Antisipasi Krisis Pangan, Ridwan Kamil Minta Perbankan Genjot Kredit Pertanian

Kamis, 10 Desember 2020 - 17:29 WIB
loading...
Antisipasi Krisis Pangan,...
Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan Kepala Kantor Bank Indonesia Jawa Barat Herawanto pada pembukaan West Java Food & Agriculture Summit 2020 yang digelar Bank Indonesia di Kota Bandung, Kamis (10/12/2020). Foto/SINDOnews/Arif Budianto
A A A
BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta perbankan ikut terlibat mengantisipasi terjadinya kritis pangan dengan lebih ekspansif menyalurkan pembiayaan sektor pertanian.

Langkah tersebut diharapkan mendorong produktivitas sektor pertanian di Jabar. Menurut dia, produktivitas sektor pertanian khususnya Jawa Barat masih rendah.

Ini terlihat dari masih bergantungnya Indonesia terhadap produk pertanian impor. Sementara, bukan tidak mungkin pada tahun depan Jawa Barat akan krisis pangan akibat dikuranginya volume ekspor pangan dari sejumlah negara seperti Vietnam.

"Perbankan harus mendukung penuh revolusi pangan," kata Emil saat meluncurkan West Java Food & Agriculture Summit 2020 yang digelar Bank Indonesia di Kota Bandung, Kamis (10/12/2020).

Emil meminta perbankan agar lebih aktif turun ke kawasan pertanian untuk memberi pinjaman modal bagi petani. Jangan ada lagi, kata dia, petani sulit untuk mendapat pinjaman modal dari perbankan.

Sehingga, tambah dia, tidak mengherankan jika petani menjadi sasaran empuk para rentenir. "Padahal bagi mereka besaran bunga nggak masalah. Yang jadi masalah kemudahan aksesnya," kata dia.

Menurut dia, rendahnya produktivitas pangan di Jabar salah satunya karena semakin sedikitnya jumlah petani. Menurut dia, saat ini 75% petani sudah berusia di atas 45 tahun. Sementara anak-anak muda tidak ingin menjadi petani.

Oleh karenanya, pihaknya menggagas program 1.000 petani milenial untuk menumbuhkan minat bertani di kalangan anak muda.

Nantinya, petani muda akan diberi lahan untuk digarap menjadi kawasan pertanian. Lahan yang tidak terpakai milik pemda, akan dipinjamkan kepada petani milenial 1 hektare per orang

Sementara itu, Kepala Kantor Bank Indonesia Jawa Barat Herawanto mengatakan, potensi krisis pangan global meningkat akibat perubahan kondisi makroekonomi, lingkungan, energi, harga input, serta harga pasar.

Kondisi itu mempengaruhi jumlah produksi pangan global, ditambah dengan kendala distribusi akibat kebijakan pembatasan dalam rangka pengendalian pandemi.

"Sektor pertanian penting sebagai salah satu sektor ekonomi yang diprioritaskan untuk segera dipulihkan karena merupakan penyumbang ekonomi terbesar ke-3 di Jawa Barat setelah industri pengolahan dan perdagangan. Di mana, sektor tersebut menunjukkan trend pertumbuhan meningkat," papar dia.

(Baca juga: Miris! Nilai Tukar Petani Turun, Ancaman Krisis Pangan di Depan Mata)

Di masa pandemi, kata Herawanto, sektor ini bahkan menjadi salah satu sektor yang masih mampu tumbuh positif. Pada 2021 mendatang, kinerja sektor pertanian tentunya harus terus diusahakan tetap terjaga.

Dalam rangka memitigasi risiko krisis pangan global, kata dia, perlu mengambil langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan.

(Baca juga: Hampir Overload, Bandung Tambah Ruang Isolasi COVID-19 di Supratman dan Setiabudhi)

Mulai dari mendorong kualitas dan produktivitas produksi pertanian melalui berbagai penggunaan teknologi, menjaga kelancaran distribusi pangan, menjaga stok pangan yang mencukupi kebutuhan konsumsi, dan menjaga inflasi pangan agar terkendali dan stabil.
(boy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
LAZ Abulyatama Indonesia...
LAZ Abulyatama Indonesia Resmikan Cabang LPP Jawa Barat
Sinergi Pemprov DKI...
Sinergi Pemprov DKI dan BI, Inflasi Jakarta Melandai pada Mei
Rifqi Ali Mubarok, Sosok...
Rifqi Ali Mubarok, Sosok di Balik Misi Besar Partai Perindo di Jawa Barat
Hadapi Musim Kemarau,...
Hadapi Musim Kemarau, Petani Jabar Ikuti Edukasi Pentingnya Perubahan Pola Budidaya
Kolaborasi Pemprov dan...
Kolaborasi Pemprov dan BI Jakarta Dorong Industri Film sebagai Pertumbuhan Ekonomi Baru
Jawa Barat Diprediksi...
Jawa Barat Diprediksi Hujan Sangat Lebat hingga 4 Mei 2026, Rawan Banjir
Bidik Pasar Indonesia...
Bidik Pasar Indonesia Timur, Jafran Indonesia Kenalkan JR 737 di PENAS XVII
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Pembelian Dolar AS Diperketat,...
Pembelian Dolar AS Diperketat, BI Batasi Transaksi USD10 Ribu Mulai Juli 2026
Rekomendasi
Mahasiswa Tetap Turun...
Mahasiswa Tetap Turun ke Jalan meski Banyak Aktivis Masuk Pemerintahan, Ini Analisis Ubedilah Badrun
Potensi Gula Non-Tebu...
Potensi Gula Non-Tebu yang Dianaktirikan
Industri Herbal Andalkan...
Industri Herbal Andalkan Figur Publik Perkuat Kepercayaan Konsumen
Berita Terkini
Gempa Magnitudo 4,1...
Gempa Magnitudo 4,1 Kembali Guncang Sigi, BMKG Catat 1.163 Gempa Susulan Pascagempa M6,7
Kasus Pemuda Tewas di...
Kasus Pemuda Tewas di Selokan Mustikajaya: 4 Orang Ditangkap, Motif Digali Polisi
Dukung Rumah Pastori...
Dukung Rumah Pastori GPdI Eklesia Amban, Kemenag Komitmen Pembangunan Sarana Keagamaan
Aktivitas Gunung Anak...
Aktivitas Gunung Anak Krakatau Meningkat, Masyarakat Diimbau Waspada
Pemerintah Paksa Daerah...
Pemerintah Paksa Daerah Hentikan Open Dumping Sampah dengan Skema Stick and Carrot
Data BNPB: Karhutla...
Data BNPB: Karhutla di 2 Provinsi Hanguskan 8,3 Hektare Lahan
Infografis
Rakyat Swiss Minta Pembelian...
Rakyat Swiss Minta Pembelian 36 Jet Tempur F-35 AS Dibatalkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved