Kisah Kesaktian Kiai Nawawi, Suwuk Kebal hingga Kerikil Granat
Minggu, 27 Desember 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Pada tahun 1928, Kiai Nawawi dan teman-temannya mendirikan cabang Jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU) Mojokerto. Hanya berselang dua tahun pasca NU resmi didirikan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, pada 31 Januari 1926. Ketika itu, Kiai Nawawi menjabat pengurus Syuriah. Kiai Nawawi juga rutin turun ke musala-musala untuk melakukan dakwah.
"Selain menyebarkan ajaran Islam, Kiai Nawawi juga mengajak masyarakat melawan penjajah. Mulai sejak penjajahan belanda hingga saat Jepang datang ke Indonesia, tahun 1943. Ajaran beliau cinta tanah air dan bangsa adalah bagian dari iman," tulis Masrur.
Tak hanya dalam dakwah, Kiai Nawawi juga turun langsung ke medan palagan dalam melawan penjajah. Kala itu, pada Oktober 1945, pasukan pejuang berhasil dipukul mundur pasukan sekutu dari Kota Pahlawan. Tetara gabungan Inggris, Gurkha dan Belanda, ingin kembali menguasai Indonesia yang baru saja memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Wali Kota Surabaya Rajiman Nasution saat itu datang ke markas tentara Hizbullah yang selama ini membangun benteng di utara Alun-alun Kota Mojokerto. Kepada para kiai di Mojokerto, Rajiman Nasution meminta bantuan untuk menghadang pasukan sekutu yang hendak menguasai Sidoarjo dan Mojokerto.
Meski tak muda lagi, namun Kiai Nawawi menjadi orang pertama yang menyatakan kesiapannya turun ke medan pertempuran. Bersama KH Mansur, KH Abdul Jabar, KH Ridwan serta beberapa pasukan Hizbullah, pasukan Kiai Nawawi masuk ke Sidoarjo. Pasukan ini bergabung dengan pasukan kiai-kiai dari daerah lain di bawah pimpinan Kiai Hasan Bisri.
"Banyak pertempuran yang kami alami saat itu. Mulai dari pertempuran Surabaya, kemudian di wilayah Sepanjang, Kedurus, Kletek dan terakhir di Sukodono, Sidoarjo," tutur Sueb, salah seorang santri Kiai Nawawi yang saat itu turut serta ikut dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Kiai Nawawi, kata Sueb, merupakan sosok pejuang sejati. Ia tak pernah merasa takut kala melakukan kontak senjata dengan pasukan Belanda dan Inggris. Seakan tak takut peluru, Kiai Nawawi selalu berada di baris terdepan saat pertempuran dasyat pecah. Sueb pun mengaku, Kiai Nawawi juga membekali para santrinya dengan benda-benda yang telah dibaluri doa.
"Selain menyebarkan ajaran Islam, Kiai Nawawi juga mengajak masyarakat melawan penjajah. Mulai sejak penjajahan belanda hingga saat Jepang datang ke Indonesia, tahun 1943. Ajaran beliau cinta tanah air dan bangsa adalah bagian dari iman," tulis Masrur.
Tak hanya dalam dakwah, Kiai Nawawi juga turun langsung ke medan palagan dalam melawan penjajah. Kala itu, pada Oktober 1945, pasukan pejuang berhasil dipukul mundur pasukan sekutu dari Kota Pahlawan. Tetara gabungan Inggris, Gurkha dan Belanda, ingin kembali menguasai Indonesia yang baru saja memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Wali Kota Surabaya Rajiman Nasution saat itu datang ke markas tentara Hizbullah yang selama ini membangun benteng di utara Alun-alun Kota Mojokerto. Kepada para kiai di Mojokerto, Rajiman Nasution meminta bantuan untuk menghadang pasukan sekutu yang hendak menguasai Sidoarjo dan Mojokerto.
Meski tak muda lagi, namun Kiai Nawawi menjadi orang pertama yang menyatakan kesiapannya turun ke medan pertempuran. Bersama KH Mansur, KH Abdul Jabar, KH Ridwan serta beberapa pasukan Hizbullah, pasukan Kiai Nawawi masuk ke Sidoarjo. Pasukan ini bergabung dengan pasukan kiai-kiai dari daerah lain di bawah pimpinan Kiai Hasan Bisri.
"Banyak pertempuran yang kami alami saat itu. Mulai dari pertempuran Surabaya, kemudian di wilayah Sepanjang, Kedurus, Kletek dan terakhir di Sukodono, Sidoarjo," tutur Sueb, salah seorang santri Kiai Nawawi yang saat itu turut serta ikut dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Kiai Nawawi, kata Sueb, merupakan sosok pejuang sejati. Ia tak pernah merasa takut kala melakukan kontak senjata dengan pasukan Belanda dan Inggris. Seakan tak takut peluru, Kiai Nawawi selalu berada di baris terdepan saat pertempuran dasyat pecah. Sueb pun mengaku, Kiai Nawawi juga membekali para santrinya dengan benda-benda yang telah dibaluri doa.
Lihat Juga :