Rahasia Sukses Vietnam Atasi Pandemi COVID-19
Kamis, 14 Mei 2020 - 20:33 WIB
loading...
A
A
A
“Aparat di sana bergerak cepat sekali. Begitu ketahuan, jejak mereka langsung ditelusuri. Sebelumnya pergi ke mana, makan di restoran apa, tidur di hotel apa, sampai pijat di mana. Dari situ cerita langsung ketahuan. Restoran tempat mereka makan sebelumnya langsung ditutup, langsung sepi,” kata dia.
Vietnam cepat menanggulangi pandemi ini diantaranya karena sistem politik memungkinkan (sosialis komunis), law enforcement, dan pengawasannya berjalan efektif. “Kalau pemerintah bilang jangan keluar jalanan langsung sepi. Ada speaker di jalan-jalan yang terus memberi pengumuman,” ujar di.
Ibnu Hadi melihat, pengawasan yang dijalankan pemerintah Vietnam langsung juga masuk ke ranah privat. Jadi, orang seringkali merasa privasinya dilanggar.
“Jadi jika seseorang terkonfirmasi positif, pemerintah akan cepat dan tanggap untuk menangani kasus tersebut. Kami lacak pasien sebelumnya pergi kemana, sedang apa, dan semuanya itu didata. Setelah itu, Vietnam akan menutup tempat yang diduga lokasi penyebaran virus. Begitu pula dengan perusahaan akan ditutup jika ada salah satu karyawannya dinyatakan positif COVID-19,” kata dia.
Aktivitas masyarakat diberbagai sektor mulai aktif beroperasi dan berangsur pulih. Penggunaan transportasi domestik, tempat ibadah, pedagang, aktivitas entertainment dan olahraga mulai dilakukan kembali oleh masyarakat. Namun, kebijakan pemerintah tetap dilakukan dalam menekan angka penyebaran COVID-19.
“Walaupun relaksasi, ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi oleh masyarakat seperti tetap mengikuti himbauan menjaga kebersihan dan social distancing. Selain itu, ativitas di dalam ruangan juga dibatasi sebanyak 20 orang, sedangkan di luar ruangan tidak boleh melebihi 30 orang. Begitu juga dengan tempat ibadah mulai dibuka tetapi kami batasi jumlah umatnya dan tetap melarang kegiatan masyarakat yang mengundang massal,” jelas Ibnu Hadi.
Ibnu Hadi menjelaskan perbedaan yang signifikan dapat dilihat dari jumlah data perkembangan terkait kasus COVID-19 di Indonesia dan Vietnam. Vietnam telah melakukan tes spesimen sebanyak 261.004 sedangkan Indonesia hanya terdata 119.728.
Vietnam cepat menanggulangi pandemi ini diantaranya karena sistem politik memungkinkan (sosialis komunis), law enforcement, dan pengawasannya berjalan efektif. “Kalau pemerintah bilang jangan keluar jalanan langsung sepi. Ada speaker di jalan-jalan yang terus memberi pengumuman,” ujar di.
Ibnu Hadi melihat, pengawasan yang dijalankan pemerintah Vietnam langsung juga masuk ke ranah privat. Jadi, orang seringkali merasa privasinya dilanggar.
“Jadi jika seseorang terkonfirmasi positif, pemerintah akan cepat dan tanggap untuk menangani kasus tersebut. Kami lacak pasien sebelumnya pergi kemana, sedang apa, dan semuanya itu didata. Setelah itu, Vietnam akan menutup tempat yang diduga lokasi penyebaran virus. Begitu pula dengan perusahaan akan ditutup jika ada salah satu karyawannya dinyatakan positif COVID-19,” kata dia.
Aktivitas masyarakat diberbagai sektor mulai aktif beroperasi dan berangsur pulih. Penggunaan transportasi domestik, tempat ibadah, pedagang, aktivitas entertainment dan olahraga mulai dilakukan kembali oleh masyarakat. Namun, kebijakan pemerintah tetap dilakukan dalam menekan angka penyebaran COVID-19.
“Walaupun relaksasi, ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi oleh masyarakat seperti tetap mengikuti himbauan menjaga kebersihan dan social distancing. Selain itu, ativitas di dalam ruangan juga dibatasi sebanyak 20 orang, sedangkan di luar ruangan tidak boleh melebihi 30 orang. Begitu juga dengan tempat ibadah mulai dibuka tetapi kami batasi jumlah umatnya dan tetap melarang kegiatan masyarakat yang mengundang massal,” jelas Ibnu Hadi.
Ibnu Hadi menjelaskan perbedaan yang signifikan dapat dilihat dari jumlah data perkembangan terkait kasus COVID-19 di Indonesia dan Vietnam. Vietnam telah melakukan tes spesimen sebanyak 261.004 sedangkan Indonesia hanya terdata 119.728.
Lihat Juga :