MUI Jawa Timur Sebut Pembakaran Ponpes Al-Furqon Lamongan Ancam Harmonisasi Umat Beragama
Senin, 11 Januari 2021 - 15:45 WIB
loading...
A
A
A
Diketahui, dalam aksi pembakaran pada Jumat (1/1/2021), yang menjadi sasaran adalah asrama santri laki-laki. Kejadian yang kedua, pada Jumat (8/1/2021) yang dibakar adalah asrama santri putri. Sasarannya sama, yakni rak sepatu, sepatu serta puluhan timba untuk mencuci pakaian para santri. Peristiwa tersebut terjadi di saat para santri sedang melaksanakan salat Jum'at.
Kejadian ini sudah dilaporkan ke Polsek Laren dan Polres Lamongan. Sejauh ini belum diketahui siapa pelaku pembakaran tersebut. Apakah satu orang atau lebih berikut motifnya. Polisi agak kesulitan mengungkap kasus ini lantaran tidak ada saksi dan tidak ada petunjuk seperti kamera pengintai.
(Baca juga: Mengkhawatirkan! 3.000 Karyawan Pabrik di Karawang Terpapar COVID-19 )
Sebelumnya, Wakil Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim), Biyanto mendesak aparat kepolisian segera menangkap pelaku pembakaran. Dia juga meminta aparat kepolisian untuk membuka garis polisi atau police line di sekitar lokasi pembakaran. Sebab, pihaknya berencana melakukan perbaikan. Dengan begitu, proses pembelajaran bisa kembali dilakukan. "Pondok pesantren tidak bisa melakukan pembelajaran daring karena keterbatasan fasilitas," terangnya.
Saat ini, dari 67 santri, kata dia, sebagian besar berada di rumah orang tuanya. Banyak santri yang masih trauma akibat asrama mereka dibakar. Bagi yang trauma, akan mendapatkan pendampingan trauma healing dari Universitas Muhammadiyah (UM) Sidoarjo. "Para santri masih trauma kembali ke pondok. Mereka khawatir ketika di pondok dan sedang istirahat, asrama mereka kembali dibakar," pungkas Biyanto.
Kejadian ini sudah dilaporkan ke Polsek Laren dan Polres Lamongan. Sejauh ini belum diketahui siapa pelaku pembakaran tersebut. Apakah satu orang atau lebih berikut motifnya. Polisi agak kesulitan mengungkap kasus ini lantaran tidak ada saksi dan tidak ada petunjuk seperti kamera pengintai.
(Baca juga: Mengkhawatirkan! 3.000 Karyawan Pabrik di Karawang Terpapar COVID-19 )
Sebelumnya, Wakil Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim), Biyanto mendesak aparat kepolisian segera menangkap pelaku pembakaran. Dia juga meminta aparat kepolisian untuk membuka garis polisi atau police line di sekitar lokasi pembakaran. Sebab, pihaknya berencana melakukan perbaikan. Dengan begitu, proses pembelajaran bisa kembali dilakukan. "Pondok pesantren tidak bisa melakukan pembelajaran daring karena keterbatasan fasilitas," terangnya.
Saat ini, dari 67 santri, kata dia, sebagian besar berada di rumah orang tuanya. Banyak santri yang masih trauma akibat asrama mereka dibakar. Bagi yang trauma, akan mendapatkan pendampingan trauma healing dari Universitas Muhammadiyah (UM) Sidoarjo. "Para santri masih trauma kembali ke pondok. Mereka khawatir ketika di pondok dan sedang istirahat, asrama mereka kembali dibakar," pungkas Biyanto.
(msd)
Lihat Juga :