Kisah Toko Bumi Ageung di Desa Parigi, Dirampas Belanda untuk Markas dan Rumah Sakit
Senin, 01 Februari 2021 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Kesaktian Hang Tuah dan Keris Taming Sari Menjaga Kedaulatan Kesultanan Malaka
Setelah Raden Djodjoh Hadijah Ratnaningrum dan Dudu Soeparman meninggal dunia, bangunan itu dirawat dan dihuni oleh Raden Titiek Kartiyanah dan suami Dedi Efendi. "Mama saya bercerita, bahwa bangunan ini banyak menyimpan sejarah ," tambahnya.
Pada zaman penjajahan Belanda, keluarga Raden Djodjoh Hadijah diusir dan bangunan toko batik itu ditempati menjadi markas Belanda . Selang beberapa tahun setelah jadi markas Belanda, oleh mereka dijadikan Pos Kesehatan hingga akhirnya menjadi tempat Sekolah Rakyat (SR) .
"Kalau bangunan yang jadi toko batik itu namanya Bumi Ageung , dan disampingnya ada bangunan rumah kecil yang pernah dijadikan rumah dinas dokter oleh Belanda," terangnya. Baca juga: Pasar Bong dan Riwayat Kuatnya Persaudaraan Lintas Zaman
Masyarakat sekitar biasanya menyebut dengan Toko Dudu. Toko tersebut, pada waktu itu menjual berbagai barang kebutuhan masyarakat sekitar daerah Parigi. "Bangunan toko atau Bumi Ageung dan Bumi Alit beberapa tahun tidak dihuni, sehingga menyimpan kesan angker," jelasnya.
Setelah Raden Djodjoh Hadijah Ratnaningrum dan Dudu Soeparman meninggal dunia, bangunan itu dirawat dan dihuni oleh Raden Titiek Kartiyanah dan suami Dedi Efendi. "Mama saya bercerita, bahwa bangunan ini banyak menyimpan sejarah ," tambahnya.
Pada zaman penjajahan Belanda, keluarga Raden Djodjoh Hadijah diusir dan bangunan toko batik itu ditempati menjadi markas Belanda . Selang beberapa tahun setelah jadi markas Belanda, oleh mereka dijadikan Pos Kesehatan hingga akhirnya menjadi tempat Sekolah Rakyat (SR) .
"Kalau bangunan yang jadi toko batik itu namanya Bumi Ageung , dan disampingnya ada bangunan rumah kecil yang pernah dijadikan rumah dinas dokter oleh Belanda," terangnya. Baca juga: Pasar Bong dan Riwayat Kuatnya Persaudaraan Lintas Zaman
Masyarakat sekitar biasanya menyebut dengan Toko Dudu. Toko tersebut, pada waktu itu menjual berbagai barang kebutuhan masyarakat sekitar daerah Parigi. "Bangunan toko atau Bumi Ageung dan Bumi Alit beberapa tahun tidak dihuni, sehingga menyimpan kesan angker," jelasnya.
Lihat Juga :