Pemimpin Perempuan yang Sukses Tangani Covid-19 di Tiga Negara
Kamis, 16 April 2020 - 07:02 WIB
loading...
A
A
A
“Mungkin kekuatan terbesar di Jerman adalah membuat keputusan secara rasional pada tataran tertinggi pemerintahan dan dikombinasikan kepercayaan kepada pemerintah yang tinggi,” kata Hans-Georg Kräusslich, kepala divisi virologi di Universitas Rumah Sakit di Heiderlberg, kepada New York Times.
Sementara itu, PM Selandia Baru Jacinda Ardern langsung menutup perbatasan Selandia Baru bagi wisatawan asing sejak 19 Maret dan mengumumkan isolasi wilayah selama empat pekan pada 23 Maret. Dia meminta warga tetap bertahan di rumah, kecuali pekerja medis dan keamanan. Pengujian Covid-19 juga dilaksanakan secara massal. Selandia hanya mencatat 1.300 kasus dan 9 kematian. “Menghadapi ancaman terbesar bagi kesehatan manusia, kita melihat Negeri Kiwi itu benar-benar tenang dan mengimplementasikan tembok perbatasan negara,” katanya.
Selain tiga negara tersebut, lima negara Skandinavia lainnya juga dipimpin perempuan. Negara tersebut memiliki tingkat kematian yang rendah karena virus korona. Misalnya PM Finlandia Sanna Martin, 34, pemimpin termuda di dunia dengan tingkat popularitas hingga 85%, mampu menyiapkan negaranya menghadapi pandemi dengan korban 59 orang meninggal. PM Islandia Katrín Jakobsdóttir yang mengatur 360.000 penduduk juga dipuji karena mampu mengatasi penyebaran virus korona. Dia melakukan pengujian massal dan pelacakan pasien serta karantina.
Apakah pemimpin perempuan lebih dibutuhkan? Hanya, terlalu dini untuk mengatakan bahwa pemimpin perempuan bisa mengatasi masalah virus korona. Dalam catatan Inter-Parliamentary Union dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 10 dari 152 pemimpin negara adalah perempuan. Parlemen di dunia dikuasai 75% lelaki, 73% lelaki menguasai keputusan manajerial, dan 76% lelaki bekerja di industri media utama.
“Kita menciptakan dunia di mana perempuan hanya menguasai 25% atau seperempat pada ruangan baik fisik dan cerita di media. Seperempat saja tidak cukup,” kata Direktur Eksekutif Perempuan PBB Phumzile Mlambo-Ngcuka. Sejak dulu, dunia membutuhkan lebih banyak perempuan kuat dan kesetaraan perempuan di semua tingkatan politik.
Sumbang 20% Gaji
Adapun, PM Jacinda Ardern dan seluruh menteri New Zelanad atau Selandia Baru dipotong gajinya 20 persen untuk enam bulan ke depan. Keputusan ini untuk mencerminkan kondisi ekonomi yang sulit selama pandemi virus corona.
PM Ardern mengumumkan bahwa kabinetnya akan menerima pemotongan gaji tersebut. “Saya benar-benar menerima ini," katanya. "Bagi kami ini tentang kepemimpinan,” katanya lagi, Rabu (15/4/2020). “Ini merupakan pengakuan atas pukulan yang diterima banyak warga Selandia Baru saat ini,” paparnya, seperti dikutip news.com.au. Pemotongan gaji akan memengaruhi setiap menteri, serta kepala eksekutif dalam pelayanan publik.
Sementara itu, PM Selandia Baru Jacinda Ardern langsung menutup perbatasan Selandia Baru bagi wisatawan asing sejak 19 Maret dan mengumumkan isolasi wilayah selama empat pekan pada 23 Maret. Dia meminta warga tetap bertahan di rumah, kecuali pekerja medis dan keamanan. Pengujian Covid-19 juga dilaksanakan secara massal. Selandia hanya mencatat 1.300 kasus dan 9 kematian. “Menghadapi ancaman terbesar bagi kesehatan manusia, kita melihat Negeri Kiwi itu benar-benar tenang dan mengimplementasikan tembok perbatasan negara,” katanya.
Selain tiga negara tersebut, lima negara Skandinavia lainnya juga dipimpin perempuan. Negara tersebut memiliki tingkat kematian yang rendah karena virus korona. Misalnya PM Finlandia Sanna Martin, 34, pemimpin termuda di dunia dengan tingkat popularitas hingga 85%, mampu menyiapkan negaranya menghadapi pandemi dengan korban 59 orang meninggal. PM Islandia Katrín Jakobsdóttir yang mengatur 360.000 penduduk juga dipuji karena mampu mengatasi penyebaran virus korona. Dia melakukan pengujian massal dan pelacakan pasien serta karantina.
Apakah pemimpin perempuan lebih dibutuhkan? Hanya, terlalu dini untuk mengatakan bahwa pemimpin perempuan bisa mengatasi masalah virus korona. Dalam catatan Inter-Parliamentary Union dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 10 dari 152 pemimpin negara adalah perempuan. Parlemen di dunia dikuasai 75% lelaki, 73% lelaki menguasai keputusan manajerial, dan 76% lelaki bekerja di industri media utama.
“Kita menciptakan dunia di mana perempuan hanya menguasai 25% atau seperempat pada ruangan baik fisik dan cerita di media. Seperempat saja tidak cukup,” kata Direktur Eksekutif Perempuan PBB Phumzile Mlambo-Ngcuka. Sejak dulu, dunia membutuhkan lebih banyak perempuan kuat dan kesetaraan perempuan di semua tingkatan politik.
Sumbang 20% Gaji
Adapun, PM Jacinda Ardern dan seluruh menteri New Zelanad atau Selandia Baru dipotong gajinya 20 persen untuk enam bulan ke depan. Keputusan ini untuk mencerminkan kondisi ekonomi yang sulit selama pandemi virus corona.
PM Ardern mengumumkan bahwa kabinetnya akan menerima pemotongan gaji tersebut. “Saya benar-benar menerima ini," katanya. "Bagi kami ini tentang kepemimpinan,” katanya lagi, Rabu (15/4/2020). “Ini merupakan pengakuan atas pukulan yang diterima banyak warga Selandia Baru saat ini,” paparnya, seperti dikutip news.com.au. Pemotongan gaji akan memengaruhi setiap menteri, serta kepala eksekutif dalam pelayanan publik.
Lihat Juga :