Daendels dan Denyut Wisata Religi di Jawa Timur
Jum'at, 15 Januari 2021 - 04:59 WIB
loading...
A
A
A
Jalan itu akan membuat Daendels mampu dengan mudah memobilisasi pasukan dari Bogor ke seluruh Jawa. Lebar jalan itu sekitar 7,5 meter, sesuai dengan standar Eropa. Jalan yang dibangun berbatu dan berpasir agar mudah dilalui kuda.
Melalui jalan itu, Daendels melakukan koordinasi dengan bupati dan aparatnya di daerah. Jalan ini kemudian diberi nama De Grote Postweg karena Daendels mendirikan 50 stasiun pos antara Batavia dan Surabaya.
Dalam membangun proyek ini, Gubernur Jenderal Hindia Belanda itu menggunakan anggaran dari para bupati. Hanya untuk rute-rute berat saja dia menggunakan anggaran negara. Proyek jalan Daendels dimulai dari Anyer-Serang-Balaraja-Tangerang-DKI-Bekasi-Karawang-Pamanukan-Indramayu-Ajibarang-Cirebon-Brebes-Tegal-Pemalang-Pekalongan-Kendal-Semarang-Demak-Kudus-Pati-Rembang-Lasem-Tuban-Paciran-Sidayu-Gresik-Surabaya-Pasuruan-Probolinggo-Kraksaan-Besuki-Panarukan.
![Daendels dan Denyut Wisata Religi di Jawa Timur]()
Hanya dalam rentang waktu setahun, antara 1808 hingga 1809, sebentang jalan dari Anyer hingga Panarukan yang tadinya terputus-putus itu, rampung tersambungkan. Panjangnya kurang lebih 1.000kilometer (km). Setelah Indonesia merdeka, jalan ini menjadi rute utama mobilitas masyarakat.
Praktis semasa Orde Lama tidak ada jalan baru di pesisir utara yang dibangun pemerintah saat itu. Begitu pula semasa Orde Baru. Meski hanya tiga tahun di Hindia Belanda, proyek peninggalan dari Daendels tersebut masih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat hingga sekarang.
Melalui jalan itu, Daendels melakukan koordinasi dengan bupati dan aparatnya di daerah. Jalan ini kemudian diberi nama De Grote Postweg karena Daendels mendirikan 50 stasiun pos antara Batavia dan Surabaya.
Dalam membangun proyek ini, Gubernur Jenderal Hindia Belanda itu menggunakan anggaran dari para bupati. Hanya untuk rute-rute berat saja dia menggunakan anggaran negara. Proyek jalan Daendels dimulai dari Anyer-Serang-Balaraja-Tangerang-DKI-Bekasi-Karawang-Pamanukan-Indramayu-Ajibarang-Cirebon-Brebes-Tegal-Pemalang-Pekalongan-Kendal-Semarang-Demak-Kudus-Pati-Rembang-Lasem-Tuban-Paciran-Sidayu-Gresik-Surabaya-Pasuruan-Probolinggo-Kraksaan-Besuki-Panarukan.

Hanya dalam rentang waktu setahun, antara 1808 hingga 1809, sebentang jalan dari Anyer hingga Panarukan yang tadinya terputus-putus itu, rampung tersambungkan. Panjangnya kurang lebih 1.000kilometer (km). Setelah Indonesia merdeka, jalan ini menjadi rute utama mobilitas masyarakat.
Praktis semasa Orde Lama tidak ada jalan baru di pesisir utara yang dibangun pemerintah saat itu. Begitu pula semasa Orde Baru. Meski hanya tiga tahun di Hindia Belanda, proyek peninggalan dari Daendels tersebut masih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat hingga sekarang.
Lihat Juga :