Ada Jejak India, Majapahit, dan Belanda di Pulau Sabu
Minggu, 10 Januari 2021 - 05:01 WIB
loading...
A
A
A
Dan di India terdapat Kota Surat yang berada wilayah Gujarat Selatan, dekat Kota Bombay, Teluk Cambay, India Selatan. Kota Gujarat kala itu sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di India Selatan dan menjadi kota pantai yang sudah berkembang di bidang palayaran. Kuat dugaan, kelompok pelarian perang dari Kota Surat (wilayah Gujarat) ini terdampar dan menetap di Pulau Sawu yang mungil dan aman.
Orang Sabu sendiri memang tidak dapat melafalkan kata Surat dan Gujarat sebagaimana mestinya, sehingga mereka menyebut kata Surat itu dengan Hura. Nah, konon para pendatang dari Kota Surat yang menjadi penghuni pertama pulau ini dipimpinan oleh Kika Ga dan saudaranya Hawu Ga. Keturunan Kika Ga inilah yang disebut orang Sabu (Do Hawu). Setelah kawin-mawin mereka kemudian menyebar di Pulau Sabu dan Raijua dan menjadi cikal bakal orang Sabu.
Jejak Majapahit
Ekpansi Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 terasa hingga ke pelosok terluar bumi nusantara. Di Pulau Sabu, ada sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa Majapahit pernah menanamkan kekuasaanya di pulau ini dari abad ke-14 hingga awal abad ke-16. Menurut cerita lisan di kalangan rakyat, Raja Majapahit sangat dihormati di sana bahkan raja dan istrinya diceritakan pernah tinggal di Ketita di Pulau Raijua dan Pulau Sabu.
Bukti bahwa Majapahit pernah menguasai pulau ini antara lain adanya batu peringatan untuk Raja Majapahit yang disebut Wowadu Maja dan sebuah Sumur Maja di wilayah Daihuli dekat Ketita. Selain itu, ada upacara yang diadakan oleh salah satu Udu di Raijua, Udu Nadega yang diberi julukan Ngelai yang menurut cerita adalah keturunan orang-orang Majapahit.
Tidak hanya itu. Masuknya pengaruh kerajaan dari Jawa itu juga bisa ditemukan lewat motif pada tenunan selimut orang Sabu yang bergambar Pura. Bukti lain, di Mesara ada desa yang bernama Tana Jawa yang penduduknya mempunyai karakter dan ciri-ciri seperti orang Jawa. Lalu, ada tempat di dekat pelabuhan Mesara yang disebut dengan Mulie yang setelah ditelusuri, kata itu diambil dari bahasa Jawa Mulih, yang berarti pulang.
Jejak Belanda
Orang Sabu sendiri memang tidak dapat melafalkan kata Surat dan Gujarat sebagaimana mestinya, sehingga mereka menyebut kata Surat itu dengan Hura. Nah, konon para pendatang dari Kota Surat yang menjadi penghuni pertama pulau ini dipimpinan oleh Kika Ga dan saudaranya Hawu Ga. Keturunan Kika Ga inilah yang disebut orang Sabu (Do Hawu). Setelah kawin-mawin mereka kemudian menyebar di Pulau Sabu dan Raijua dan menjadi cikal bakal orang Sabu.
Jejak Majapahit
Ekpansi Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 terasa hingga ke pelosok terluar bumi nusantara. Di Pulau Sabu, ada sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa Majapahit pernah menanamkan kekuasaanya di pulau ini dari abad ke-14 hingga awal abad ke-16. Menurut cerita lisan di kalangan rakyat, Raja Majapahit sangat dihormati di sana bahkan raja dan istrinya diceritakan pernah tinggal di Ketita di Pulau Raijua dan Pulau Sabu.
Bukti bahwa Majapahit pernah menguasai pulau ini antara lain adanya batu peringatan untuk Raja Majapahit yang disebut Wowadu Maja dan sebuah Sumur Maja di wilayah Daihuli dekat Ketita. Selain itu, ada upacara yang diadakan oleh salah satu Udu di Raijua, Udu Nadega yang diberi julukan Ngelai yang menurut cerita adalah keturunan orang-orang Majapahit.
Tidak hanya itu. Masuknya pengaruh kerajaan dari Jawa itu juga bisa ditemukan lewat motif pada tenunan selimut orang Sabu yang bergambar Pura. Bukti lain, di Mesara ada desa yang bernama Tana Jawa yang penduduknya mempunyai karakter dan ciri-ciri seperti orang Jawa. Lalu, ada tempat di dekat pelabuhan Mesara yang disebut dengan Mulie yang setelah ditelusuri, kata itu diambil dari bahasa Jawa Mulih, yang berarti pulang.
Jejak Belanda
Lihat Juga :