WHO Tolak Gagasan Herd Imunity untuk Memerangi Covid-19

Rabu, 13 Mei 2020 - 15:48 WIB
loading...
WHO Tolak Gagasan Herd...
WHO tolak gagasan herd imunity untuk memerangi Covid-19. Foto SINDOnews
A A A
JENEWA - Ketiadaan vaksin untuk memerangi pandemi Covid-19 memunculkan gagasan herd imunity atau kekebalan kelompok guna mengalahkan virus mematikan tersebut. Namun gagasan itu ditolak mentah-mentah oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut Kepala program kedaruratan kesehatan WHO, Michael Ryan, gagasan herd imunity bisa menjadi kesalahan perhitungan yang mengerikan di tengah tidak adanya vaksin untuk virus Corona baru. "Ini adalah perhitungan yang sangat berbahaya," tegas Ryan dalam briefing awal pekan ini.

"Gagasan ini memungkinkan negara untuk melonggarkan langkah-langkah penguncian dan yang belum melakukan apapun tiba-tiba secara ajaib mengharapkan mendapatkan herd imunity - dan bagaimana jika kita kehilangan beberapa orang tua di sepanjang jalan?" tanyanya.

"Manusia bukan kawanan," tegas Ryan seperti dikutip dari Russia Today, Rabu (13/05/2020). Ia lantas memperingatkan bahwa menerapkan standar yang sama pada manusia dapat menyebabkan aritmatika yang sangat brutal yang tidak menempatkan orang dan kehidupan dan penderitaan di pusat persamaan itu.

Istilah herd imunity berasal dari kedokteran hewan dan awalnya merujuk pada konsep yang berfokur pada kesehatan populasi secara keseluruhan, dengan sedikit memperhatikan individu hewan. Idenya didasarkan pada premis bahwa ketika sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit menular, ia cenderung menyebar ke orang-orang yang tidak kebal. Namun, tanpa vaksin, itu berarti bahwa kebanyakan orang harus mengalahkan penyakit dengan mengembangkan kekebalan dan risikonya bisa terlalu tinggi.

Ryan menjelaskan bahwa kekebalan kawanan (herd imunity) hanya berlaku untuk manusia ketika para ilmuwan perlu menghitung berapa banyak individu yang harus divaksinasi agar masyarakat mencapai kekebalan kawanan yang tepat. Asumsi bahwa sebagian besar populasi global telah terinfeksi dan telah melalui bentuk ringan Covid-19 telah terbukti salah oleh studi epidemiologi awal.

"Proporsi penyakit klinis yang parah sebenarnya adalah proporsi yang lebih tinggi dari semua yang telah terinfeksi," ujar Ryan, memperingatkan bahwa virus Corona baru ternyata jauh lebih "serius" daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Pejabat WHO itu tidak menyebut negara mana pun secara khusus, tetapi pernyataannya dipandang merujuk pada apa yang diterapkan oleh Swedia dan negara-negara lain yang enggan untuk memberlakukan tindakan penguncian yang ketat, karena para ahli kesehatan setempat berpendapat bahwa herd imunity dapat dicapai sebagai gantinya.

Gagasan herd imunity tetap populer di beberapa outlet media Amerika Serikat (AS), tanpa kekurangan artikel yang membahas konsep tersebut, dan beberapa bahkan menyerukan kepada pemerintah negara bagian untuk membatalkan semua pembatasan dan mendorong populasi untuk mengembangkan kekebalan alami terhadap penyakit ini sebagai pengganti vaksin.

Namun Washington tetap enggan untuk menerapkan gagasan itu. Meski begitu, Presiden Donald Trump baru-baru ini mengatakan negara itu akan menghadapai kerugian yang berkelanjutan dan tidak dapat diterima seandainya negara itu tetap menerapkan penguncian. AS saat ini merupakan hotspot Covid-19 terburuk di dunia, dengan lebih dari 1,4 juta kasus dan lebih dari 80.000 kematian.
(don)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pramono Pastikan Kasus...
Pramono Pastikan Kasus Virus Nipah Belum Ditemukan di Jakarta
Warga Kabupaten Bandung...
Warga Kabupaten Bandung Barat Positif Virus Hanta usai Digigit Tikus Ciwidey
Lonjakan Covid-19 di...
Lonjakan Covid-19 di Jakarta sejak Awal 2025 Tembus 38 Kasus
Korupsi APD Covid-19,...
Korupsi APD Covid-19, Kejaksaan Tahan Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut
Bupati Manggarai Pecat...
Bupati Manggarai Pecat 249 Tenaga Kesehatan Non-ASN, Ada Apa?
Tersangka Korupsi APD...
Tersangka Korupsi APD Covid-19, Kadinkes Sumut Ditangkap Kejaksaan
Kepala WHO Kunjungi...
Kepala WHO Kunjungi Pusat Wabah Ebola
Disebut Calon Kuat Jadi...
Disebut Calon Kuat Jadi Direktur Jenderal WHO, Menkes Budi: Saya akan Konfirmasi
Zat Kimia Persisten...
Zat Kimia Persisten Ditemukan dalam 98,8% Darah Warga AS
Rekomendasi
Kecam Ketimpangan Layanan...
Kecam Ketimpangan Layanan Dialisis, KPCDI Desak Pemerintah Benahi Sistem
Hari Ini, Timnas Indonesia...
Hari Ini, Timnas Indonesia vs Australia Berebut Tiket Final di Piala AFF U-19 2026
Apa yang Terjadi Sehari...
Apa yang Terjadi Sehari Sebelum Kick-Off Piala Dunia 2026?
Berita Terkini
Catat! Minggu Ini Tidak...
Catat! Minggu Ini Tidak Ada CFD di Jalan Sudirman-Thamrin dan Rasuna Said
Puncak Musim Kemarau...
Puncak Musim Kemarau Agustus 2026, BMKG Ingatkan Dampak El Nino
The Banjoemas, Diplomasi...
The Banjoemas, Diplomasi Identitas Banyumas di Pusat Budaya Ibu Kota
Generasi Hijau dari...
Generasi Hijau dari Lereng Merapi: Pemuda Boyolali Pimpin Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
BMKG Ungkap Daftar Wilayah...
BMKG Ungkap Daftar Wilayah yang Bakal Alami Kemarau Panjang
Pemprov Papua Selatan:...
Pemprov Papua Selatan: PSN Wanam Buka Lapangan Pekerjaan dan Tingkatkan Kesejahteraan
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved