Pekik Bung Tomo, Agitasi Sungkono dan Jembatan Merah Penuh Darah

Selasa, 10 November 2020 - 09:30 WIB
loading...
Pekik Bung Tomo, Agitasi...
Hotel Yamato menjadi saksi bisu pertumpahan darah di 10 Nopember ketika arek-arek Suroboyo berperan tanpa lelah melawan sekutu.
A A A
SURABAYA - Perjuangan tak hanya hadir dalam lintas sejarah yang terlupa. Anak-anak muda dengan segala siasat dan keterbatasan di tahun 1945 mampu mengecoh sekutu, menempatkannya pada pertempuran yang tak akan pernah terlupa. Dengan darah dan airmata mereka meninggalkan Surabaya.

Suara senapan masih mengema. Darah arek-arek Surabaya sudah mendidih di sepanjang petang sampai dini hari, pada 9 November 1945. Mereka berkumpul, membunuh dinginnya malam sambil menunggu seruan untuk bergerak. Dari perkampungan kecil, berbagai pasang mata tetap terjaga. Meunggu tank lewat dan menyergapnya dengan kilat.

Kolonel Sungkono, seorang pria yang waktu itu masih berusia 31 tahun masuk ke kampung-kampung untuk mengumpulkan pejuang. Mereka diajak berkumpu di ujung pintu Markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Jalan Pregolan 4, Surabaya. (Baca juga: Ratusan Warga Lereng Bromo Terpaksa Konsumsi Air Hujan )

Tidak ada satu pun senyum yang keluar dari Sungkono. Matanya melipat elang, menatap serangkaian pasang mata dari arek-arek Suroboyo yang sudah menunggunya dengan gelisah dan keringat yang masih bercampur dengan darah di peluh.

"Saudara-saudara, saya ingin mempertahankan Kota Surabaya. Surabaya tidak bisa kita lepaskan dari bahaya ini. Kalau saudara-saudara mau meninggalkan kota, saya juga tidak menahan, tapi saya akan mempertahankan kota sendiri,” kata Sungkono pada arek-arek Suroboyo dengan kedalaman suaranya seperti dikutip dari Surabaya 1945: Sakral Tanahku.

Arek-arek Surabaya bersandar di puning-puing bangunan yang sudah hancur terkena mortir. Para pejuang muda Surabaya seperti membeku mendengar pidato Sungkono. Kata-kata itu menusuk pikiran mereka, menyulut bara perjuangan yang sudah terbakar. Membuat bulu bergidik. Darah mereka semakin mendidik, menciptakan api dalam sekam yang membara tanpa ada arah.(Baca juga: Khofifah Resmikan Command Center dan International Training Class di BPSDM Jatim )

Mereka tak mau pergi, masih duduk dengan kepala panas yang siap menumpahkan lahar Semeru pada kolonial. Arek-arek Suroboyo memilih untuk berperang bersama Sungkono, Komandan BKR Kota Surabaya ketika peristiwa 10 November 1945.

Informasi berperang langsung menyebar. Arek-arek Suroboyo terus berkumpul, Sungkono yang begitu piawai di lapangan merangkul semua pejuang. Melontarkan beberapa kata penyemangat, bekal pertarungan di medan tempur. Meletakan siasat dalam mempertahankan kota untuk terus berjuang melawan Inggis dan Belanda.



Pikiran Sungkono sejak sore terpecah. Ia berhadapan dengan musuh yang kuat, dan dirinya harus memastikan keamanan seisi kota. Memastikan keselamatan keluarga pejuang. Ultimatum sempat disampaikan Mayor Jenderal Mansergh yang berkoar membawa puluhan ribu pasukan Inggris yang siap meratakan Surabaya.

Segala taktik perang dan kepemimpinan Sungkono berhasil menguatkan kembali barisan perjuangan yang sempat kendur. Tak ada yang mati sia-sia di medan perang. Barisan perjuangan itu lah yang berhasil memukul mundur tentara sekutu yang sempat membombardir Surabaya dari berbagai lini.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Peringati Hari Pahlawan,...
Peringati Hari Pahlawan, Kogabwilhan III Gelar Trisula Heroes Run 2025
Peringati Hari Pahlawan,...
Peringati Hari Pahlawan, 5 Ton Sampah di Pulau Kasam Dibersihkan
Kisah Bung Tomo Mengenyam...
Kisah Bung Tomo Mengenyam Pendidikan di Sekolah Elite Belanda, Keluarganya Ternyata Pejabat Polisi
Kisah Marsinah, Aktivis...
Kisah Marsinah, Aktivis Buruh Asal Nganjuk yang Jadi Pahlawan Nasional
Kisah Bung Tomo, Tokoh...
Kisah Bung Tomo, Tokoh Pertempuran Surabaya 10 November 1945 yang Hidup Religius dan Dekat dengan Kiai
Kisah Pidato Menggelegar...
Kisah Pidato Menggelegar Bung Tomo Kobarkan Semangat Juang Arek-arek Surabaya Hadapi Tentara Sekutu
Bahlil Soal Masih Ada...
Bahlil Soal Masih Ada Penolakan Gelar Pahlawan Soeharto: Mudah-mudahan Mereka Bisa Ikhlaskan
Rahmah El Yunusiyyah...
Rahmah El Yunusiyyah sang Pahlawan Nasional
Ridwan Bae: Warisan...
Ridwan Bae: Warisan Soeharto Tetap Relevan, dari Infrastruktur hingga Stabilitas Nasional
Rekomendasi
Wasit Resmi Piala Dunia...
Wasit Resmi Piala Dunia 2026 Ditolak Masuk AS, Komentator Bola Simon Jordan Malah Bikin Geram
Harga BBM Makin Mahal,...
Harga BBM Makin Mahal, Beban Bisnis Logistik Bakal Tambah Berat
Israel Serang Kota di...
Israel Serang Kota di Lebanon yang Namanya Disebut dalam Alkitab
Berita Terkini
Perindo Sulut Rampungkan...
Perindo Sulut Rampungkan Struktur Kecamatan, Bidik 3 Kursi DPRD
Pramono Perintahkan...
Pramono Perintahkan Investigasi Kasus Pemotongan Kabel Lift JPO Lenteng Agung
Selain Resmikan RSUD,...
Selain Resmikan RSUD, Prabowo Diagendakan Menghadiri Munas Hipmi di Lampung
POCE JOBFAIR 2026 di...
POCE JOBFAIR 2026 di UPN Veteran Yogya Hadirkan Ribuan Peluang Karier
Gunung Lewotobi Laki-laki...
Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi, Kolom Abu Capai 1.000 Meter di Atas Puncak
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved