Aliansi Kebangsaan-AIPI-HIPMI Gelar FGD Pariwisata Saat Pandemi
Sabtu, 19 Desember 2020 - 00:45 WIB
loading...
A
A
A
Jumlah itu jelas menurun drastis hingga 89,2% dibandingkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Agustus tahun lalu yang mencapai lebih dari 1,52 juta kunjungan. Akibatnya, Indonesia kehilangan pemasukan devisa sekitar USD14 miliar sampai USD15 miliar.
“Bali yang menjadi destinasi pilihan saat ini membatasi jumlah kunjungan dan kegiatan pariwisata sebagai upaya mencegah penyebaran COVID-19. Bali sendiri mengalami kerugian hingga lebih dari Rp8 triliun setiap bulannya. Kondisi ini akhirnya berimbas pada sektor-sektor pendukung pariwisata seperti penerbang, perhotelan, makanan, yang khususnya dimiliki sektor UMKM,” kata dia.
Meski demikian, Pontjo menyakini sebagaimana keyakinan banyak pihak bahwa sektor pariwisata akan mengalami kebangkitan. Karenanya, industri pariwisata harus siap beradaptasi dan berbenah. Pembukaan destinasi wisata harus memenuhi aturan dan mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Kebersihan, kesehatan, dan keselamatan menjadi yang utama.
Menurut dia, perlu kolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pariwisata Indonesia yang berbasis ilmu pengetahuan. Indonesia jangan hanya jadi penonton dan konsumen teknologi, harus terus mengejar ketertinggalan teknologi hingga akhirnya mandiri.
Sementara itu, pakar AIPI yang juga dosen ITB Satryo Dr Ir Myra P Gunawan MT menyampaikan, harapan tinggi terhadap pariwisata Indonesia belum didukung dengan perencanaan yang matang. Hal ini menyebabkan pembangunan pariwisata Indonesia terhambat oleh banyaknya pembangunan sektoral dan tumpang tindih antara sektor-sektor disiplin ilmu.
“Bali yang menjadi destinasi pilihan saat ini membatasi jumlah kunjungan dan kegiatan pariwisata sebagai upaya mencegah penyebaran COVID-19. Bali sendiri mengalami kerugian hingga lebih dari Rp8 triliun setiap bulannya. Kondisi ini akhirnya berimbas pada sektor-sektor pendukung pariwisata seperti penerbang, perhotelan, makanan, yang khususnya dimiliki sektor UMKM,” kata dia.
Meski demikian, Pontjo menyakini sebagaimana keyakinan banyak pihak bahwa sektor pariwisata akan mengalami kebangkitan. Karenanya, industri pariwisata harus siap beradaptasi dan berbenah. Pembukaan destinasi wisata harus memenuhi aturan dan mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Kebersihan, kesehatan, dan keselamatan menjadi yang utama.
Menurut dia, perlu kolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pariwisata Indonesia yang berbasis ilmu pengetahuan. Indonesia jangan hanya jadi penonton dan konsumen teknologi, harus terus mengejar ketertinggalan teknologi hingga akhirnya mandiri.
Sementara itu, pakar AIPI yang juga dosen ITB Satryo Dr Ir Myra P Gunawan MT menyampaikan, harapan tinggi terhadap pariwisata Indonesia belum didukung dengan perencanaan yang matang. Hal ini menyebabkan pembangunan pariwisata Indonesia terhambat oleh banyaknya pembangunan sektoral dan tumpang tindih antara sektor-sektor disiplin ilmu.
Lihat Juga :