Ziarahi Makam Bung Karno, BPIP Jadikan Wafatnya Gus Dur Hari Perdamaian Politik Indonesia
Rabu, 30 Desember 2020 - 19:48 WIB
loading...
A
A
A
Pada hari peristiwa pembebasan Mekkah itu kemudian dikenang sebagai Hari kasih sayang. "Peristiwa revolusi pertama dalam sejarah yang tidak berdarah (Pembebasan Mekkah). Tidak ada darah menetes dan mengamnesti lawan lawannya," terang Yudian.
Dalam konteks Indonesia, puncak politik lapangan Nabi Muhammad tersebut, kata Yudian diteladani oleh Bung Karno dengan Proklamasi Kemerdekaan. Tidak ada darah yang tumpah dalam Proklamasi yang diterjemahkan sebagai peristiwa revolusi. Padahal Bung Karno menurut Yudian tidak hanya memerdekakan negara kecil. Tapi juga menyatukan 40 negara atau kerajaan di bawah Pancasila.
(Baca juga: Selama Pandemi COVID-19, Kejati Jatim Gelar 82.411 Sidang Secara Daring )
"Ternyata Bung Karno umat Islam yang paling berhasil meneladani puncak politik lapangan Rasulullah," papar Yudian. Nabi Muhammad juga memiliki Piagam Madinah dengan cita cita masyarakat majemuk. Spirit masyarakat majemuk itu, kata Yudian dalam tanda petik adalah Pancasila.
Kemudian dalam perjalanannya, masyarakat Indonesia mendaulat Gus Dur yang wafat 30 Desember sebagai Bapak Pluralisme Indonesia. Menurut Yudian secara simbolik pluralisme telah menyatu dengan cita cita masyarakat majemuk. Hal itu lalu ditindaklanjuti oleh Presiden Joko Widodo yang di periode kedua memberikan tempat bagi lawan politik utamanya.
Dalam konteks Indonesia, puncak politik lapangan Nabi Muhammad tersebut, kata Yudian diteladani oleh Bung Karno dengan Proklamasi Kemerdekaan. Tidak ada darah yang tumpah dalam Proklamasi yang diterjemahkan sebagai peristiwa revolusi. Padahal Bung Karno menurut Yudian tidak hanya memerdekakan negara kecil. Tapi juga menyatukan 40 negara atau kerajaan di bawah Pancasila.
(Baca juga: Selama Pandemi COVID-19, Kejati Jatim Gelar 82.411 Sidang Secara Daring )
"Ternyata Bung Karno umat Islam yang paling berhasil meneladani puncak politik lapangan Rasulullah," papar Yudian. Nabi Muhammad juga memiliki Piagam Madinah dengan cita cita masyarakat majemuk. Spirit masyarakat majemuk itu, kata Yudian dalam tanda petik adalah Pancasila.
Kemudian dalam perjalanannya, masyarakat Indonesia mendaulat Gus Dur yang wafat 30 Desember sebagai Bapak Pluralisme Indonesia. Menurut Yudian secara simbolik pluralisme telah menyatu dengan cita cita masyarakat majemuk. Hal itu lalu ditindaklanjuti oleh Presiden Joko Widodo yang di periode kedua memberikan tempat bagi lawan politik utamanya.
Lihat Juga :