Kredit Fiktif Rp8,7 Miliar, Mantan Kepala Cabang BJB Tangerang Ditahan

loading...
Kredit Fiktif Rp8,7 Miliar, Mantan Kepala Cabang BJB Tangerang Ditahan
Mantan Kepala Cabang Bank Jabar Banten (BJB) Tangerang dijebloskan ke Lapas Pandeglang setelah Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten menahannya dalam perkara kredit fiktif senilai Rp8,7 miliar.
SERANG - KA, mantan Kepala Cabang Bank Jabar Banten (BJB) Tangerang harus meringkuk di Lapas Pandeglang setelah Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten menahannya dalam perkara kredit fiktif senilai Rp8,7 miliar.

Tersangka KA akan menghuni Lapas Pandeglang selama 20 hari ke depan. “Kami lakukan penahanan hingga 20 hari ke depan di Pandeglang,” kata Kepala Kejati Banten Asep Nana Mulyana kepada awak media, Selasa (5/1/2021).

Sebelumnya, Kejati Banten juga menahan tersangka DAW selaku direktur PT DAS dilakukan penahanan di Rutan Pandeglang. Tersangka dinilai kongkalingkong untuk memberikan kredit fiktif dengan dasar Surat Perintah Kerja (SPK) bodong proyek pekerjaan.

(Baca juga: Viral, Polisi Bantu Antarkan Jenazah Bayi ke Pemakaman yang Dibawa Ayahnya Menggunakan Motor )



Awal mula kasus terjadi pada tahun 2015 tersangka DAW mengajukan kredit ke BJB Cabang Tangerang dengan menggunakan SPK fiktif dari Pemda Sumedang. “Modus operandinya dari hasil penyelidikan bahwa tersangka DAW mengajukan kredit di Bank BJB Cabang Tangerang dengan menggunakan SPK fiktif,” ujar Asep.

Dijelaskan Asep, pengajuan kredit oleh DAW dilakukan sebanyak dua kali menggunakan perusahaan berbeda, pertama PT DAS meminjam uang Rp4,5 milar, kedua PT CR senilai Rp4,2 milar.

“DAW dengan menggunakan istrinya mengajukan kredit pada bank yang sama dengan perusahaan berbeda yakni PT CR dengan plafon kredit sebesar Rp4,2 miliar,” ujar Asep.



(Baca juga: Cacha Trio Macan Akhirnya Meninggal Dunia di RSUD Ungaran )

Kedua pengajuan pinjaman itu disetujui meskipun menggunakan SPK palsu, karena KA selaku Kepala Cabang BJB Tangerang sudah kongkalikong dengan tersangka DAW. Selain itu, KA juga diketahui menjabat sebagai komisaris di dua perusahaan swasta tersebut.

“Kedua tersangka sudah kerja sama, sudah berkonsiprasi, ini pembobolan bank, ini jelas pengerjaan tidak ada, kegiatan tidak ada, anggunanannya fiktif,” tegasnya.

Tersangka diancam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman pidana penjara minimal empat tahun maksimal 20 tahun.
(msd)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top