Kisah Kesaktian Kiai Nawawi, Suwuk Kebal hingga Kerikil Granat
Minggu, 27 Desember 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
"Ketika hendak berperang, saat itu, kami semua minta suwuk dari Kiai Nawawi. Saya diberikan kain udeng. Sebelumnya kain udeng itu sudah dirajah oleh beliau. Saya dan teman-teman seperjuangan, kalau tidak salah sekitar 17 orang, membawa bekal masing-masing dari beliau," imbuh Sueb.
Tak hanya kain udeng, dari cerita-cerita yang berkembang di masyarakat, ada juga santri Kiai Nawawi yang dibekali tujuh butir batu kerikil. Kabarnya, butiran batu kecil itu bisa meledak layaknya granat tangan. Ada juga yang menyebut jika sorban Kiai Nawawi mampu menangkis peluru yang keluar dari moncong-moncong senjata tentara sekutu.
"Insya Allah semua itu benar. Beliau (Kiai Nawawi) memang memiliki ilmu yang cukup tinggi. Bahkan tidak ada satupun santrinya yang takut saat kita berperang di berbagai medan pertempuran," jelas sembari mengingat peristiwa itu.
Kendati terkenal memiliki kesaktian yang luar biasa, akan tetapi Kiai Nawawi akhirnya gugur di dalam pertempuran di Dusun Sumantoro, Desa Plumbungan, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo. Kiai Nawawi wafat pada 22 Agustus tahun 1946 usai dihujam bayonet oleh puluhan tentara sekutu yang mengepungnya. Sejumlah pasukan Hizbullah yang datang memberikan bantuan, terlambat menyelamatkan nyawa Kiai Nawawi.
"Jenazah Kiai Nawawi diamankan pasukan Hizbullah menuju ke Stasiun Krian. Kemudian diangkut dengan kereta api ke Stasiun Mojokerto. Tentara sekutu yang membunuh Kiai Nawawi semuanya mati, dibunuh pasukan Hizbullah saat itu," terang Sueb.
Gugurnya Kiai Nawawi seketika menyebar ke seluruh pelosok Mojokerto. Ribuan orang mengantarkan jenazahnya menuju ke peristirahatan terakhir TPU Mangunrejo di Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Atas jasa besarnya, nama Kiai Nawawi diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kota Mojokerto, berdasarkan Keputusan DPRD Kota Mojokerto No 8/DPRD/67 tanggal 30 Maret 1967.
Tak hanya kain udeng, dari cerita-cerita yang berkembang di masyarakat, ada juga santri Kiai Nawawi yang dibekali tujuh butir batu kerikil. Kabarnya, butiran batu kecil itu bisa meledak layaknya granat tangan. Ada juga yang menyebut jika sorban Kiai Nawawi mampu menangkis peluru yang keluar dari moncong-moncong senjata tentara sekutu.
"Insya Allah semua itu benar. Beliau (Kiai Nawawi) memang memiliki ilmu yang cukup tinggi. Bahkan tidak ada satupun santrinya yang takut saat kita berperang di berbagai medan pertempuran," jelas sembari mengingat peristiwa itu.
Kendati terkenal memiliki kesaktian yang luar biasa, akan tetapi Kiai Nawawi akhirnya gugur di dalam pertempuran di Dusun Sumantoro, Desa Plumbungan, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo. Kiai Nawawi wafat pada 22 Agustus tahun 1946 usai dihujam bayonet oleh puluhan tentara sekutu yang mengepungnya. Sejumlah pasukan Hizbullah yang datang memberikan bantuan, terlambat menyelamatkan nyawa Kiai Nawawi.
"Jenazah Kiai Nawawi diamankan pasukan Hizbullah menuju ke Stasiun Krian. Kemudian diangkut dengan kereta api ke Stasiun Mojokerto. Tentara sekutu yang membunuh Kiai Nawawi semuanya mati, dibunuh pasukan Hizbullah saat itu," terang Sueb.
Gugurnya Kiai Nawawi seketika menyebar ke seluruh pelosok Mojokerto. Ribuan orang mengantarkan jenazahnya menuju ke peristirahatan terakhir TPU Mangunrejo di Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Atas jasa besarnya, nama Kiai Nawawi diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kota Mojokerto, berdasarkan Keputusan DPRD Kota Mojokerto No 8/DPRD/67 tanggal 30 Maret 1967.
(shf)
Lihat Juga :