Kopi Tirto, Secangkir Kopi Merawat Bumi
Senin, 21 Desember 2020 - 05:53 WIB
loading...
A
A
A
Dia menjelaskan, Nirudaya mengajak partisipasi masyarakat dengan melibatkan anak muda desa untuk mau terjun ke usaha kopi. “Salah satunya adalah dengan melakukan pelatihan tentang standarisasi kualitas kopi dan roasting, dan pemasaran kopi. Harapan dari pelatihan tersebut adalah untuk meningkatkan nilai tambah kopi konservasi dan adanya regenerasi profesi petani kopi. Peserta dari pelatihan itu hampir semuanya adalah anak muda di Desa Mlandi, Wonosobo,” jelas dia.
Kolaborasi Danone-AQUA dengan Nirudaya ini merupakan wujud dari aspirasi para petani mengenai ketersediaan pasar untuk hasil panen mereka. “Kesimpulan yang didapatkan dari penelusuran itu adalah konservasi akan dilakukan ketika kebutuhan ekonomi tercukupi dan sebaliknya, ekonomi tanpa konservasi juga akan sia-sia karena tidak ada keberlanjutan. Kami yakin kopi konservasi seperti Kopi Tirto akan diminati pasar ditengah semakin tingginya perhatian konsumen terhadap lingkungan,” jelas Martin.
Petani kopi Tirto yang turut hadir dalam kesempatan itu, I Ketut Kartika Yasa, juga mengungkapkan manfaat yang telah dirasakan sejak mendapatkan pelatihan tentang budidaya kopi konservasi.
“Sejak mengikuti program ini tahun 2019, petani kopi di Badung (Bali) mulai merasakan manfaat dari segi peningkatan penghasilan. Kami juga tidak khawatir lagi dengan kekeringan karena tanaman kopi itu juga mampu menyerap atau menampung debit-debit air hujan. Karena air yang diserap nanti akan mengalir ke sungai-sungai,” jelas Yasa.
Yasa juga berharap agar kopi yang dibudidaya melalui program kopi konservasi ini bisa mendapatkan kualitas kopi yang terbaik. “Selama program ini berjalan kami selalu berusaha untuk berkembang. Dengan pendampingan dari Danone-AQUA kami berharap bisa menghasilkan kopi dengan kualitas yang baik dan diminati oleh para penikmat kopi tanah air,” kata dia.
Kolaborasi Danone-AQUA dengan Nirudaya ini merupakan wujud dari aspirasi para petani mengenai ketersediaan pasar untuk hasil panen mereka. “Kesimpulan yang didapatkan dari penelusuran itu adalah konservasi akan dilakukan ketika kebutuhan ekonomi tercukupi dan sebaliknya, ekonomi tanpa konservasi juga akan sia-sia karena tidak ada keberlanjutan. Kami yakin kopi konservasi seperti Kopi Tirto akan diminati pasar ditengah semakin tingginya perhatian konsumen terhadap lingkungan,” jelas Martin.
Petani kopi Tirto yang turut hadir dalam kesempatan itu, I Ketut Kartika Yasa, juga mengungkapkan manfaat yang telah dirasakan sejak mendapatkan pelatihan tentang budidaya kopi konservasi.
“Sejak mengikuti program ini tahun 2019, petani kopi di Badung (Bali) mulai merasakan manfaat dari segi peningkatan penghasilan. Kami juga tidak khawatir lagi dengan kekeringan karena tanaman kopi itu juga mampu menyerap atau menampung debit-debit air hujan. Karena air yang diserap nanti akan mengalir ke sungai-sungai,” jelas Yasa.
Yasa juga berharap agar kopi yang dibudidaya melalui program kopi konservasi ini bisa mendapatkan kualitas kopi yang terbaik. “Selama program ini berjalan kami selalu berusaha untuk berkembang. Dengan pendampingan dari Danone-AQUA kami berharap bisa menghasilkan kopi dengan kualitas yang baik dan diminati oleh para penikmat kopi tanah air,” kata dia.
(nth)
Lihat Juga :