Guru Besar Unpad: Anak Korban Tersembunyi Pandemi COVID-19
Selasa, 23 Februari 2021 - 16:24 WIB
loading...
A
A
A
Terkait vaksin COVID-19, Prof Meita Dhamayanti mengatakan bahwa setiap individu akan mendapatkan vaksin tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Vaksin juga akan diberikan pada anak-anak yang mempunyai hak untuk mendapat perlindungan. Namun saat ini uji klinik vaksin pada anak masih dalam proses.
Selain imunisasi, permasalahan lain yang muncul di masa pandemi ini adalah terkait menurunnya pemberian ASI eksklusif, meningkatnya angka malnutrisi, dan stunting. "Stunting masih merupakan masalah, sekalipun tanpa adanya pandemi COVID-19," katanya.
Selama pandemi COVID-19, berdasarkan hasil penelitian di Bangka Belitung menunjukan peningkatan prevalensi anak beresiko stunting sebesar 4,3%. Peningkatan ini diasumsikan akibat adanya keterbatasan akses terhadap konsumsi dan pelayanan kesehatan selama pandemi COVID-19.
Selain itu, hak perlindungan anak selama masa pandemi COVID-19 pun menjadi terdampak. Menurut Prof Meita Dhamayanti, hal ini terjadi karena pembatasan sosial dapat berefek pada situasi ekonomi yang memburuk dengan tingginya tingkat pengangguran.
“Hal ini mengganggu stabilitas lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang serta memberikan banyak tekanan pada anak-anak, remaja, dan keluarga mereka yang dapat mengakibatkan masalah kesehatan, mental dan perilaku, perkembangan dan mungkin saja kekerasan terhadap anak,” ujarnya.
Pandemi COVID-19 pun memberikan dampak pada masalah mental emosional anak khususnya remaja. Sebelum pandemi, berdasarkan survei di sejumlah SMP dan SMA dengan menggunakan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ), diperoleh data conduct problems 38,9%, hyperactivity 15,6%, emotional symptoms 30%, peer problems 29,3%, dan masalah keseluruhan 31.6%.
Selain imunisasi, permasalahan lain yang muncul di masa pandemi ini adalah terkait menurunnya pemberian ASI eksklusif, meningkatnya angka malnutrisi, dan stunting. "Stunting masih merupakan masalah, sekalipun tanpa adanya pandemi COVID-19," katanya.
Selama pandemi COVID-19, berdasarkan hasil penelitian di Bangka Belitung menunjukan peningkatan prevalensi anak beresiko stunting sebesar 4,3%. Peningkatan ini diasumsikan akibat adanya keterbatasan akses terhadap konsumsi dan pelayanan kesehatan selama pandemi COVID-19.
Selain itu, hak perlindungan anak selama masa pandemi COVID-19 pun menjadi terdampak. Menurut Prof Meita Dhamayanti, hal ini terjadi karena pembatasan sosial dapat berefek pada situasi ekonomi yang memburuk dengan tingginya tingkat pengangguran.
“Hal ini mengganggu stabilitas lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang serta memberikan banyak tekanan pada anak-anak, remaja, dan keluarga mereka yang dapat mengakibatkan masalah kesehatan, mental dan perilaku, perkembangan dan mungkin saja kekerasan terhadap anak,” ujarnya.
Pandemi COVID-19 pun memberikan dampak pada masalah mental emosional anak khususnya remaja. Sebelum pandemi, berdasarkan survei di sejumlah SMP dan SMA dengan menggunakan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ), diperoleh data conduct problems 38,9%, hyperactivity 15,6%, emotional symptoms 30%, peer problems 29,3%, dan masalah keseluruhan 31.6%.
Lihat Juga :