yogyakarta pada tahun 2015 lalu. "Dari situ, baru tahu kalau saya ternyata terkena hipertensi paru-paru usai sebelumnya sempat mengalami salah diagnosa," tutur Wartimah.
Kondisi penyakit langka Hipertensi paru yang diderita oleh Wartimah menyebabkan dirinya sering mengalami sesak nafas, bahkan untuk berjalan dengan jarak lima puluh meter saja dirinya harus beristirahat sampai delapan kali karena sering mengalami sesak nafas.
"Saya dijadwalkan untuk operasi penutupan jantung bocor tanpa bedah dada namun ternyata saat tindakan, hasilnya gagal karena tekanan paru saya tinggi sehingga saya harus bolak balik Sardjito seminggu sekali selama dua tahun dan mengkonsumsi obat paru yang mahal," terang Wartimah.
Profesinya yang hanya sebagai ibu rumah tangga paska ditinggal sang suami membuat dirinya tidak patah semangat dalam menjalani hidup, meski menelan biaya hingga ratusan juta rupiah selama pengobatan dirinya mengaku bersyukur dan mengaku senang kini dapat terbebas dari penyakit hipertensi paru walau masih harus mengkonsumsi obat. Baca: Berkat Informasi di Medsos, 2 Perampas Motor Dibekuk Anggota Polres Kotamobagu.
Lihat Juga :