Dokter Siloam Hospitals Raih Dua Penghargaan MURI
Jum'at, 11 Desember 2020 - 20:55 WIB
loading...
Dokter Siloam Hospitals Raih Dua Penghargaan MURI. Foto/Ist
A
A
A
BOGOR - Museum Rekor Dunia Indonesia ( MURI ) memberikan penghargaan kepada dokter Siloam Hospitals Dr dr Made Agus Mahendra Inggas Sp BS FINPS.
Made Agus mendapat penghargaan sebagai dokter bedah saraf pertama di Indonesia yang berhasil melakukan operasi deep brain stimulation pada penyakit Tourrette Sindrome. Dia juga dapat penghargaan sebagai dokter bedah saraf pertama yang berhasil melakukan operasi stereotactic brain lesioning thalamotomy pada penyakit Epilepsi. (Baca juga: Wali Kota Balikpapan Resmikan Laboratorium PCR Siloam Hospital)
“Dalam menangani kedua penyakit ini, telah dilakukan berbagai metode pengobatan standar lainnya. Namun tidak ada yang menunjukan hasil signifikan. Sehingga akhirnya diputuskan untuk melakukan tindakan operasi stereotactic brain lesioning thalamotomy pada penyakit epilepsi dan operasi deep brain stimulation penyakit tourrette sindrome yang pertama kali di Indonesia,” jelas Made pada saat proses penyerahan penghargaan MURI di tengah acara webinar “Sharing Experience in High Grade Glioma” seperti siaran pers yang diterima SINDOnews, Jumat (11/12/2020). (Baca juga: Virtual Port Run and Ride Pelindo III 2020 Raih Dua Rekor Muri )
Operasi Stereotactic Brain Lesioning Thalamotomy pada penyakit Epilepsi dilakukan di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, pada November 2017. Sebelumnya sudah diusahakan dengan jenis pengobatan yang lain seperti obat-obatan, Operasi Vagus Nerves Stimulator, dan pemasangan implant.
Namun semuanya tidak berhasil, maka dari itu diputuskan untuk dilakukan tindakan yang lebih canggih lagi dengan Thalamotomy untuk operasi pada Epilepsi ini. Hasilnya jauh lebih baik dibanding dua pengobatan sebelumnya. Sejauh ini pasiennya sudah stabil, sudah tidak pernah kejang jatuh lagi, dan masih tetap dikontrol dengan obat-obatan.
Untuk penyakit Tourrette Sindrome merupakan penyakit dimana pasien memiliki dua gejala yaitu kadang berteriak kencang, nafas kencang, atau berbicara kasar tanpa disadari. Gejala yang kedua, pasien melompat tanpa bisa berhenti apalagi jika sedang dalam tekanan, dimana melompat merupakan gejala terberat dalam Tourrette Sindrome. Pengobatan melalui obat-obatan juga sudah dilakukan, namun tidak menunjukan hasil yang diharapkan.
Operasi Deep Brain Stimulation penyakit Tourrette Sindrome dilakukan di Siloam Hospitals Karawaci, Tanggerang, pada November 2018. Saat ini pasien sudah melanjutkan aktivitasnya sebagai mahasiswa di Yogyakarta, dengan kondisi stabil, dan sudah tidak menunjukkan gejala apapun lagi.
Made Agus mendapat penghargaan sebagai dokter bedah saraf pertama di Indonesia yang berhasil melakukan operasi deep brain stimulation pada penyakit Tourrette Sindrome. Dia juga dapat penghargaan sebagai dokter bedah saraf pertama yang berhasil melakukan operasi stereotactic brain lesioning thalamotomy pada penyakit Epilepsi. (Baca juga: Wali Kota Balikpapan Resmikan Laboratorium PCR Siloam Hospital)
“Dalam menangani kedua penyakit ini, telah dilakukan berbagai metode pengobatan standar lainnya. Namun tidak ada yang menunjukan hasil signifikan. Sehingga akhirnya diputuskan untuk melakukan tindakan operasi stereotactic brain lesioning thalamotomy pada penyakit epilepsi dan operasi deep brain stimulation penyakit tourrette sindrome yang pertama kali di Indonesia,” jelas Made pada saat proses penyerahan penghargaan MURI di tengah acara webinar “Sharing Experience in High Grade Glioma” seperti siaran pers yang diterima SINDOnews, Jumat (11/12/2020). (Baca juga: Virtual Port Run and Ride Pelindo III 2020 Raih Dua Rekor Muri )
Operasi Stereotactic Brain Lesioning Thalamotomy pada penyakit Epilepsi dilakukan di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, pada November 2017. Sebelumnya sudah diusahakan dengan jenis pengobatan yang lain seperti obat-obatan, Operasi Vagus Nerves Stimulator, dan pemasangan implant.
Namun semuanya tidak berhasil, maka dari itu diputuskan untuk dilakukan tindakan yang lebih canggih lagi dengan Thalamotomy untuk operasi pada Epilepsi ini. Hasilnya jauh lebih baik dibanding dua pengobatan sebelumnya. Sejauh ini pasiennya sudah stabil, sudah tidak pernah kejang jatuh lagi, dan masih tetap dikontrol dengan obat-obatan.
Untuk penyakit Tourrette Sindrome merupakan penyakit dimana pasien memiliki dua gejala yaitu kadang berteriak kencang, nafas kencang, atau berbicara kasar tanpa disadari. Gejala yang kedua, pasien melompat tanpa bisa berhenti apalagi jika sedang dalam tekanan, dimana melompat merupakan gejala terberat dalam Tourrette Sindrome. Pengobatan melalui obat-obatan juga sudah dilakukan, namun tidak menunjukan hasil yang diharapkan.
Operasi Deep Brain Stimulation penyakit Tourrette Sindrome dilakukan di Siloam Hospitals Karawaci, Tanggerang, pada November 2018. Saat ini pasien sudah melanjutkan aktivitasnya sebagai mahasiswa di Yogyakarta, dengan kondisi stabil, dan sudah tidak menunjukkan gejala apapun lagi.
Lihat Juga :