Malam di Dolly dan Kerlip Rezeki yang Abadi

Selasa, 17 November 2020 - 08:09 WIB
loading...
A A A
Riswan (42) masih sibuk membuatkan kopi kepada pelanggannya yang duduk di bangku belakang coffe shop miliknya yang dicat dominan warna hitam doff. Di tengah pandemi Covid-19, ia mengubah banyak tempat duduk untuk lebih berjarak. Tempat cuci tangan juga disediakan dengan stiker besar di ujung pintu yang mewajibkan semua pelanggannya untuk memakai masker. “Masih ada saja pelanggan, kami di sini tak pernah takut sepi,” katanya. (Baca juga: Tips Mudah Mengelola Hipertensi)

Khotimah (47) salah satu pedagang nasi di Warung Bu Jum Dolly, juga masih sibuk dengan parutan kelapa dan lembaran daun pisang. Tangannya lincah mencomot berbagai bahan dapur untuk segera diolah menjadi kare kepiting yang hangat di malam hari. Selepas senja, para pelanggannya akan datang menyerbu untuk bisa duduk berdekatan sambil menyantap hidangan kepiting yang selama ini menjadi menu andalannya.

Ia menjelaskan, sudah sekitar delapan tahun yang lalu keluarganya membuka usaha warung tersebut. Setiap hari warungnya buka selama 24 jam untuk melayani warga Surabaya maupun luar kota yang ingin merasakan masakan khas Dolly. Selain kare kepiting, berbagai jenis olahan masakan lain juga tersedia di warung makan ini seperti rawon, sup buntut, kare ayam, cumi, dan lalapan.

“Tapi, yang biasanya cepat habis itu kare kepiting. Tapi, untuk kare kepiting tidak setiap hari ada, karena harus menyesuaikan stoknya dan pasokan di warung kami,” ujarnya.

Satu porsi kare kepiting, dia mematok harga Rp30.000. Setiap hari, keluarganya memasak nasi sebanyak 25 kilogram yang dibantu dengan tiga orang pelayan. Jumlah itu bisa bertambah dua kali lipat ketika ada pesanan dadakan yang kerap datang ke warungnya. (Baca juga: Indonesia Harus Tetap Optimistis Atasi Resesi Ekonomi)

Setiap hari, ia bisa meraup keuntungan Rp4 juta. Belum lagi ditambah dengan pesanan dari luar yang juga terus berdatangan. Di bekas kawasan “zona merah” itu, jalan rezeki masyarakat masih bisa terjaga setelah lokalisasi Dolly resmi ditutup.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menuturkan, keputusan terbesar dan terberat selama dirinya menjadi wali kota adalah menutup lokalisasi Dolly. Semua keberanian dan keyakinan mengiringi proses penutupan lokalisasi Dolly. Baginya, penutupan lokalisasi itu merupakan langkah yang berat dan berisiko. Namun, seiring dengan keberanian dan dukungan dari berbagai pihak, ia berhasil melewati prahara tersebut. “Saya sampai mendapat ancaman pembunuhan setiap hari. Saya bersyukur bisa melewati semua itu,” jelasnya.

Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini kembali mengungkapkan alasan menutup kawasan yang dulunya menjadi tempat lokalisasi. Bagi Risma, tidak ada tujuan lain saat ia menutup kawasan ini hanya untuk menyelamatkan masa depan anak-anak.

“Banyak teror yang saya terima dulu ketika menutup Dolly. Terima kasih kepada warga Putat Jaya. Saya juga mohon maaf terpaksa dulu saya harus menutup kawasan ini. Karena saya melihat masa depan anak-anak akan terganggu kalau kondisinya seperti itu,” katanya. (Baca juga: Permintaan Pembiayaan dari Korporasi Meningkat)

Risma pun mengakui saat itu sangat berat mengambil keputusan. Namun, hal itu harus dilakukannya untuk menyelamatkan anak-anak Surabaya. Bahkan, ia mengaku mendapat berbagai ancaman saat akan menutup kawasan lokalisasi ini kala itu. “Meski saat itu berat sekali untuk saya menutup, yakinlah ini untuk masa depan anak-anak, tidak ada hal lain kecuali itu,” tandasnya.

Perjalanan waktu mengubah wajah Dolly. Eks lokalisasi Dolly kini telah menjelma menjadi salah satu sentra UMKM di Surabaya. Produk dari warga di eks lokalisasi Dolly ini pun telah memasuki berbagai pangsa pasar.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pemkot Surabaya Dukung...
Pemkot Surabaya Dukung Pordi Jatim Bikin Turnamen Domino Lebih Besar
Bertemu Komisi B DPRD...
Bertemu Komisi B DPRD Surabaya, Unicomindo Curhat Tagih Utang Pemkot Rp104 Miliar
DPRD Surabaya Akan Gelar...
DPRD Surabaya Akan Gelar Rapat Sengketa Sampah Pemkot dengan Swasta
Kalah Gugatan Kontrak...
Kalah Gugatan Kontrak Sampah, Pemkot Surabaya Dihukum Bayar Utang Rp104 Miliar
Program MBG, Koperasi...
Program MBG, Koperasi Merah Putih, hingga Pemberdayaan UMKM Dorong Ketahanan Ekonomi
Pemkot Surabaya Gandeng...
Pemkot Surabaya Gandeng BRIN Kembangkan Kebun Raya Mangrove Jadi Sumber Alternatif Pangan
Mendagri dan Menteri...
Mendagri dan Menteri PKP Tinjau MPP Kota Surabaya, Pastikan Pelayanan Berjalan Optimal
Surabaya Deklarasikan...
Surabaya Deklarasikan Sekolah Ramah Anak Sejak 2019, Terapkan Pendidikan Karakter dan Anti-Bullying
Wali Kota Surabaya Bersama...
Wali Kota Surabaya Bersama Jajaran Segel Gudang UD Sentosa Seal
Rekomendasi
Kesepakatan Iran Mencakup...
Kesepakatan Iran Mencakup Dana Rp5.327 Triliun, Setengahnya Sudah Jadi Komitmen
Cornelio Sunny Ungkap...
Cornelio Sunny Ungkap Alasan Somasi Keluarga Ratu Sofya, Singgung Pelanggaran Privasi
Kapolda Riau Gaungkan...
Kapolda Riau Gaungkan Polisi Penjaga Peradaban di Dies Natalis Ke-80 STIK Polri
Berita Terkini
6 Fakta Gempa Kerak...
6 Fakta Gempa Kerak Dangkal M6,7 di Jalur Sesar Aktif Sulawesi Tengah
Gading Serpong Perkuat...
Gading Serpong Perkuat Posisi sebagai Koridor Komersial
Little Star Fun Run...
Little Star Fun Run di Surabaya, Ajang Lari Anak Tumbuhkan Kepercayaan Diri
Tiyo Ardianto Dilaporkan...
Tiyo Ardianto Dilaporkan ke Polres Tangsel, Pelapornya Pernah Ngaku-ngaku Punya Gunung Parung
Aliansi Masyarakat Jakarta...
Aliansi Masyarakat Jakarta Timur Minta Program MBG Dilanjutkan
Polisi Persilakan Tiyo...
Polisi Persilakan Tiyo Ardianto Bikin Laporan Dugaan Temuan Alat Pelacak di Mobil
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved